Catatan Silat SEA Games XXVI
Aksi kurang terpuji yang dilakukan pesilat Indonesia Dian Kristanto saat final pencak silat di SEA Games XXVI/2011 antara Indonesia melawan Thailand, menuai banyak kecaman.
Tidak hanya dari pihak Thailand yang merasa dirugikan, sejumlah warga Indonesia melalui jejaring sosial twitter juga mengecam gaya bertanding Dian yang dianggap sangat memalukan.
“Indonesia boleh rebut 100an lebih emas. Yang jelas Satu emas dari dian kristanto dr hasil petak umpet di pencaksilat kita tak layak,” demikian tulis Rizal Adi Prima dalam akun twitter nya @rajawali_muda.

“itu silat apa lomba lari? pake acara gigit bahu segala,” ledek akun @isnan_gembhel. “DIAN KRISTANTO BIKIN MALU INDONESIA! PENGECUT!” maki akun @BigGuzz. “Pesilat Dian Kristanto menghina warisan budaya Indonesia,” tulis akun @Papi_Ardi
(lagi…)
Catatan Jurnas pencak silat Seni 2005 – Cibubur
Pencak silat memang cukup diminati oleh bangsa lain ini bisa kami lihat dari antusiasnya beberapa pesilat yang hadir dalam setiap kegiatan nasional baik kejuaraan maupun dalamkegiatan pencak silat seni.
Seperti pada kegiatan pencak silat seni yang berlangsung pada waktu lalu, dimana beberapa perguruan pencak silat dari seluruh nusantara hadir untuk unjuk kebolehan dengan menampilkan seni khas perguruan maupun alirannya masing-masing. (lagi…)
Meneropong Perkembangan Silat
Hujan baru saja turun membasahi sebagian wilayah jakarta, udara sejuk malam ini membuat kami sedikit bersemangat untuk berbincang-bincang santai dengan beberapa orang anggota komunitas sahabat silat. Tidak ada pembicaraan yang serius hanya saja saya dan kawan-kawan mencoba menerka-nerka atau istilah kerennya “meneropong” tanpa ada alat bantu sehingga terkesan lebih mengarah pada kata “menerawang”.
Sejak hadirnya FP2ST dengan debutnya pertama kali tahun 2006, komunitas Silat seolah mendapatkan angin segar dengan nuansa yang lebih kompromi karena umumnya anggota komunitas itu sendiri memiliki cita-cita yang sangat mulia. Gelaran acara bahkan ide – ide cemerlang menyeruak menembus batas tanpa ragu-ragu, perjuangan inilah yang disebut dengan semangat komunitas, dimana setiap anggota memiliki visi dan misi yang sama tidak lagi memandang siapa dan apa yang dikerjakan, semua berbaur menjadi satu tujuan yang mulai dan besar.
TOP 1 Oli Sintetik Mobil-Motor Indonesia

Wow…baru kali ada dunia persilatan mengikuti kontes SEO, bukan karena apa, kita juga ingin saling berbagi dengan temen-temen yang hobi Motor dan Mobil agar mereka juga mengenal yang namanya dunia persilatan. Secara teknis memang tidak ada hubungannya akan tetapi di dunia maya semua tidak bisa dibatasi.
Mengenai Oli yang satu ini kita kenal sebagai Oli yang dibuat di USA dan sangat bagus buat motor metik, dari beberapa nara sumber di Televisi TOP 1 Oli Sintetik Mobil-Motor Indonesia merupakan Oli yang sangat bagus dengan teknologi SYNGEN 2000 bahan dasar pelumas TOP 1 di proses, sehingga menghasilkan base oil sintetik yang murni. Selain itu, TOP 1 juga merupakan produk pelumas yang paling sulit di palsukan di dunia, karena memiliki tim khusus untuk pengamanan anti palsu dan perlindungan konsumen.
Nah bagi pesilat neh, yang punya motor bisa coba oli ini, Oli tangguh ini setangguh pesilat pada umumnya. kita juga berharap SEO ini juga bermanfaat bagi kita semua.
Salam
Masih pakai “tenaga dalam”
Masih pakai “tenaga dalam”
AGAKNYA tak ada hari dalam kejuaraan nasional pencak silat di Jakarta pekan silam berlalu tanpa protes. Mengapa? “Jurinya tidak jujur,” ucap manajer tim Aceh, S. Trisna. Ia memprotes keputusan pimpinan pertandingan ketika pesilat asuhannya, Ramli, dinyatakan kalah angka (14) atas Amrullah dari NTB. Ramli sempat menjatuhkan Amrullah 2 kali di ronde ke-3, katanya, maka jelas lebih unggul ketimbang lawannya yang cuma banyak ‘mencolek’. Sebaliknya di mata juri, walau Amrullah tak tampil sekarang Ramli, pukulannya banyak menghasilkan angka. “Colek-colek sekalipun, kalau itu biji, dicatat,” kata Sekjen IPSI, Harsoyo. Juga kekalahan pesilat puteri Rosiana telah menimbulkan protes tim Sumatera Selatan. Juri menyatakan Rosiana kalah melawan Yusni Haryani dari Aceh. Untuk setiap pertandingan wasit dibantu oleh 5 orang juri sebagai pemberi angka. Seorang wasit nasional — tak mau ditulis namanya — tampak meragukan kejujuran beberapa juri tersebut. Terutama bila yang bertanding adalah pesilat satu aliran dengan mereka, sekalipun berasal dari daerah lain. (lagi…)
Bukan Tipu, Bukan Trik, Tapi Debus
Bukan Tipu, Bukan Trik, Tapi Debus
DI pelosok Pulau Simeulue, Kabupaten Aceh, permainan debus tigak hanya populer, tapi merupakan simbol kejantanan di kalangan pemuda. Adalah sangat memalukan kalau seorang remaja setempat tak mampu naik panggung sembari menikam bagian tertentu tubuhnya dengan pisau. Debus adalah tontonan yang memiliki nomor-nomor atraksi ajaib. Seperti: potong lidah dan operasi perut dengan golok, memasak di atas kepala, makan bola lampu, dikubur hidup-hidup. Permainan ini sering dianggap berasal dari daerah Banten Jawa Barat. Tetapi menurut Kepala Deparda Kabupaten Serang, kesenian debus mula-mula dikenal di Aceh. Kemudian mengalir ke Demak, Cirebon dan baru Banten — sesuai dengan urutan masuknya pengaruh agama Islam. Kata debus diambil dari instrumen GEDEBUS yang dipergunakan dalam pertunjukan itu. (lagi…)
Suara panglima, keinginan pendekar
Suara panglima, keinginan pendekar
PENCAK silat lagi dapat angin. Adalah pencak silat yang dijadikan olahraga bela diri resmi oleh Panglima Mayjen Ismail, terutama untuk Kodam VII. Kurang jelas bagaimana kaitannya sampai bapak angkat pencak silat Ja-Teng dan Yogyakarta itu meresmikannya. Entah karena hari-hari itu dalam suasana HUT IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia). IPSI lahir dalam Mei 1948. Atau karena Ketua Harian PB IPSI, Eddi M. Nalapraya, telah menjalin kontak dengan cabang olahraga beladiri lain yang dianggap “barang impor”. PB IPSI telah membentuk Badan Kontak Olahraga Bela Diri. Malah Ketua Umum IPSI (Gubernur DKI) Tjokropranolo memimpin apel (31 Mei) bersama 6.000 atlet pencak silat, karate, judo, gulat, tinju (amatir), kempo dan taekwondo yang tergabung dalam badan kontak ini. Panglima Ismail menolak diwawancara dalam hal ini. Agaknya ia enggan bentrok pendapat dengan sesama rekan jenderal yang jadi ketua olahraga bela diri jenis “impor”. Yang jelas di Gedung Panti Marhaenis Semarang (20 Mei) ia berkata, “Pukulan sasa danajinomoeo lebih menonjol di Indonesia. Saya kadang-kadang menangis melihat kenyataan itu. Kita pro patria (demi ibu pertiwi), tapi mengapa kiblat kita nun jauh ke sana.” Memang judo, jujitsu, karate, taekwondo, kempo yang masuk ke Indonesia banyak menyaingi perkembangan olahraga bela diri tradisional pencak silat. Alasan memang banyak. Seorang guru besar karate M. Nakayama, yang telah beberapa kali berkunjung ke Indonesia pernah mengatakan, “pencak silat dapat berkembang pesat, bahkan ke luar negeri, bila sudah mempunyai sistem pertandingan yang berstandar internasional. Karate pun sebelum keluar dari Jepang demikian. ” Pencak silat pernah memang menurut sejarah berkembang di zaman Sriwijaya dan Majapahit. Kemudian dalam zaman Belanda pencak silat terpojok dalam banyak kelompok kecil. Pendekar berlatih dengan sembunyi, malah sempat perguruan tertentu menutup diri terhadap perguruan lain di zaman kemerdekaan. Untung IPSI, sejak dipimpin Mr. Wongsonegoro sebelum digantikan Tjokropranolo tahun 1977, berusaha menciutkan banyak aliran jadi 10 Besar. IPSI juga telah memprakarsai Persilat — Persatuan Pencak Silat Antar Bangsa — bersama Singapura, Malaysia dan Brunei Sedianya Thailand dan Filipina ikut, tapi ketika wadah itu terbentuk (September 1979), keduanya berhalangan. Persilat belum sanggup menciptakan suatu sistem pertandingan, sehingga batal di SEA Games Jakarta tahun itu juga. Namun penggemar pencak silat sudah berkembang sampai di Nederland, Jerman Barat, Belgia, Luxemburg, Prancis, Inggris, Denmark, Suriname, AS, Arab Saudi, Australia dan Selandia Baru. Sementara ini banyak perguruan bela diri kung-fu telah bernaung pula dalam IPSI. Kao San Shao Lim ganti nama tahun 1977 jadi Teratai Besi, sedang Kwan Tao barusan jadi Perguruan Silat Gerak Langit. Di Jakarta kini sudah 21 perguruan kung-fu masuk IPSI. Toh kelemahan dan tantangan yang harus diatasi IPSI masih banyak. Di KONI Ja-Teng masih ada yang ragu-ragu mengembangkan pencak silat. “Pencak Silat dikaitkan dengan politik,” keluh Ranawijaya, Ketua IPSI Kudus. Karena umumnya pencak silat pakai rapal dari Al Quran, ada yang berpendapat, “silat adalah olahraga bela diri P3 (Partai Persatuan Pembangunan). Menjelang pemilu ini, saya tak berani menggerakkannya besar-besaran,” ujar Ranawijaya lagi. Ketua KONI Ja-Teng, Abdulkadir SH jadi rikuh dengan pendapat Panglima Ismail. “Sudah telanjur banyak seni bela diri. Saya suka sambal, tapi tidak menyingkirkan makanan lain,” katanya kepada Hamid S. Darminto dari TEMPO. Seorang prajurit penggemar karate dari Kompi B Batalyon 408 pun berkata, “saya akan tunduk terhadap atasan. Tapi lebih banyak tahu olahraga bela diri, lebih baik.” Dan PDTB (Pembelaan Diri Tanpa Bersenjata) dirasakannya masih kurang. Letjen Leo Lopulisa pun sewaktu masih di sekolah militer, katanya dalam suatu wawancara TEMPO baru-baru ini, penggemar pencak silat. Ia beralih ke taekwondo waktu usia jadi setengah baya. “Di silat banyak gerakan bunga, kurang ekonomis bagi orang yang sudah mulai tua,” kata pendekar Dan IV taekwondo ini. “Saya pilih pencak silat,” kata Panglima Ismail pula, “bukan hendak menyempitkan diri. Silakan memilih seni bela diri lain yang menambah kekayaan, tapi resminya pencak silat saja yang diizinkan di Kodam VII. Nilai budaya nenek moyang harus kita utamakan. Bangsa Jerman pun bangkit dari kehancuran setelah Perang Dunia II karena jiwa kesadaran nasional mereka tetap membara. ” Mayjen Ismail pernah sekolah ke Jerman Barat tahun 1956. Dan baginya pencak silat bukan sekedar hobi. “Kalau kita ngomong soal unsur olahraganya, okey kita ngomong tentang pola internasional. Tapi kalau sudah soal seni bela diri, mau tak mau kita akan sampai pada masalah sikap spiritual, yakni kesadaran nasional. ” Persoalan ialah pencak silat menyangkut seni, olahraga, bela diri dan kerohanian. Tidak semua unsur ini dianut 820 perguruan pencak silat. Ada perguruan yang hanya menekankan kebatinan saja. Tampaknya diperlukan standardisasi. Bagaimanapun ketegasan Mayjen Ismail sudah bergema di semua Kodam di Jawa. Seni bela diri tradisional ini bahkan sudah masuk kurikulum Akabri. Sejumlah pelatih pencak silat belum lama ini ramai-ramai menghadap Panglima Ismail. Mereka siap melatih tentara.
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1981/06/13/OR/mbm.19810613.OR49604.id.html
Nasionalisme silat dalam padepokan
Nasionalisme silat dalam padepokan
SEBENTAR lagi impian adanya Padepokan Pencak Silat Indonesia menjadi kenyataan. Idenya tercetus 5 tahun lalu. Peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu pekan lalu. Padepokan ini didirikan di atas lahan 5,2 hektare, sumbangan dari Nyonya Tien Soeharto. ”Insya Allah, tepat 50 tahun kita merdeka, padepokan ini resmi berdiri,” kata Prabowo Subianto, ketua pelaksana pembangunan. Atap padepokan berbentuk joglo. Ornamennya mencerminkan berbagai daerah. Luas bangunan melebihi 21.000 meter, antara lain, untuk panggung pencak, ruang pengobatan, perpustakaan, museum, dan pondok meditasi di bawah tanah. Adalah pengurus teras IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) merasakan bahwa warisan leluhur ini perlu dilestarikan. Lalu, ide ini dilontarkan di Munas IPSI tahun 1990. Bambang Trihatmojo, pembina Pencak Silat Tenaga Dasar, dan Prabowo Subianto dari Satria Muda Indonesia, yang antara lain mengkonkretkannya. ”Kalau hanya tenaga dan pikiran IPSI, mewujudkan padepokan seperti mustahil,” kata Eddie Marzuki Nalapraya, Ketua Umum IPSI. Biaya pembangunannya sekitar Rp 15 miliar. IPSI menerima sumbangan dari donatur dan simpatisan. Dan rencananya, ribuan anggota IPSI di 27 provinsi diharapkan berpartisipasi. Menyumbang Rp 100 pun diterima, agar mereka punya rasa memiliki. Di padepokan ini nanti sekitar 820 aliran silat yang ada di Indonesia bertemu, berembuk, dan meneliti perkembangan silat. Juga dilakukan dokumentasi dan menyebarkan informasi tentang silat secara utuh. Buku dari berbagai perguruan juga akan menyemarakkan museum, misalnya mulai dari buku silat Aceh, Minangkabau, Sunda, Jawa, sampai Irian Jaya (kalau ada). Sehingga, menurut Eddie, nanti bukan lagi keakuan aliran atau perguruan yang menonjol, tapi nasionalismenya. Dan amalan pesilat agar berbudi luhur, cinta damai, dan tahan uji dalam cobaan, tetap menjadi pegangan. Dalam silat ada empat aspek: seni, bela diri, kejiwaan, dan olahraga. Khusus pada olahraga, IPSI sudah menstandarkan jurusnya. ”Ada tujuh jurus dasar (dengan berbagai sub), yang kami godok. Namanya jurus Prasetya Pesilat Indonesia,” kata Oyong Karmayuda, ketua bidang organisasi dan hubungan luar negeri IPSI. Selain itu, IPSI juga membenahi organisasinya. Misalnya, untuk mendirikan perguruan harus punya sertifikat yang dikeluarkan IPSI. ”Ini untuk pengamanan dan menjaga mutu. Jangan misalnya mereka belajar silat hanya kulitnya saja, dan lupa filosofinya,” kata Eddie, yang juga Presiden Persatuan Silat Antar-Bangsa (Persilat) itu. Khusus untuk luar negeri tercatat 15.000 anggota Persilat sudah mengeluarkan aturan. Misalnya, perguruan yang akan membuka cabang harus punya induk di Indonesia, Malaysia, Singapura, atau Brunei. Ini untuk mencegah yang tidak diinginkan. Pernah ada latihan silat diiringi disko. ”Memang ini kreativitas anak-anak muda, tapi, ya, bisa rusak,” kata Eddie. Di museum silat itu nanti akan dipajang tokoh silat, lengkap dengan kemumpuniannya. ”Di sana juga kami tampilkan Cut Nya’ Dien, Diponegoro, atau Ken Arok, dengan ilmu kanuragannya. Jadi, kita nggak usah membanggakan Flash Gordon atau Rambo,” kata Oyong. Seperti dalam film silat Siolin (Siau-lim-pay), padepokan di TMII juga dilengkapi ruang pengobatan dengan cara tradisional. ”Perguruan Cimande, misalnya, dengan pengobatannya lewat minyak urut yang dipendam di tanah,” kata Eddie. Belum lagi, misalnya, pengobatan lewat pernapasan dan tenaga dalam. Munculnya padepokan silat di TMII disambut hangat. Persaudaraan Setia Hati Teratai di Madiun, Jawa Timur, misalnya, siap membantu. ”Kami akan menyumbangkan buku-buku jurus perguruan kami, untuk mengisi museum,” kata Tarmadji, ketua umumnya. Setia Hati Teratai didirikan Ki Hadjar Hardjoutomo tahun 1922. Kini, anggotanya sekitar 200.000 orang, dan tersebar ke Eropa. Ajarannya menekankan bermain silat tapi mencegah benturan fisik. ”Kalau diserang, anggota Teratai cenderung menghindar, lalu mendekati lawan,” kata Tarmadji. Ia murid angkatan pertama R.M. Imam Kusupangat (Alm.), seorang pendiri Teratai dan ahli penyembuhan. Ada 36 jurus khas Teratai. Dan banyak di antara muridnya yang sudah menguasai jurus tersebut secara sempurna, bahkan melebihi sang guru. Tapi, diakui oleh Tarmadji, dalam mengolah indera keenam, belum ada murid yang melampaui kemumpunian Imam Kusupangat. ”Tapi tak benar kalau ada yang menilai Teratai tidak berkembang,” katanya. Perguruan Tapak Suci yang berpusat di Yogya, juga merasakan pentingnya padepokan silat. ”Manfaat bagi perguruan kami memang tidak besar, karena pendalaman ilmu silat dilakukan di padepokan masing-masing. Tapi, padepokan ini bermanfaat bagi perkembangan silat secara keseluruhan. Paling tidak, padepokan ini tempat menggodok aturan main olahraga silat,” kata Suharto, ketua bidang pendidikan Perguruan Tapak Suci. Tapak Suci yang didirikan tahun 1960 merupakan gabungan 12 aliran di bawah Muhammadiyah. Kini, memiliki 180 cabang, dan meluas di Asia dan Eropa. Seperti Teratai, Tapak Suci akan menyumbangkan informasi silat perguruannya. ”Kami tidak takut ditiru. Justru dengan adanya padepokan di TMII, kami bisa belajar apa kelebihan perguruan lain,” kata Suharto. Widi Yarmanto, Kelik M. Nugroho, dan Heddy Lugito
- http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1993/12/11/OR/mbm.19931211.OR6454.id.html
Pendekar Kulit Putih dari Tanah …
Pendekar Kulit Putih dari Tanah …
ORANG bule main pencak, itu bukan hal baru. Tapi pesilat bule menjatuhkan pesilat Melayu bisa disaksikan di Kejuaraan Pencak Silat se-Dunia di Kuala Lumpur, 3-7 Desember lalu. Ada sembilan pesilat bule (Denmark, Belanda, Spanyol, dan Jerman Barat) dari 15 kelas yang dipertandingkan mencapai babak final. Dua di antaranya meraih gelar juara. Alberto Cerro Leon (Spanyol) mengalahkan Mohamad Rosidi Abdullah (Brunei) dalam kelas bebas di atas 70 kg. Dan Marcel Copini (Belanda) mengalahkan Sarno (Indonesia) dalam kelas 80-85 kg. Dililit pakaian pendekar yang serba hitam, gerakan mereka rata-rata menunjukkan jago silat sungguhan. Ketika wasit memberi aba-aba dalam bahasa Melayu tepatnya bahasa Indonesia tak ada pesilat yang bengong. Ya, bahasa Indonesia memang sudah menyatu dengan pencak silat. Banyak pesilat kulit putih yang sudah fasih berbahasa Indonesia, meski belum pernah menginjak bumi Nusantara ini. Misalnya Mariel Kavos pesilat berumur 26 tahun asal Prancis. Belajar pencak dan bahasa Indonesia dilakukan berbarengan dari gurunya, Muhammad Raban. Selesai kejuaraan ini, Mariel, yang turun dalam nomor seni (kembangan), merencanakan memperdalam silat Setia Hati di Madiun, Jawa Timur, selama lima bulan. “Saya akan mempelajari kebatinannya juga,” katanya. Belajar silat dan bahasa Indonesia berbarengan memang langkah praktis. Begitulah rata-rata petunjuk dari guru mereka. Hiltrud Cordes, pesilat Jerman Barat, juga menyadari itu. Pesilat wanita yang antropolog ini terkesan gerakan silat ketika berwisata di Indonesia. Kebetulan, sekembalinya ke Jerman Barat, ia ketemu guru silat asal Sumatera. Hiltrud pun digembleng. Satu setengah tahun belajar bahasa Indonesia di kampusnya, Universitas Koln, antropolog ini mempersiapkan tesisnya untuk gelar doktor. Ia tinggal di desa di Minangkabau selama enam bulan hingga Oktober lalu. Obyeknya, “Silek Tuo” di Minang. “Pencak silat itu punya keunikan tersendiri. Dan saya lebih tertarik seninya ketimbang olah raganya itu sendiri,” katanya. Di Jerman Barat, katanya, ada tiga perguruan silat dengan murid sekitar 150 orang. Belum seberapa, memang. Sebab, orang Jerman lebih menyukai tinju dan gulat. Tapi di Spanyol ada sekitar 2.500 murid yang terserap di 21 sekolah. Mahaguru silat “Harimau Minang” yang beken adalah Juan I. Barrenetxea Sagardui. Dua puluh tahun sudah ia belajar silat pada Adityo Hanafi, guru silat pada KBRI di Madrid, Spanyol. Dari sembilan muridnya yang berlaga pada nomor perkelahian, tiga masuk final. Ia punya target dua emas dan sebuah perak. Salah seorang muridnya yang menggondol emas adalah Alberto Cerro Leon. Alberto pada kejuaraan silat dunia tahun lalu di Wina, pernah menggasak Budi Rahardjo, pesilat Indonesia dari Bangau Putih. Akibat pukulan Alberto yang keras, Budi sempat dirawat di rumah sakit tiga hari. Alberto, pemuda bujangan berumur 26 tahun ini, punya persiapan matang. Kejuaraan Silat Dunia yang diikuti 19 negara ini — karena minus Muangthai yang menarik diri dan Swiss yang tak bisa hadir karena guru besar mereka, H.K. Taher, sakit — tak lepas dari rasa tidak puas. Juan si Harimau Minang, misalnya, kurang puas ketika nomor seni kembangan untuk medali perak dan perunggu dimenangkan Malaysia A dan Indonesia — emas diraih Malaysia B. Juan lebih condong, Spanyol berhak mendapat perak atau perunggu. Sebab, penampilan Malaysia A dan Indonesia buruk. “Di sini ‘kan negara asalnya. Jadi, ya, tentu tak semudah melepaskannya untuk negara di luar (rumpun) Melayu,” kata Juan, yang akhirnya pasrah. Ketidakpuasan Juan diluruskan Basiron Hamit, Komisi Teknik penyelenggara di kejuaraan ini. “Itu tidak benar. Orang Spanyol itu maunya menang saja,” katanya. Eddie Nalapraya, Ketua Pencak Silat Indonesia yang merangkap Presiden Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat), juga melihat gugurnya Spanyol itu lantaran tak memenuhi kriteria pertandingan dalam kembangan, tunggal, dan berpasangan (tanpa perkelahian). Protes diam-diam juga terlontar. Banyak peserta menyesalkan Malaysia, yang seolah-olah begitu bernafsu mengeruk medali. Malaysia, katanya, “mencuri” dua kemenangan dari seni kembangan. Ini tampak dari penempatan dua jurinya. Sementara itu, untuk mewakili Eropa, Brunei, Indonesia, dan Singapura cuma ada empat juri. Lepas dari kekurangan di sana-sini, Persilat — organisasi yang didirikan Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei tujuh tahun lalu sudah berbuat banyak. Dua tahun setelah organisasi berdiri, kejuaraan pertama diadakan di Jakarta. Tahun 1984 juga Jakarta yang jadi tuan rumah. Kejuaraan ketiga dilakukan di Wina, Austria, diikuti 11 negara pada 1986. Setelah kejuaraan ini, sudah lima negara (Australia, Jerman Barat, Singapura, Suriname, dan Turki) menawarkan diri jadi tuan rumah pada kejuaraan 1990 mendatang. Itu sebabnya, di Malaysia, silat, yang semula dibina oleh Kementerian Belia dan Sukan (Pemuda dan Olah Raga), kini tanggung jawabnya dialihkan kepada Kementerian Kebudayaan dan Pelancongan (Pariwisata). Maksudnya agar dengan pencak silat wisatawan bisa mengalir ke Malaysia. Di Indonesia, gerakan membudayakan silat juga tercermin. IPSI telah mengirim surat ke Menteri Luar Negeri dan Menteri P & K, agar silat dimasukkan dalam paket diplomasi kebudayaan. “Ya, mudah-mudahan saja jawabannya positif,” kata Eddie Nalapraya cerah. Kejuaraan yang berakhir Senin malam pekan ini menampilkan 21 finalis Melayu 12 di antaranya Indonesia (7 putra dan 5 putri). Indonesia tetap sebagai juara umum, sejak kejuaraan ini dimulai, dengan perolehan 10 emas, 2 perak, dan sebuah perunggu. Itu berarti Piala Presiden RI tetap di tangan dan sebuah piala dari Malaysia bernama Hang Tuah ikut melengkapi kemenangan ini. Tempat kedua diduduki Malaysia, disusul Brunei, dan kemudian Spanyol. Belanda yang di kejuaraan Wina berhasil menjadi juara II, kali ini cuma di urutan kelima. Widi Yarmanto (Jakarta), Ekram H. Attamimi (Kuala Lumpur)
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1987/12/12/OR/mbm.19871212.OR32996.id.html




Komentar Terakhir