Seni tari pencak silat campur baur

25 Februari 1978

Seni tari pencak silat campur baur

TIDAK semua orang tahu, yang akan dipertunjukkan tanggal 6-8 Pebruari di TIM itu pencak silat sebagai perkelahian atau sebagai tarian. Ataukah gubahan tari “modern” yang mengambil unsur pencak silat Acara itu sendiri disebut Festival Tari Pencak Silat diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Kesenian P & K bersama Dewan Kesenian Jakarta. Jadi ini memang tari, hanya saja tentu ada silatnya. Moga-moga ramai. Tapi acara pertama di malam pertama, lesu. Orang seperti bersiap melihat sebuah acara TVRI, ketika satu rombongan dengan pakaian adat Minangkabau – lengkap dengan seorang gadis membawa sesajian dan mengenakan tutup kepala yang khas–mengalir dari belakang panggung untuk duduk berjejer di arena menghadap penonton. Bagian selanjutnya sudah dapat diduga: gerak-gerik yang lamban. Meski ternyata tidak ornamentik atau penuh pulasan seperti di TV, tak urung tarian silatnya yang kedua, yang bernama Hulu (Alu) Ambek, tak mampu menyebarkan bobot intens yang dikandungnya ke tengah penonton yang sama sekali tak tahu latar-belakang. Nyatalah: ketika muncul rombongan tari Bagong Kussudiardjo dari Yogya, acara Minang serta-merta disingkirkan dari ingatan penonton dan mereka bertepuk riuh. Bagong, dengan gubahan barunya Igel-igelan yang dikatakan mengambil gerak dan bentuk pencak, mengguyur penonton dengan kehangatan barisan para penarinya, putera maupun lebih-lebih puteri. Dalam kostum hitam mereka mengalirkan adegan demi adegan dengan lincah, tangkas, dalam tempo yang tinggi. “Kepribadian Indonesia” Ini sebuah festival pencak tradisionil ataukah parade gubahan baru? Bagong memang mengambil unsur pencak. Bahkan pada nomor tambahannya, Beksan Wayang Golek Umarnaya-Umarmadi yang bergerak bagai golek siku-siku (idenya dinyatakan dari Sultan Hamengku Buwono IX tahun 1940-an), terdapat persamaan gerak tangan, perpindahan posisi kaki dan ekspresi dengan pencak silat. Namun pada Igel-igelan, senjata yang dipakai, perisai misalnya, bukanlah senata silat sementara para penarinya sendiri bukan pula pemain silat–dan memang tidak perlu. Sebaliknya Jawa Barat, dengan kelima nomornya (Ibing Rampak, Cimande, Paleredan, Cikalong, dan Cikeruhan), menampilkan yang tradisi dalam berbagai bentuk. Termasuk demonstrasi perkelahian dari ibu yang berusia 58 tahun dan seorang pria (lihat gambar). Tari Cikeruhan misalnya, memang halus dan kebetulan ditarikan dengan “kosong”, sedikit malu-malu. Namun ia merupakan bagian dari Ketuk Tilu yang populer itu, alias bukan gubahan penata tari “modern”. Jakarta dalam pada itu menampilkan yang tradisi dengan Tari Blenggo, satu jenis pencak yang berkembang di kalangan santri dengan iringan rebana besar dan zikir. Berikutnya adalah Samrah dan Si Pecut Langkah Empat. Ada juga perkelahian anak-anak muda (lebih mengingatkan pada hasil kursus silat daripada perbendaharaan asli), yang dibanding pertarungan dari Priangan sama-serunya namun tanpa keluwesan gerak pencak yang dimaksud. Campurbaur itu memang agak membingungkan – menjadi tak jelas apa sebenarnya yang mau dicapai Festival: mempertunjukkan kekayaan tradisi satu per satu ataukah sekumpulan tontonan — asal menarik. Orang misalnya bertanya: kalau sekiranya Yogya memang tak punya tradisi pencak silat yang khas, mengapa harus dicari-cari, “mentang-mentang Yogya”? Padahal ada Jawa Timur – dan ada daerah lain yang beragam. Tetapi kekurangan perencanaan untuk ide bagus dari Departemen P & K – juga kelihatan dalam dua hari diskusi menyertai Festival. Di situ sebagian kertas kerja bahkan masih berbicara tentang bagaimana cara “membina” pencak silat. Diskusi kemudian didominir oleh pembicaraan tentang wewenang “pembinaan”: antara Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan P & K. Sehingga prasaran seperti dari Edi Sedyawati yang sangat bagus, tentang permasalahan aspek tari dalam pencak silat, tertimbun. Introduksi satu-satu jenis tradisionil sendiri, tak diberikan kepada penonton tentu saja. Meskipun, dan ini memang “kepribadian Indonesia”, dibagikan secara gratis buku acara yang lux – berisi berbagai sambutan yang demi Allah tak ada isinya. Sekiranya penjelasan mengenai satu nomor sudah lebih dulu dipegang penonton, misalnya dalam hal nomor-nomor Minang yang malam itu tampak “kalah pamor,” barangkali orang akan tahu bagaimana “cara menikmatinya.” Misalnya seperti yang ditulis Sal Murgiyanto dari Akademi Tari LPKJ berikut ini

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1978/02/25/TAR/mbm.19780225.TAR71135.id.html

Satu pemikiran pada “Seni tari pencak silat campur baur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s