Merujuk ke Jawa Barat, Pencak Silat Segera Jadi Warisan Budaya Dunia

JAKARTA, (PR).- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendaftarkan pencak silat sebagai warisan budaya dunia tak benda asal Indonesia ke UNESCO. Dalam kurun dua tahun ke depan, UNESCO akan melakukan verifikasi dengan melakukan penilaian langsung ke sejumlah daerah terutama Jawa Barat. UNESCO merujuk ke Jawa Barat sebagai standar pencak silat Indonesia.

Kemendikbud juga mendaftarkan pantun dan pinisi sebagai warisan budaya dunia.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Nadjamuddin Ramly mengatakan, UNESCO akan melakukan pendataan di Jawa Barat tahun depan. Menurut dia, Jawa Barat dipilih karena pencak silat dikenal sebagai seni bela diri yang terus tumbuh. Juga mengakar dan membudaya di warga Jawa Barat.

“Penilaian utama dari UNESCO adalah terkait eksistensi budaya itu sendiri. Masyarakat Jawa Barat masih melesatarikan pencak silat, bahkan sudah menjadi bagian dari budaya keluarga. Pencak silat tidak dalam posisi penting untuk diselamatkan karena sudah menjadi perilaku di masyarakat sampai sekarang. Itu yang akan dinilai UNESCO,” ucap Nadjamuddin. Ia ditemui usai acara Pameran Pendukungan Warisan Budaya Tak Benda Road to UNESCO di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa, 25 April 2017.

Ia menuturkan, seni bela diri pencak silat juga berkembang di Sumbawa, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DKI Jakarta. Kendati demikian, silat dari Jawa Barat akan menjadi rujukan utama. UNESCO akan mendatangi banyak padepokan silat seperti Tapak Suci, Cimande dan Cikalong.

“Ada silat Jawa, silat Betawi dan lainnya. Tapi saat mendaftarkan ke UNESCO kami menyebutkan silat Indonesia, filosofi Indonesia. Mudah-mudahan pada 2019 silat sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia asal Indonesia,” ujarnya.
Tujuh budaya

Najmudin mengatakan, jumlah budaya tak benda Indonesia ada sebanyak 444 budaya. Namun, yang sudah diakui UNESCO baru sebanyak tujuh budaya. Di antaranya, wayang, angklung, tari saman dan batik. Kendati demikian, setiap tahun pemerintah terus melakukan pendataan dan menetapkan ratusan budaya tak benda untuk didaftarkan ke UNESCO.

“Tahun 2015 kami menetapkan sekitar 100 budaya, sedangkan tahun 2016 mencapai 150 budaya. Tahun ini pinisi ditargetkan bisa diakui UNESCO, tahun depannya pantun dan pencak silat tahun 2019,” katanya.

Khusus mengenai pantun, Indonesia bersaing dengan Malaysia. Ia menjelaskan, pantun Indonesia yang tumbuh mengakar di wilayah Sumatera beririsan dengan pantun Malaysia. “Jadi nanti UNESCO akan mengakui pantun sebagai warisan budaya tak benda dari dua negara, Indonesia dan Malaysia. Tentu dengan kekhasannya masing-masing. Kalau pinisi akan menjadi milik Indonesia saja,” tuturnya.

Kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dalam menentukan kalaikan untuk menjadi warisan budaya tak benda dunia, ada hal khusus. Yakni UNESCO akan menilai peran dan pengakuan dari masyarakat terhadap suatu budaya.

“Peran masyarakat dan komunitas budaya sangat penting dalam proses perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan budaya. Budaya menjadi soko guru pendidikan karakter dan memberikan kemakmuran kepada masyarakat,” ujar Hilmar.

“Keseluruhan rangkaian pameran ini bermaksud untuk membangun apresiasi masyarakat dari berbagai bidang ilmu dan berbagai usia. Agar mereka mengetahui, memahami, mencintai dan bangga akan kekayaan dan warisan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia,” ujar dia.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s