Bukan Tipu, Bukan Trik, Tapi Debus

07 Juni 1980

Bukan Tipu, Bukan Trik, Tapi Debus

DI pelosok Pulau Simeulue, Kabupaten Aceh, permainan debus tigak hanya populer, tapi merupakan simbol kejantanan di kalangan pemuda. Adalah sangat memalukan kalau seorang remaja setempat tak mampu naik panggung sembari menikam bagian tertentu tubuhnya dengan pisau. Debus adalah tontonan yang memiliki nomor-nomor atraksi ajaib. Seperti: potong lidah dan operasi perut dengan golok, memasak di atas kepala, makan bola lampu, dikubur hidup-hidup. Permainan ini sering dianggap berasal dari daerah Banten Jawa Barat. Tetapi menurut Kepala Deparda Kabupaten Serang, kesenian debus mula-mula dikenal di Aceh. Kemudian mengalir ke Demak, Cirebon dan baru Banten — sesuai dengan urutan masuknya pengaruh agama Islam. Kata debus diambil dari instrumen GEDEBUS yang dipergunakan dalam pertunjukan itu. Di zaman Sultan Agung Tirtayasa (1651-1672) debus dipakai untuk meningkatkan mutu angkatan perang. Dengan kekebalan yang diperoleh, semangat tempur prajurit jadi berlipat ganda. Kini debus menjadi salah satu alat mencari nafkah. Begitu pula debus tidak lagi hanya atraksi kesaktian, tetapi sudah jadi seni dengan masuknya musik dan pencak silat ke dalamnya. Berbagai Ramuan Menurut Arifin pemain debus terkenal di Aceh, karena del)us adalah bagian dari kesenian, ia bisa dipelajari. “Kalau hanya sekedar bermain saja, siapa pun bisa. Tapi untuk jadi khalifah perlu bekal yang cukup — dan ilmu ini bisa diturunkan,” katanya pada TEMPO Khalifah adalah salah satu tingkat dalam debus yang sejajar dengan pawang. Sebagai khalifah, Arifin tidak lagi tampil memperagakan kebolehannya. “Saya hanya turun ke arena bila diminta, terutama dalam permainan tingkat tinggi,” ujar Arifin. Ia biasa tampil dengan pakaian hitam-hitam, mengenakan ikat kepala. Dengan rombongan debusnya, Arifin telah mengalami berbagai cobaan. Misalnya di sebuah pertunjukan pernah para pemainnya sebentar-sebentar mendapat luka, sehingga permainan jadi kurang sedap. Luka itu memang terus mengatup dan sembuh cukup dengan menyapukan tangan. Tetapi ia sadar ada yang ingin mencobanya. Lalu Arifin bangkit, mengambil pisau-pisau dari pemainnya dan main sendirian. Permainan yang disuguhkannya sangat mengerikan. Pisau patah satu persatu. Beberapa penonton bahkan jatuh pingsan karena merasa ngeri. Bcgitulah ia main sampai si pengganggu menyingkir. “Saya tahu orangnya dan cara itu saya tempuh untuk menentangnya,” ujarnya. Arifin tahan mai n dari sejak usai magrib sampai subuh . Tapi ia juga pernah mengalami coba n lain. Dalam sebuah pertunjukan ia cuma kuat sampai tengah malam. Ia tidak mampu lagi bermain terus. Dan dia gelisah. Akhirnya pertunjukan dihentihan Esoknya ketahuan, di bawah pangung ada yang menanam bermacam tamuan.” Sebagai khalifah, cobaan macam itu merupakan kejadian biasa,” komentar Arifin. Debus menurut Arifin (42 tahun) bukan tipu, bukan pula trik. Tapi memang mengandung magis. Sebagai contoh, dalam setiap pertunJukan siapa saja boleh naik ke panggung dan minta pada khalifah untuk main. Ia boleh menikam diri dengan pisau dengan jaminan keselamatannya dari khalifah. Asal syaratnya,setiap tikaman harus tak boleh meleset dari suara rapai — gendang khusus untuk mengiringi debus. Bila tidak seirama, kemungkinan luka bisa terjadi. Grup debus Arifin sekali muncul memasang tarif Rp 50 ribu. Tapi Arifin sendiri tak pernah mengharapkan bisa hidup dari debus. “Permainan itu tak bisa dijadikan mata pencarian tetap,” katanya la lebih senang menggantungkan nafkahnya sebagai tukang potret keliling — di samping menjadi dukun yang beken, yang dianggapnya sebagai pengamalan dari ilmu debusnya. “Pemain debus memang dapat menjadi dukun,” kata Udin Pendek, pemain debus yang lain di Aceh sana. Lelaki usia 38 tahun ini belum sampai tingkat khalifah. Tapi ia terkenal sebagai orang kebal. Udin yang pendek kekar ini menusuk dirinya dengan nibung (sebangsa palem yang berduri), yang umumnya merupakan pantangan perguruan debus lain. Sebab pemain debus umumnya menguji kekebalannya dengan besi (pisau). Ia pernah berkeliling sampai ke Malaysia, diajak oleh sebuah tim kesenian. Tetapi sebagaimana rekannya Arifin, Udin tidak hidup hanya dari debus. sehari-hari ia adalah buruh bongkar barang yang melayani truk di Pasar Aceh, Banda Aceh. Muhammad Ilyas (61 tahun) yang kabarnya masih keluarga Sultan Banten, sempat menggegerkan Expo 70 di Osaka. Ditemani oleh Jasmani, Chatib, Kusrani, Juhri dan Jaya, teman-teman seperguruannya dengan iringan musik kaset, ia menyuguhkan atraksi antara lain menggoreng kerupuk di atas kepala. Orang-orang di sana semua tercengang. Ilyas kelahiran Pandeglang ini mendapat ilmu dari beberapa orang guru. Terutama dari Kiai Rafiuddin, Kemanduran, Serang. Ia menjalankan berbagai macam puasa. Di masa perang kemerdekaan, sebelum bertempur ia membagi-bagikan air kepada para tentara. Air ini sudah ia isi dengan kalimat-kalimat Al Qur’an. Ternyata peluru hanya berdesing-desing saja di sekitar kepala para prajurit. “Itu semua karena kekuasaan Allah,” kata Ilyas. Orang tua ini dengan rombongannya sering main di Jakarta, antara lain di Hotel Borobudur, TIM, Pekan Raya Jakarta dan klub malam Marcopolo serta Tropicana. Tarifnya berkisar antara Rp 10 ribu (kalau main di kampung) sampai dengan Rp 300 ribu. Kelompok debus llyas pernah ikut main dalam film Malin Kundang, Dukun dan 2 film dokumenter: Batik dan ,Imin. Pada 1971 dan 1978 kelompok ini ikut kampanye Pemilihan Umum untuk Golkar. Kenapa Golkar Dijawab langsung: karena pemerintah yang memintanya — juga karena tak ada partai lain yang mengajak kampanye. Selain pemimpin rombongan debus, Ilyas juga ketua Persatuan Pencak Silat Indonesia Cabang Pandeglang sejak 1970.1a juga dikenal sebagai dukun. Kadangkala malam hari muncul seorang ibu membawa anaknya yang tak mau berhenti menangis. Atau muncul pula orang sakit demam minta semacam berkah. Ini seringkali mendatangkan uang lebih banyak dari permainan debus yang hanya sekali-sekali itu — kendati Ilyas mengaku ia tidak mengkomersialkan kebolehannya mendukun itu. Tokoh debus lain di Banten adalah Idris. Lelaki yang berusia 60 tahun ini memiliki rombongan yang beranggota 30 orang yang berusia antara 20 sampai 60 tahun terdiri dari tukang batu, kuli, pembuat bata, pedagang atau tukang ojek. Minimal sebulan sekali mereka mengadakan latihan. Menurut Idris setiap orang juga bisa mempelajari debus, asal tekun dan beragama Islam. Syaratnya berpuasa dan bersih dalam arti yang luas. Sebelum berkenalan dengan benda-benda tajam setiap calon terlebih dulu harus memiliki dasar silat. Nah, kebanyakan calon biasanya takut menghadapi barang tajam. Umumnya dari 10 calon pemain debus hanya dua orang yang jadi. Dada Idris sendiri pernah ditembus pisau ketika masih berguru dulu. Tapi begitu ditiup gurunya, luka itu terus sembuh. Beda debus dengan permainan kuda lumping atau tari keris (Bali) menurut Idris: debus dilakukan dalam keadaan sadar. Permainan ini dilakukan oleh 18 orang, 8 di antaranya penabuh. Setiap pertunjukan memerlukan 1,5 sam?ai 2 jam dengan 10 macam permainan-meliputi: silat debus, debus, permainan golok, makan beling, potong lengan dengan pisau, potong lidah, goreng telur di atas kepala, mandi air keras, mengupas kelapa dengan gigi dan demonstrasi debus Al Madad. Idris pernah mendapat pengalaman menarik waktu main di Malaysia. Sedang main di hadapan keluarga raja, seorang putri yang sedang sakit panas tibatiba mengigau berkali-kali. Orang tuanya segera mohon bantuan Idris. Hanya dengan air putih dan jampijampi, Idris berhasil menyembuhkannya. Kontan saja semua orang senang. Idris pun diberi hadiah 2 stel pakaian dan uang tunai 20 dollar Malaysia. Menurut Ratmawijaya tokoh debus di kampung Pintusari, Desa Banjar, Kabupaten Bandung sebelum melakukan pertunjukan debus harus mengadakan sajen. Maksudnya untuk mahluk gaib yang mungkin mengganggu pertunjukan. Ia sendiri pernah diganggu, meskipun belum pernah gagal melangsungkan pertunjukan. “Saya yakin orang yang dekat kepada Tuhan dan melakukan suruhanNya pasti dilindungi Tuhan,’ katanya. Kata Ratma, “debus merupakan gabungan olahraga dengan konsentrasi batin.” Di Jakarta ada kelompok debus yang lain dari debus pada umumnya. Namanya “Dadakan’s Group” pimpinan Jack Noer. Didirikan pada 1974. Kini anggotanya sudah 40 orang. Jack Noer memeras debus sehingga tinggal pertunjukan kesaktiannya saja. Cara bermainnya bahkan tak ditemukan pada debus tradisional. Misalnya menampilkan ular. Menyuguhkan cerita rakyat, kadangkala gubahan dari lakon Shakespeare, atau Sophokles. Atraksi kesaktian dimasukkan dalam cerita agar tambah menarik. Untuk mempertahankan kesaktiannya, Jack yang tinggal di daerah Petojo Utara (Jakarta Pusat) melakukan puasa terhadap beberapa jenis makanan selama beberapa hari. Dan sembahyang hajat setiap hendak main. Karena main pakai cerita, 2 minggu sekali grup ini mengadakan latihan. Sampai sekarang mereka sudah main sekitar 100 kali pertunjukan. Punya 20 ekor ular. Tarif sekitar Rp 50 ribu sekali main. Setiap anggota minimal memperoleh Rp 750 sekali main.http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1980/06/07/SD/mbm.19800607.SD53553.id.html

6 pemikiran pada “Bukan Tipu, Bukan Trik, Tapi Debus

  1. kesannya pemerintah gak punya perhatian banget sama budaya sendiri. rata2 para pelestari budaya kayak gini kerjanya nguli, juru potret, apalah..kasian ,, ga ada penghargaannya sedikit pun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s