Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional

Pencak Silat sebagai seni budaya bangsa Indonesia dan bangsa Asia Tenggara, memang telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, dimana terbukti dengan makin banyaknya peserta dari negara-negara asing yang semakin aktif mengikuti kejuaran-kejuaran lingkup regional maupun non regional, baik yang diselenggarakan oleh komunitas maupun oleh negara dan makin menjamurnya padepokan-padepokan Pencak Silat di negara-negara asing antara lain di Belanda, Perancis, Inggris bahkan Amerika Serikat.

Hal tersebut tentunya menggembirakan bagi komunitas Pencak Silat, apalagi dilakukannya proses standarisasi mulai dari metode pelatihan, jurus dan sistem pertandingan akan menyebabkan semakin mudahnya penyebaran Pencak Silat ke penjuru dunia. Tetapi ditengah-ditengah proses tersebut, ada yang terkesan terlupakan yaitu akar/sumber inspirasi dari Pencak Silat tersebut yaitu Silat Tradisional, yang dengan susah payah berusaha mempertahankan eksistensinya yang semakin memudar baik akibat gencarnya serangan promosi beladiri produk luar, maupun karena kelemahan sistem pengajaran dan kaderisasi dari Silat Tradisional.

Silat Tradisional (“Silat Tradisi”) sendiri merupakan salah satu seni pertahanan diri (“Beladiri”) bangsa Indonesia yang usianya sudah sangat tua, bahkan diduga sejak kepulauan nusantara ini didiami oleh penduduk, Silat Tradisi sudah mewarnai kehidupan sosial budaya penduduk nusantara walaupun masih dalam bentuk/gerakan yang sederhana, sebagaimana dapat kita saksikan dalam beberapa relief di candi Borobudur.

Silat Tradisi lahir dari interaksi dan pemahaman penduduk nusantara terhadap alam lingkungannya, dirinya dan Tuhan. Ekstrasi dari interaksi dan pemahaman yang berlangsung secara terus menerus dan melalui proses perenungan yang mendalam bahkan sampai saat ini, melahirkan istilah Olah Rasa, Olah Raga dan Olah Pikir yang menjadi basis falsafah Silat Tradisi yang dalam prateknya menjelma dalam berbagai bentuk pemahaman dan implementasi.Selain basis falsafah tersebut, Silat Tradisi dipengaruhi pula oleh karakter dan kebudayaan dari asal Silat Tradisi tersebut berkembang, inilah yang menyebabkan Indonesia menjadi salah satu sumber ilmu beladiri yang mungkin terbesar di dunia, karena hampir ditiap daerah Indonesia mulai dari tingkat profinsi sampai ke tingkat strata budaya paling kecil yaitu keluarga memiliki gaya dan seni Silat Tradisi sendiri.

Besarnya jumlah dan ragam Silat Tradisi di Indonesia sebenarnya merupakan salah satu modal pembangunan (dari sisi mental dan spiritual) yang besar, dimana dengan perhatian yang sungguh-sungguh, perencanaan dan pengelolaan yang baik, Silat Tradisi dapat dijadikan sebagai pondasi pembangunan karakter bangsa (“National Character Building”), hal ini dikarenakan didalam Silat Tradisi sudah terkandung falsafah dasar yang dperlukan untuk membangun atau membentuk karakter manusia/ suatu bangsa (unsur rasa yang terkait dengan spritual/rohani, unsur raga yang terkait dengan jasmani dan unsur pikir yang terkait dengan intelektualitas/peradaban). Selain sebagai salah satu alat untuk membangun karakter bangsa, Silat Tradisi juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai suatu warisan budaya yang bernilai tinggi, yang apabila dikelola dengan menggunakan manajemen dan asas-asas perdagangan moderen, dapat berfungsi sebagai sarana pengenalan budaya Indonesia ke dunia yang dapat berujung kepada peningkatan posisi tawar dan nilai jual Indonesia di dunia (“Devisa”).

Berangkat dari kerangka berpikir seperti diatas, kami lalu tertarik untuk mencoba mengangkat Silat Tradisi dan pernik-perniknya dalam suatu bentuk artikel atau tulisan dimana tujuannya untuk lebih mengenalkan dan mencoba membantu pelestarian Silat Tradisi. Setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari rekan-rekan kami serta mempertimbangkan fokus dan ketajaman penulisan, akhirnya kami memutuskan untuk mengangkat sebagai tulisan pertama kami, adalah salah satu Silat Tradisi dari daerah tengah Jakarta yaitu Tanah Abang yang dikenal dengan Silat Sabeni (nama berasal dari perumusnya yaitu Engkong Sabeni). Seiring proses penulisan artikel tersebut (yang kemudian kami rencanakan untuk kami dokumentasikan dalam bentuk buku) guna lebih memperkaya dan melengkapi latar belakang penulisan, kami lalu melakukan proses pencarian informasi dan data tambahan melalui proses riset baik dokumentasi visual maupun cetak, salah satunya pencarian informasi melalui dunia maya (“Internet”). Dalam proses mencari melalui dunia maya, kami menemui suatu hal yang menarik yaitu jumlah website asal Indonesia yang menampilkan Pencak Silat ternyata jumlahnya lebih sedikit bila dibandingkan dengan website yang berasal dari negara asing (non asia tenggara), bahkan terkadang informasi mengenai Pencak Silat itu sendiri jauh lebih lengkap, up to date (website IPSI dan Persilat sendiri belum up to date dan belum selesai proses penyempurnaannya) dan sistematis website yang berasal dari luar Indonesia, suatu hal yang membanggakan tetapi sekaligus ironis karena menunjukkan seberapa besar tingkat kepedulian bangsa Indonesia atas budayanya sendiri.

Salah satu website yang kami kunjungi adalah kpsnusantara, silatindonesia.com dan milisnya silatbogor@yahoogroups.com, yang lalu kami jadikan pilot project untuk penayangan artikel pertama kami dengan Judul “MAEN PUKULAN“ SABENI dari Tenabang. Respon atas artikel kami yang kami terima melalui milis silatbogor@yahoogroups.com, ternyata cukup apresiatif. Banyak diskusi-diskusi yang produktif dan mencerahkan yang kami lakukan dengan anggota milis silatbogor@yahoogroups.com yang memang bertitik berat pada artikel kami. Diskusi tersebut lalu berlanjut pada pertemuan off line dengan tujuan untuk bersilahturahmi dengan Ahli Waris Sabeni dan berlatih Silat Sabeni bersama-sama. Seiring dengan proses pertemuan-pertemuan off line dan latihan Silat Sabeni bersama-sama, proses diskusi di milis silatbogor@yahoogroups.com semakin lama semakin sering kami lakukan dengan rekan-rekan milis, lingkup pembahasan pun semakin meluas bukan lagi bertitik berat di Silat Sabeni tetapi sudah kepada aliran-aliran lain di Indonesia (sungguh suatu proses diskusi yang mengesankan).

Dalam diskusi-diskusi yang kami lakukan dengan rekan-rekan melalui silatbogor@yahoogroups.com, banyak ide, pemikiran dan wacana dari rekan-rekan tentang Pencak Silat yang menurut kami pada dasarnya lahir dari suatu dasar pemikiran yang sama yaitu keinginan untuk memperkaya dan melestarikan Pencak Silat/Silat Tradisi. Dasar pemikiran tersebut lalu kami coba selaraskan dengan kerangka berpikir kami tentang Silat Tradisi yang lalu kami sampaikan kepada rekan-rekan milis, dari hasil kristalisasi pemikiran inilah muncul ide untuk membentuk suatu wadah informal yang tidak berafiliasi dengan organisasi manapun, dan bersifat cair (mewadahi semua golongan), wadah tersebut kami beri nama Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional (“FP2ST”) yang merupakan suatu wadah silahturahmi orang-orang yang berempati terhadap perkembangan Silat Tradisi. Walaupun masih dalam bentuk yang prematur untuk dapat disebut sebagai suatu wadah, FP2ST telah berhasil melakukan suatu pertemuan yang bersejarah bagi FP2ST yaitu silahturahmi pertama yang diadakan di Ruang Latihan Terbuka Padepokan Pencak Silat Indonesia pada hari Sabtu tanggal 10 Juni 2006 yang berhasil diadakan berkat dukungan dan bantuan dari salah satu ikon Pencak Silat Indonesia Mas Oong Maryono. Dalam pertemuan tersebut antara lain hadir beberapa tokoh Pencak Silat Indonesia antara lain Mas Suhartono, Bapak Edward, Bapak Haji Aziz dan Ki Sawung serta seorang tokoh dari SH, kehadiran para tokoh dan sesepuh membuat kami terharu dan tergugah semangatnya, untuk berusaha keras dengan segala daya yang kami miliki untuk membantu pelestarian Silat Tradisi. Dalam pertemuan tersebut disepakati beberapa hal-hal pokok antara lain:

  1. Dilakukannya proses pemetaan dan dokumentasi Silat Tradisi yang untuk tahap awal adalah di lingkup Jabodetabek;
  2. Promosi kepada generasi muda;
  3. Pelatihan Silat Tradisi;
  4. Legalisasi Forum dalam bentuk badan hukum (Yayasan).

Hal-hal pokok yang dihasilkan pada pertemuan FP2ST tersebut, pada dasarnya sudah selaras dengan Visi dan Misi FP2ST yang sebenarnya sederhana saja yaitu:

  1. Visi: Silat Tradisional bisa menjadi Aset Budaya Bangsa Indonesia yang membudaya dan lestari di tengah-tengah bangsa Indonesia terutama generasi muda dan berfungsi sebagai alat pendidikan dan pembentukan karakter bangsa;
  2. Misi: menumbuhkan kembali kecintaan dan pelestarian Silat Tradisional.

Untuk mencapai Visi dan Misi tersebut tentunya diperlukan jalan untuk menujunya dan arahan/strategi yang implementasinya dalam bentuk program kerja baik jangka panjang maupun jangka pendek serta proses bugeting/pendanaan. Program kerja ini yang saat ditulisnya artikel, masih dalam tahap pembicaraan diantara rekan-rekan FP2ST yang harus dimaklumi terkesan lambat karena kesibukan dari rekan-rekan anggota FP2ST yang kebanyakan merupakan pekerja kantoran. Tetapi sebagai program awal FP2ST adalah direncanakannya pertemuan bulanan off line dalam bentuk Diskusi tentang aliran-aliran Silat Tradisi, dimana dalam Diskusi bulanan tersebut suatu aliran Silat Tradisi akan dibedah dari segala aspek, mulai dari sejarah, falsafah, jurus-jurusnya sampai aplikasi sehari-hari.

Diskusi bulanan yang merupakan program awal FP2ST diharapkan dapat mempersingkat waktu pemetaan dan pengumpulan data apabila menggunakan sistem konvensional, selain itu juga bertujuan agar para peminat (generasi muda) dapat berinteraksi langsung dengan narasumber, sehingga dapat menghilangkan distorsi-distorsi yang terjadi apabila proses penyebaran informasi dan promosi dilakukan secara tidak langsung.

Perjalanan FP2ST memang masih jauh dan apabila boleh kami mengibaratkan FP2ST adalah seperti bayi yang baru belajar melangkah, selalu diawali oleh langkah-langkah kecil terlebih dahulu diikuti oleh jatuh bangun sebelum bayi tersebut dapat melangkah dan berlari. Semoga saja langkah-langkah kecil yang dilakukan oleh rekan-rekan terutama para generasi muda melalui FP2ST kelak dapat menjadi langkah-langkah besar yang berarti bagi pelestarian Pencak Silat pada umumnya dan Silat Tradisi pada khususnya.

Jakarta 18 Juli 2006.
By: Eko Hadi S
Anggota Milis SilatIndonesia

Satu pemikiran pada “Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s