Melestarikan Pencak Silat

Metrotvnews.com, Jakarta: Meski usianya masih belasan tahun, tapi Adjie Adhitya Uszly sudah tertarik pada perkembangan pencak silat. Siswa kelas XII SMA Negeri 20 Jakarta ini merupakan seorang atlet pencak silat dan pernah menjuarai ajang Jakarta Pencak Silat Championship (JKTC) IV 2015.

Adjie bangga menyabet medali emas dalam pertandingan Ganda Putra JKTC IV yang dihelat pada 24-25 Oktober 2015. Namun, mencermati banyak orang asing kini mempelajari pencak silat, Adjie pun menyadari upayanya menarik minat dan perhatian masyarakat Indonesia terhadap bela diri asli Nusantara ini mesti lebih gencar lagi. Kecemasannya hanya pada semakin pudarnya kecintaan masyarakat Indonesia terhadap identitas dan budaya bangsanya sendiri.

Menurut dia, jika bukan masyarakat Indonesia sendiri yang mempromosikan silat, maka jangan terkejut jika suatu saat nanti silat akan dibesarkan oleh bangsa asing. Kekuatiran ini muncul dilatarbelakangi pengamatannya pada lingkungan sebaya.

“Banyak dari teman-teman justru tidak tertarik dengan dunia bela diri. Jika tertarik dengan bela diri pun, mereka lebih memilih yang dari budaya luar, semisal aikido, karate, wushu dan lain-lain,” ujar Adjie dalam perbincangangan dengan metrotvnews.com di Jakarta, Jumat (4/3/2016).

Persoalannya, ia melanjutkan, mungkin sederhana. Mereka tidak tahu betapa hebatnya silat sebagai budaya milik bangsa Indonesia sendiri. Pencak silat itu tidak hanya soal bela diri. Tapi di dalamnya ada seni, moral, mental dan lain-lain. “Itu yang tidak diketahui mereka,” kata dia.

Oleh karena itu, Adjie senang untuk terus menceritakan soal pencak silat kepada teman-temannya.

Upaya pemerintah sudah patut diapresiasi. Sudah ada Peraturan Daerah yang mewajibkan setiap sekolah di Jakarta memiliki program ekstra kurikuler pencak silat. Namun, Adjie menyebutkan masih banyak sekolah yang tidak punya dan belum memfasilitasi keinginan siswa yang minat pada pencak silat.

Kebetulan, Adjie ditunjuk pihak SMAN 20 Jakarta untuk menjadi ketua panitia penyelenggara festival pencak silat tingkat pelajar. Rencananya, festival itu digelar pada pertengahan Mei mendatang. Tepatnya, 14-15 Mei 2016. Ini merupakan turnamen pencak silat pelajar se-Jakarta.

“Sekarang yang sudah mendaftar 350 peserta dari 19 perguruan. Serta dari 30 sekolah yang memiliki ekstrakulikuler pencak silat. Kami akan menyediakan dua cabang. Tarung dan seni. Sebagaimana pertandingan pencak silat di kancah lebih besar yang sudah digelar. Terlaksananya kegiatan ini juga karena didukung oleh Wali Kota Jakpus (Jakarta Pusat) dan Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga),” kata Adjie.

Setidaknya, ia berharap, ajang ini bisa lebih pas dan strategis untuk mempromosikan kepada generasi muda Jakarta tentang betapa menariknya dunia pencak silat.

“Melalui festival ini, saya berharap lebih banyak lagi teman-teman pelajar yang pada akhirnya kembali mencintai kebudayaan negeri sendiri. Namun jika tidak terasa langsung berhasil, pada saatnya nanti,  pencak silat akan kembali besar dari sini,” kata Adjie.

Kekhawairan Adjie mengenai lenyapnya silat di dalam denyut tradisi masyarakat Indonesia ini cukup beralasan. Menemukan sebuah literatur tentang pencak silat tidaklah semudah mencari buku bela diri lain semacam karate, aikido, taekwondo, jujitsu, kempo, dan lain-lain. Sebagaimana diketahui semua itu bela diri asal Jepang dan Korea.

Kalau dikatakan bahwa pencak silat itu adalah bagian dari sebuah warisan budaya nenek moyang yang perlu dijaga dan dilestarikan, seharusnya literatur dan buku tentang pencak silat akan bersanding sejajar dengan buku-buku bela diri lainnya jika menelusurinya di rak-rak toko buku. Bahkan, mestinya pustaka mengenai silat jauh lebih banyak.

Nasib silat kurang lebih mirip dengan yang dialami oleh keris, warisan budaya nenek moyang yang sangat minim literatur. Apakah ini sinyal krisis kebudayaan? Entahlah.

Namun, suka atau tidak suka, kondisi ini membuat penyebaran pengetahuan mengenai pencak silat kepada masyarakat lebih lambat dibanding bela diri lainnya. Kenyataan ini akhirnya membentuk pandangan negatif tentang silat. Berbicara tentang pencak silat kepada masyarakat umum, maka yang tergambar dalam benak mereka adalah sebuah olah raga yang dipertandingkan, yang tidak ubahnya dengan tinju (saling pukul), gulat (saling membanting dan bergumul), atau kombinasi memukul, menendang, membanting, menghindar, dan menangkis serangan. Seolah tidak ada sesuatu yang khas dari pencak silat yang bisa dibanggakan.

“Kalaupun ada yang sedikit tahu tentang pencak silat selain olah raga yang dipertandingkan, tidak ada yang patut dibanggakan kecuali kesan negatif bahwa silat itu magic, silat itu kampungan, silat itu bela diri nya para centeng dan preman pasar. Tidak aneh kalau banyak orang tua yang melarang anak mereka belajar pencak silat karena mereka khawatir anaknya hanya akan terlibat tawuran. Pandangan dan pemahaman yang demikian tidaklah sepenuhnya keliru, walaupun tentu tidak benar juga, dan tidak dapat disalahkan karena memang sangat minimnya informasi dan sosialisasi tentang pencak silat ke masyarakat umum,” kata Ochid Aj dalam Bunga Rampai Pencak Silat.

Menilik sejarahnya, nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki cara pembelaan diri yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kehidupannya atau kelompoknya dari tantangan alam. Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara sejak lebih dari 1.200 tahun lalu, akan tetapi asal mulanya belum dapat ditentukan secara pasti. Kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya dan Majapahit disebutkan memiliki pendekar-pendekar besar yang menguasai ilmu bela diri dan dapat menghimpun prajurit-prajurit yang kemahirannya dalam pembelaan diri dapat diandalkan.

Kerajaan sesederhana apa pun bentuknya, menurut Ochid, pasti mempunyai alat-alat keamanan untuk melindungi kerajaannya, di sini pasti ada keahlian bela diri yang dimiliki oleh para prajurit dan panglimanya. Kemajuan peradaban bangsa-bangsa yang hidup di bumi Nusantara, seni bela diri ini pun mengalami kemajuan pesat, akulturasi dan saling mempengaruhi satu sama lain, apa lagi setelah berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain seperti bangsa China dan India dan terjadi akulturasi budaya termasuk seni bela diri.

“Diperkirakan semenjak abad ketujuh silat telah menyebar di kepulauan Nusantara, dengan penyebaran melalui tradisi lisan dari mulut ke mulut, dari guru ke murid. Tradisi lisan ini adalah salah satu penyebab tidaknya ada dokumentasi sejarah yang valid tentang pencak silat,” kata Ochid.

Walaupun asal muasal silat masih sulit dipastikan, tapi telah disepakati bahwa silat adalah budaya yang lahir dari nenek moyang dan cikal-bakal bangsa Indonesia. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang hebat. Gajah Mada adalah seorang Maha Patih Majapahit yang sangat melegenda kesaktiannya.

Pencak silat secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura, Filipina selatan, dan Thailand Selatan. Tetapi, kini juga ada banyak penggemar pencak silat seperti di Australia, Belanda, Jerman, dan Amerika.

Perkembangan pencak silat terbilang amat pesat selama abad ke-20 setelah dipromosikan oleh Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa, atau The International Pencak Silat Federation) di beberapa negara di lima benua. Tujuannya, membuat pencak silat menjadi olahraga Olimpiade atau kompetisi olah raga internasional.

Kini, beberapa federasi pencak silat nasional Eropa bersama dengan Persilat telah mendirikan Federasi Pencak Silat Eropa. Pada 1986 Kejuaraan Dunia Pencak Silat pertama di luar Asia, mengambil tempat di Wina, Austria.

Pencak silat pertama kali diperkenalkan dan dipertandingan dalam Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games) ke-14 tahun 1987 di Jakarta. Hingga kini cabang olahraga pencak silat rutin dipertandingkan dalam SEA Games. Pada tahun 2002 pencak silat diperkenalkan sebagai bagian program pertunjukan di Asian Games di Busan, Korea Selatan untuk pertama kalinya.

Selain dari upaya Persilat yang membuat pencak silat sebagai pertandingan olahraga, masih ada banyak aliran-aliran tua tradisional yang mengembangkan pencak silat dengan nama Silek dan Silat di berbagai belahan dunia. Diperkirakan ada ratusan aliran (gaya) dan ribuan perguruan.

Sekretaris Jenderal Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Erizal Chaniago menyatakan bahwa jika membicarakan data jumlah perguruan yang ada di Indonesia, memang belum ada data ilmiah yang bisa dipegang. IPSI menaksir jumlah perguruan silat di Tanah Air sekitar 800-1000 perguruan.

“Itu baru asumsi. Artinya, itu bisa lebih banyak lagi. Kami tidak bisa mendata secara detail, karena data yang ada di kabupaten/kota itu baru data perguruan yang populer dan baru bertanding di pertandingan dan festival,” kata Erizal kepada metrotvnews.com, Kamis (3/3/2016).

Sebagai budaya warisan leluhur, pencak silat patut mendapat perhatian yang layak. Pengembangan dan pelestarian pencak silat perlu digaungkan ke hadapan masyarakat umum, sekaligus menggugah pemerintah untuk turut mengkampanyekan pencak silat sebagai bagian dari produk budaya bangsa sebagaimana keris, batik, seni tari dan lain-lainnya.

Apalagi, banyak nilai dan filsosofi dari pencak silat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat dan bernegara. Kekayaan dan kekhasan pencak silat sangat sia-sia bila ditelantarkan begitu saja

Satu pemikiran pada “Melestarikan Pencak Silat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s