Titisan Murni Putra Betawi

Sabtu, 21 Oktober 2006

Titisan Murni Putra Betawi

Apakah Anda tahu di mana letak Jalan Pangeran Jayakarta? Jalan yang terletak di wilayah Kota itu diabadikan untuk mengenang perjuangan Ahmad Djakerta atau Pangeran Jayakarta III, keturunan Fatahillah, pendiri Kota Jakarta.

Ketika Pangeran Jayakarta III berkuasa, armada Maskapai Perdagangan Belanda (VOC) menyerang Jakarta pada 1619. Pada waktu itu, istana Jayakarta terletak di kawasan yang sekarang disebut Mangga Dua. Ketika istananya diserang, Pangeran Djakerta berhasil meloloskan diri.

Untuk mengelabui tentara kompeni Belanda, sang pangeran melempar jubahnya ke dalam sumur, untuk mengesankan ia sudah tewas dan mayatnya dibuang ke sumur. Belanda pun mengira demikian. Setelah Jayakarta dikuasai Belanda, Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen mengubah nama kota menjadi Batavia.

Sedangkan Pangeran Jayakarta dan pengikutnya bertahan di hutan jati di wilayah timur Jakarta. Wilayah itu lantas disebut Jatinegara, yang bermakna “negara atau pemerintah (Jakarta) yang sejati”.

Di wilayah itu pula Pangeran Djakerta menggalang kekuatan untuk melawan Belanda. Ia menyamar sebagai rakyat jelata dan terus bergerilya hingga akhir hayatnya. Anak keturunannya juga terus hidup dan menyembunyikan identitasnya.

Cirinya adalah nama depan “Ateng” yang sebenarnya berarti “Raden”. Bukan cuma nama yang diwariskan keturunan Pangeran Jayakarta, tapi juga permainan pencak silat. Salah satu keturunannya yang mewarisi ilmu silat adalah Haji Ateng Abdulrahim (1885-1970).

Ateng Abdulrahim, yang setelah menunaikan haji dipanggil H. Ibrahim, pada masanya dikenal jago Mester, Jatinegara. Ia belajar ilmu silat dari ayahnya, Ateng Abdul Hamid, dan pamannya, Ateng Arwah dan Ateng Damis, juga dari banyak guru silat lainnya seperti Ki Asnawi dan H. Solihin.

H. Ibrahim mewariskan ilmu silatnya kepada anak angkatnya, H. Ahmad Bunawar dan muridnya, H. Deddy Setiadi, yang kemudian mendirikan perguruan pencak silat Tiga Berantai pada 1975.

Menurut H. Ahmad, perguruannya disebut Tiga Berantai karena ada tiga aliran besar ilmu silat yang diajarkan, yakni Si Macan, Si Tembak, dan Si Karet.

Si Macan adalah ilmu silat yang diwariskan Pangeran Jayakarta. Cirinya adalah serangan jari tangan cakar dengan landasan tenaga dalam yang kuat. Dalam pertarungan, cakar digunakan untuk menyerang titik lemah musuh, seperti mata dan tenggorokan.

Adapun Si Tembak adalah ilmu silat yang diwariskan Pangeran Sugiri, kerabat Pangeran Jayakarta. Ciri khasnya adalah menyimpan pukulan telapak tangan kanan yang dialiri tenaga dalam untuk kemudian dilepaskan sebagai pukulan pamungkas.

Yang ketiga adalah Si Karet, ilmu silat yang merupakan penggabungan dari berbagai aliran, seperti aliran Kebon Manggis dari H. Solihin, Cikaret dari Bogor, aliran Mak Inem Pengasinan dari Kerawang, serta Serak dari Pak Muhin di Tenabang.

Selain itu, aliran silat Si Sabar dari Kebon Sirih dan Giek Sao dari Cina Utara. “Si Sabar diajarkan kakek saya, Engkong Musa, dan Giek Sao diajarkan ayah saya, H. Muhasim,” kata H. Ahmad.

Dengan warisan aliran silat yang begitu kaya, tak aneh jika Tiga Berantai menjadi perguruan silat yang disegani. Tiga Berantai yang juga salah satu perguruan pendiri Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sering kali menguasai turnamen pencak silat dalam dan luar negeri serta telah mencetak banyak juara.

Selain itu, Tiga Berantai merupakan pendiri Persatuan Pencak Silat Betawi yang mewadahi 80 aliran silat di Jakarta. AMAL IHSAN – Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s