Suara panglima, keinginan pendekar

13 Juni 1981

Suara panglima, keinginan pendekar

PENCAK silat lagi dapat angin. Adalah pencak silat yang dijadikan olahraga bela diri resmi oleh Panglima Mayjen Ismail, terutama untuk Kodam VII. Kurang jelas bagaimana kaitannya sampai bapak angkat pencak silat Ja-Teng dan Yogyakarta itu meresmikannya. Entah karena hari-hari itu dalam suasana HUT IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia). IPSI lahir dalam Mei 1948. Atau karena Ketua Harian PB IPSI, Eddi M. Nalapraya, telah menjalin kontak dengan cabang olahraga beladiri lain yang dianggap “barang impor”. PB IPSI telah membentuk Badan Kontak Olahraga Bela Diri. Malah Ketua Umum IPSI (Gubernur DKI) Tjokropranolo memimpin apel (31 Mei) bersama 6.000 atlet pencak silat, karate, judo, gulat, tinju (amatir), kempo dan taekwondo yang tergabung dalam badan kontak ini. Panglima Ismail menolak diwawancara dalam hal ini. Agaknya ia enggan bentrok pendapat dengan sesama rekan jenderal yang jadi ketua olahraga bela diri jenis “impor”. Yang jelas di Gedung Panti Marhaenis Semarang (20 Mei) ia berkata, “Pukulan sasa danajinomoeo lebih menonjol di Indonesia. Saya kadang-kadang menangis melihat kenyataan itu. Kita pro patria (demi ibu pertiwi), tapi mengapa kiblat kita nun jauh ke sana.” Memang judo, jujitsu, karate, taekwondo, kempo yang masuk ke Indonesia banyak menyaingi perkembangan olahraga bela diri tradisional pencak silat. Alasan memang banyak. Seorang guru besar karate M. Nakayama, yang telah beberapa kali berkunjung ke Indonesia pernah mengatakan, “pencak silat dapat berkembang pesat, bahkan ke luar negeri, bila sudah mempunyai sistem pertandingan yang berstandar internasional. Karate pun sebelum keluar dari Jepang demikian. ” Pencak silat pernah memang menurut sejarah berkembang di zaman Sriwijaya dan Majapahit. Kemudian dalam zaman Belanda pencak silat terpojok dalam banyak kelompok kecil. Pendekar berlatih dengan sembunyi, malah sempat perguruan tertentu menutup diri terhadap perguruan lain di zaman kemerdekaan. Untung IPSI, sejak dipimpin Mr. Wongsonegoro sebelum digantikan Tjokropranolo tahun 1977, berusaha menciutkan banyak aliran jadi 10 Besar. IPSI juga telah memprakarsai Persilat — Persatuan Pencak Silat Antar Bangsa — bersama Singapura, Malaysia dan Brunei Sedianya Thailand dan Filipina ikut, tapi ketika wadah itu terbentuk (September 1979), keduanya berhalangan. Persilat belum sanggup menciptakan suatu sistem pertandingan, sehingga batal di SEA Games Jakarta tahun itu juga. Namun penggemar pencak silat sudah berkembang sampai di Nederland, Jerman Barat, Belgia, Luxemburg, Prancis, Inggris, Denmark, Suriname, AS, Arab Saudi, Australia dan Selandia Baru. Sementara ini banyak perguruan bela diri kung-fu telah bernaung pula dalam IPSI. Kao San Shao Lim ganti nama tahun 1977 jadi Teratai Besi, sedang Kwan Tao barusan jadi Perguruan Silat Gerak Langit. Di Jakarta kini sudah 21 perguruan kung-fu masuk IPSI. Toh kelemahan dan tantangan yang harus diatasi IPSI masih banyak. Di KONI Ja-Teng masih ada yang ragu-ragu mengembangkan pencak silat. “Pencak Silat dikaitkan dengan politik,” keluh Ranawijaya, Ketua IPSI Kudus. Karena umumnya pencak silat pakai rapal dari Al Quran, ada yang berpendapat, “silat adalah olahraga bela diri P3 (Partai Persatuan Pembangunan). Menjelang pemilu ini, saya tak berani menggerakkannya besar-besaran,” ujar Ranawijaya lagi. Ketua KONI Ja-Teng, Abdulkadir SH jadi rikuh dengan pendapat Panglima Ismail. “Sudah telanjur banyak seni bela diri. Saya suka sambal, tapi tidak menyingkirkan makanan lain,” katanya kepada Hamid S. Darminto dari TEMPO. Seorang prajurit penggemar karate dari Kompi B Batalyon 408 pun berkata, “saya akan tunduk terhadap atasan. Tapi lebih banyak tahu olahraga bela diri, lebih baik.” Dan PDTB (Pembelaan Diri Tanpa Bersenjata) dirasakannya masih kurang. Letjen Leo Lopulisa pun sewaktu masih di sekolah militer, katanya dalam suatu wawancara TEMPO baru-baru ini, penggemar pencak silat. Ia beralih ke taekwondo waktu usia jadi setengah baya. “Di silat banyak gerakan bunga, kurang ekonomis bagi orang yang sudah mulai tua,” kata pendekar Dan IV taekwondo ini. “Saya pilih pencak silat,” kata Panglima Ismail pula, “bukan hendak menyempitkan diri. Silakan memilih seni bela diri lain yang menambah kekayaan, tapi resminya pencak silat saja yang diizinkan di Kodam VII. Nilai budaya nenek moyang harus kita utamakan. Bangsa Jerman pun bangkit dari kehancuran setelah Perang Dunia II karena jiwa kesadaran nasional mereka tetap membara. ” Mayjen Ismail pernah sekolah ke Jerman Barat tahun 1956. Dan baginya pencak silat bukan sekedar hobi. “Kalau kita ngomong soal unsur olahraganya, okey kita ngomong tentang pola internasional. Tapi kalau sudah soal seni bela diri, mau tak mau kita akan sampai pada masalah sikap spiritual, yakni kesadaran nasional. ” Persoalan ialah pencak silat menyangkut seni, olahraga, bela diri dan kerohanian. Tidak semua unsur ini dianut 820 perguruan pencak silat. Ada perguruan yang hanya menekankan kebatinan saja. Tampaknya diperlukan standardisasi. Bagaimanapun ketegasan Mayjen Ismail sudah bergema di semua Kodam di Jawa. Seni bela diri tradisional ini bahkan sudah masuk kurikulum Akabri. Sejumlah pelatih pencak silat belum lama ini ramai-ramai menghadap Panglima Ismail. Mereka siap melatih tentara.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1981/06/13/OR/mbm.19810613.OR49604.id.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s