Pendekar Kulit Putih dari Tanah …

12 Desember 1987

Pendekar Kulit Putih dari Tanah …

ORANG bule main pencak, itu bukan hal baru. Tapi pesilat bule menjatuhkan pesilat Melayu bisa disaksikan di Kejuaraan Pencak Silat se-Dunia di Kuala Lumpur, 3-7 Desember lalu. Ada sembilan pesilat bule (Denmark, Belanda, Spanyol, dan Jerman Barat) dari 15 kelas yang dipertandingkan mencapai babak final. Dua di antaranya meraih gelar juara. Alberto Cerro Leon (Spanyol) mengalahkan Mohamad Rosidi Abdullah (Brunei) dalam kelas bebas di atas 70 kg. Dan Marcel Copini (Belanda) mengalahkan Sarno (Indonesia) dalam kelas 80-85 kg. Dililit pakaian pendekar yang serba hitam, gerakan mereka rata-rata menunjukkan jago silat sungguhan. Ketika wasit memberi aba-aba dalam bahasa Melayu tepatnya bahasa Indonesia tak ada pesilat yang bengong. Ya, bahasa Indonesia memang sudah menyatu dengan pencak silat. Banyak pesilat kulit putih yang sudah fasih berbahasa Indonesia, meski belum pernah menginjak bumi Nusantara ini. Misalnya Mariel Kavos pesilat berumur 26 tahun asal Prancis. Belajar pencak dan bahasa Indonesia dilakukan berbarengan dari gurunya, Muhammad Raban. Selesai kejuaraan ini, Mariel, yang turun dalam nomor seni (kembangan), merencanakan memperdalam silat Setia Hati di Madiun, Jawa Timur, selama lima bulan. “Saya akan mempelajari kebatinannya juga,” katanya. Belajar silat dan bahasa Indonesia berbarengan memang langkah praktis. Begitulah rata-rata petunjuk dari guru mereka. Hiltrud Cordes, pesilat Jerman Barat, juga menyadari itu. Pesilat wanita yang antropolog ini terkesan gerakan silat ketika berwisata di Indonesia. Kebetulan, sekembalinya ke Jerman Barat, ia ketemu guru silat asal Sumatera. Hiltrud pun digembleng. Satu setengah tahun belajar bahasa Indonesia di kampusnya, Universitas Koln, antropolog ini mempersiapkan tesisnya untuk gelar doktor. Ia tinggal di desa di Minangkabau selama enam bulan hingga Oktober lalu. Obyeknya, “Silek Tuo” di Minang. “Pencak silat itu punya keunikan tersendiri. Dan saya lebih tertarik seninya ketimbang olah raganya itu sendiri,” katanya. Di Jerman Barat, katanya, ada tiga perguruan silat dengan murid sekitar 150 orang. Belum seberapa, memang. Sebab, orang Jerman lebih menyukai tinju dan gulat. Tapi di Spanyol ada sekitar 2.500 murid yang terserap di 21 sekolah. Mahaguru silat “Harimau Minang” yang beken adalah Juan I. Barrenetxea Sagardui. Dua puluh tahun sudah ia belajar silat pada Adityo Hanafi, guru silat pada KBRI di Madrid, Spanyol. Dari sembilan muridnya yang berlaga pada nomor perkelahian, tiga masuk final. Ia punya target dua emas dan sebuah perak. Salah seorang muridnya yang menggondol emas adalah Alberto Cerro Leon. Alberto pada kejuaraan silat dunia tahun lalu di Wina, pernah menggasak Budi Rahardjo, pesilat Indonesia dari Bangau Putih. Akibat pukulan Alberto yang keras, Budi sempat dirawat di rumah sakit tiga hari. Alberto, pemuda bujangan berumur 26 tahun ini, punya persiapan matang. Kejuaraan Silat Dunia yang diikuti 19 negara ini — karena minus Muangthai yang menarik diri dan Swiss yang tak bisa hadir karena guru besar mereka, H.K. Taher, sakit — tak lepas dari rasa tidak puas. Juan si Harimau Minang, misalnya, kurang puas ketika nomor seni kembangan untuk medali perak dan perunggu dimenangkan Malaysia A dan Indonesia — emas diraih Malaysia B. Juan lebih condong, Spanyol berhak mendapat perak atau perunggu. Sebab, penampilan Malaysia A dan Indonesia buruk. “Di sini ‘kan negara asalnya. Jadi, ya, tentu tak semudah melepaskannya untuk negara di luar (rumpun) Melayu,” kata Juan, yang akhirnya pasrah. Ketidakpuasan Juan diluruskan Basiron Hamit, Komisi Teknik penyelenggara di kejuaraan ini. “Itu tidak benar. Orang Spanyol itu maunya menang saja,” katanya. Eddie Nalapraya, Ketua Pencak Silat Indonesia yang merangkap Presiden Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat), juga melihat gugurnya Spanyol itu lantaran tak memenuhi kriteria pertandingan dalam kembangan, tunggal, dan berpasangan (tanpa perkelahian). Protes diam-diam juga terlontar. Banyak peserta menyesalkan Malaysia, yang seolah-olah begitu bernafsu mengeruk medali. Malaysia, katanya, “mencuri” dua kemenangan dari seni kembangan. Ini tampak dari penempatan dua jurinya. Sementara itu, untuk mewakili Eropa, Brunei, Indonesia, dan Singapura cuma ada empat juri. Lepas dari kekurangan di sana-sini, Persilat — organisasi yang didirikan Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei tujuh tahun lalu sudah berbuat banyak. Dua tahun setelah organisasi berdiri, kejuaraan pertama diadakan di Jakarta. Tahun 1984 juga Jakarta yang jadi tuan rumah. Kejuaraan ketiga dilakukan di Wina, Austria, diikuti 11 negara pada 1986. Setelah kejuaraan ini, sudah lima negara (Australia, Jerman Barat, Singapura, Suriname, dan Turki) menawarkan diri jadi tuan rumah pada kejuaraan 1990 mendatang. Itu sebabnya, di Malaysia, silat, yang semula dibina oleh Kementerian Belia dan Sukan (Pemuda dan Olah Raga), kini tanggung jawabnya dialihkan kepada Kementerian Kebudayaan dan Pelancongan (Pariwisata). Maksudnya agar dengan pencak silat wisatawan bisa mengalir ke Malaysia. Di Indonesia, gerakan membudayakan silat juga tercermin. IPSI telah mengirim surat ke Menteri Luar Negeri dan Menteri P & K, agar silat dimasukkan dalam paket diplomasi kebudayaan. “Ya, mudah-mudahan saja jawabannya positif,” kata Eddie Nalapraya cerah. Kejuaraan yang berakhir Senin malam pekan ini menampilkan 21 finalis Melayu 12 di antaranya Indonesia (7 putra dan 5 putri). Indonesia tetap sebagai juara umum, sejak kejuaraan ini dimulai, dengan perolehan 10 emas, 2 perak, dan sebuah perunggu. Itu berarti Piala Presiden RI tetap di tangan dan sebuah piala dari Malaysia bernama Hang Tuah ikut melengkapi kemenangan ini. Tempat kedua diduduki Malaysia, disusul Brunei, dan kemudian Spanyol. Belanda yang di kejuaraan Wina berhasil menjadi juara II, kali ini cuma di urutan kelima. Widi Yarmanto (Jakarta), Ekram H. Attamimi (Kuala Lumpur)

 

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1987/12/12/OR/mbm.19871212.OR32996.id.html

Maret 22, 2011 at 7:12 am 1 komentar

Pendekar-pendekar manca negara

14 Agustus 1982

Pendekar-pendekar manca negara

MULA-MULA John Will tampak seperti masih menyusun kuda-kuda kedua kakinya. Dalam keadaan begitu sebuah ayunan pelungku pesilat Jaelani Kassim (Malaysia) mendarat di dada John Will. Serangan itu dengan segera memancing pesilat Australia itu mengeluarkan jurusjurus yang sukar diduga lawannya. Kedua lengannya berkembang, disusul ayunan kaki beruntun ke dada lawan. Suatu ketika ia menjatuhkan diri dengan kaki kiri terlipat bersila dan serempak kaki kanannya terentang menyapu Jaelani. Pesilat Malaysia itu sempoyongan keluar lingkaran arena. Angka kemenangan diberikan dewan juri kepada John Will. John Will (25 tahun) adalah pendekar satu-satunya dari negeri Kanguru yang ikut Invitasi Pencak Silat Internasional Prasetiya Mulya Pertama (6-8 Agustus) di Istora Jakarta. Meski satu-satunya, penampilannya paling mengesankan di antara peserta berkulit putih. Ia adalah guru olahraga pada sebuah perusahaan di Melbourne. “Sejak 1975, 4 bulan dalam setahun saya menetap di Bali untuk belajar silat,” tutur pemuda brambut keriting itu dalam bahasa Indonesia yang fasih. John Will, katanya sebelum berguru silat di perguruan Bakti Negara (Bali), pernah belajar di berbagai perguruan silat di Indonesia. Ia meninggalkan setiap perguruan setelah mengalahkan rekan-rekan seperguruan. Cuma di Bali ia menemukan pendekar-pendekar yang membuat dia harus berguru sampai tahun 1982 ini. “Mungkin ini tahun terakhir,” tutur pelatihnya, Bagus Ketut Dani Suparta. John Will sudah membuka perguruan Bakti Negara cabang Australia dengan 100 murid. Tiap murid membayar A$ 15 sebulan. Rencananya jika menjadi juara di Jakarta dia akan melaporkan keikutsertaannya dalam invitasi ini kepada pemerintahnya di Australia. John Will yang datang ke invitasi ini dengan biaya sendiri, akan memperkenalkan pencak silat sebagai bagian dari cabang bela diri yang dibawahkan konsul bela diri Australia. Sekarang yang telah dibawahkan konsul ini adalah karate, taekwondo dan jiu jitsu. Dia sendiri mula-mula adalah penggemar seni bela diri dari Jepang itu. “Tapi olahraga-olahraga itu membosankan, karena itu saya memilih pencak silat,” tutur John Will. Tak kalah teknik dari John Will adalah pesilat Jerman Barat, Zeljko Menikanin (20 tahun). “Ia juara pencak silat se Eropa tahun ini,” ungkap gurunya, Arief Suryana 33 tahun). Pemuda ganteng, yang digelari “Lady Di” oleh pesilat-pesilat putri Indonesia karena rambutnya mirip istri putra mahkota Inggris itu, menurut Arief, tertarik pada silat karena ia penggemar film kungfu. Mula-mula Menikanin belajar kungfu, tapi kemudian berguru pada Arief Suryana, putra Banten yang membuka perguruan Panca Indra Sakti di Jerman. “Dalam perguruan kungfu pemuda Jerman tak puas. Justru dalam silat kita, kata mereka, jurus-jurus yang diajarkan lebih mirip Bruce Lee di film,” tutur Arief. Bukan cuma dari kalangan tukang las seperti Zeljko Menikanin yang menggemari silat Indonesia. Pelajar SMP seperti Slavko Rako (16 tahun), tertarik karena silat adalah olahraga yang menarik. Para mahasiswa di Jerman pun banyak, karena menurut mereka perguruan silat bukan cuma tempat olahraga beladiri, tapi juga memberi ajaran filsafat. Contoh jelas, Dieter Rajic (30 tahun) belajar pencak silat sejak ia mulai kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Aachen. Satu falsafah silat yang sangat dihayati Dieter Rajic, yakni “padi semakin berisi semakin tunduk.” Sudah 6 tahun ia belajar silat dan kini bergelar Kar 2 (Kampfer atau Pendekar) — serta sudah diangkat jadi guru silat. Ia menolak dipotret bersama Ketua IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia) Eddy Nalapraya, karena “takut disangka mau sok jagoan di negeri silat ini.” “Pemuda-pemudi Jerman tertarik pada pencak silat hanya sebagai olahraga. Bukan untuk gagah-gagahan. Karena di Jerman kalau berani memukul orang, bisa dituntut di pengadilan dan didenda DM 100 (Rp 25.000),” tutur Arief Suryana, yang belum lama ini mendapat gelar sarjana arsitektur di sana. Fedefasi Sport Nasional Jerman Barat telah mengakui pencak silat sebagai olahraga resmi di negara itu. Di Negeri Belanda memang sering terjadi perkelahian, apalagi di daerah hitam Haarlem. Di dekat stasiun Haarlem kebetulan ada perguruan silat pimpinan A D. Nclson (50 tahun). Warganegara Belanda keturunan Manado ini lahir di Besuki, Jawa Timur dan bergelar pendekar 5 aliran (Pamur, Bawean, Badai, Manyang dan Bakti Negara Bali). Ia juga adalah karyawan Delta Lloyd Amsterdam dan menjabat Sekjen Bond Pencak Silat Belanda (BPSB). Kemajuan pencak silat di Belanda, antara lain diperlihatkan secara mengesankan oleh Ronald Boham di malam pembukaan kejuaraan Jumat lalu. Ronald Boham dijuluki penonton sebagai Belanda Hitam, karena pemuda 15 tahun itu memang warga Indonesia. Ayahnya, Otto Karl Boham, berasal dari Bunaken (Sangihe Besar), bekerja sebagai Ketua Dewan Ekonomi Veteran Indonesia (DEVI) cabang Eropa dan menjadi Ketua Bond Pencak Silat Belanda. “Usaha pembentukan bond sudah dimulai sejak 1972, tapi baru bisa menjadi bond setelah beranggotakan 2.000 orang tahun 1977,” tutur Otto Karl Boham. Kini di Belanda sudah ada 39 perguruan, dengan 3.500 murid, antara lain pimpinan A.D. Nelson, Simon (pemuda Bandung) dengan aliran Pancabela dan Agus dari Panca Indra Suci Banten. Karena usaha BPSB pula pemerintah Belanda sudah mengakui pencak silat sebagai cabang olahraga nasional. “Pemerintah kotapraja banyak membantu menyediakan sarana gedung untuk latihan. Malah dalam penyusunan anggaran belanja negara itu 1983-1984, bond sudah diminta mengajukan anggaran,” tutur ketua BPSB. Mungkin karena itu Ketua IPSI Eddy Nalapraya telah meminta BPSB menjadi tuan rumah kejuaraan pencak silat Prasetiya Mulya II tahun 1984 di Belanda. Pendekar-pendekar dari Belanda rupanya menyetujui hal itu.

Maret 22, 2011 at 7:09 am Tinggalkan Komentar

Dialog Pendekar

04 Agustus 1979

Dialog Pendekar

PREDIKAT tradisional ternyata bukan jaminan. Pencak silat sebagai olahraga dan seni beladiri khas Indonesia belum diakui secara bulat. Mengapa? “Sampai sekarang belum ada pencak silat nasional,” kata Syahrunisa, suhu perguruan Karate-do Tangan Kosong (Tako). Musyawarah nasional Tako di Medan baru-baru ini mengemukakan gagasan untuk menciptakan olahraga dan seni beladiri berkepribadian Indonesia. Bentuknya? “Boleh jadi perwujudan pencak silat dan karate,” kata Ketua Tako, Dr Suhardiman SE. Tako, anggota Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (FORKI), memang telah membaurkan pencak silat dan karate dalam perguruan mereka. Perbandingannya 25-75. “Itu bukan hal baru,” kata Ketua Dewan Guru Institut Karate-do Indonesia (Inkai), drs. Sabeth Muchsin. “Di Inkai sudah terjadi seperti itu.” Ia mengambil contoh pada diri Advent Bangun (Dan III) yang mengawali karir dari perguruan silat Beringin Sakti. Bahkan jauh sebelum Tako melontarkan ide, menurut Sabeth, tahun 1970 telah ada pernyataan bersama IPSI, PERKEMI, dan PORKI untuk saling tukar-menukar informasi mengenai teknis maupun organisastoris dari ketiga cabang olahraga beladiri tersebut. Ia berpendapat, hendaknya setiap cabang mempertahankan kekhasan sendiri. Misalnya, dari pencak silat yang harus dipertahankan adalah ‘kembangan’nya, dan pada karate adalah ‘teknik analisa bagian tubuh’. “Saya sendiri tertarik sekali dengan ‘kembangan’ dari pencak silat, lanjut Sabeth. “Di kemudian hari, saya bermaksud untuk memasukkannya ke dalam karate.” Tapi Sabeth menolak bentuk perpaduan unsur semacam itu sebagai khas Indonesia sebagaimana dilansir Tako. “Indonesia-nya sampai di mana?” tanya Sabeth. “Saya malah kuatir hal itu akan membentuk aliran baru yang menjauhkan diri dari standarisasi.” Ia mengusulkan supaya diadakan saling tukar-menukar informasi saja, sebagaimana tertuang dalam kesepakatan tahun 1970. “Yang terang, pencak silat sudah lebih maju daripada karate. Mereka telah mengadakan pertandingan antar daerah tanpa mempersoalkan aliran,” tambahnya. Bagi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), keinginan Tako itu tampak tidak terlalu mengejutkan. Karena di tahun 1973, Kung Fu, silat Tionghoa sudah masuk mereka. “Sebenarnya proses penyatuan semacam itu sudah banyak,” kata Sekjen IPSI, Harsoyo. “Bahkan pernah ada perguruan Jusika Perisai Putih.” Jusika adalah bentuk gabungan dari jujitsu, pencak silat, dan karate. Tak jelas bagaimana kelanjutannya sekarang. Aba-Aba Harsoyo tidak mengatakan beladiri gabungan itu sebagai khas Indonesia. Mengapa? “Biasanya yang terjadi standarisasinya (teknik) dari luar negeri, sedang pengisian (tenaga dalam) dari pencak silat,” ujar Harsoyo. Kini, untuk bentuk gabungan, IPSI sudah mempunyai persyaratan tertentu. Antara lain, demikian Harsoyo, nama dan aba-aba bentuk baru harus berkepribadian Indonesia, tidak berafiliasi dengan induk di luar negeri, dan ada proses naturalisasi secara politis (misalnya, Pancasila, UUD ’45). Soal nama, aba-aba, dan persyaratan lainnya bagi Tako mungkin tak ada persoalan. Suhardiman sendiri telah mengemukakan bahwa gerakan dari olahraga beladiri yang dicita-citakannya akan tetap mempergunakan istilah Indonesia. Perguruan pencak silat yang menyambut ide Tako sudah ada. Buyung Ramli, pimpinan pencak silat Kramat Kwitang (Jakarta) mengatakan bahwa dari usaha Tako itu diharapkan suatu saat nanti olahraga beladiri gabungan itu bisa diekspor ke luar negeri. Juga Jadi Widjaja dari perkumpulan Cakar Elang berpendapat demikian. “Kalau sudah benar-benar universil, tentu negara-negara lain pun akan tertarik,” katanya. Mengapa Tako begitu antusias? Syahrunisa melihat perkembangan baru dalam berbagai olahraga beladiri belakangan ini. Ia mengambil contoh pada Judo yang sekarang ini lebih merupakan bentuk olahraga saja, kurang unsur beladirinya. Ia memperkirakan karate di masa depan akan demikian pula halnya. “Karena itu Tako harus mempertahankan dan mengembangkan ilmu beladiri serta olahraga sekaligus, dan bernafaskan nasional,” katanya. Tako memperkirakan bentuk baru itu akan digemari masyarakat dalam 5 tahun mendatang.

 

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1979/08/04/OR/mbm.19790804.OR55027.id.html

Maret 22, 2011 at 7:05 am Tinggalkan Komentar

Perguruan Pencak Silat Tenaga Dasar (PSTD)

Perguruan Pencak Silat Tenaga Dasar (PSTD) Indonesia adalah nama baru dari Kateda (Kesatuan Aliran Tenaga Dasar) Indonesia. Itu diputuskan pada Rakernas 2 Juni 1991. Perubahan nama itu bertujuan untuk lebih memperlihatkan identitas pencak silat sebagai perguruan yang bernaung di bawah IPSI. Perguruan kami sebelumnya bernama Kateda Indonesia yang dipimpin Jimmy Thaibsyah itu sejak 1987 tidak lagi mempunyai ikatan dengan Kateda Internasional yang dipimpin Lionel Henry Nasution dan perguruan-perguruan lain yang berinisial Kateda. Demikian penjelasan kami agar tidak terjadi salah pengertian. TJAHJO PRAMONO, S.H. Ketua Umum Perguruan Pencak Silat Tenaga Dasar Indonesia Bimantara Building Jalan Kebon Sirih 1719 Jakarta 10340

Maret 22, 2011 at 6:42 am 4 komentar

Seni tari pencak silat campur baur

25 Februari 1978

Seni tari pencak silat campur baur

TIDAK semua orang tahu, yang akan dipertunjukkan tanggal 6-8 Pebruari di TIM itu pencak silat sebagai perkelahian atau sebagai tarian. Ataukah gubahan tari “modern” yang mengambil unsur pencak silat Acara itu sendiri disebut Festival Tari Pencak Silat diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Kesenian P & K bersama Dewan Kesenian Jakarta. Jadi ini memang tari, hanya saja tentu ada silatnya. Moga-moga ramai. Tapi acara pertama di malam pertama, lesu. Orang seperti bersiap melihat sebuah acara TVRI, ketika satu rombongan dengan pakaian adat Minangkabau – lengkap dengan seorang gadis membawa sesajian dan mengenakan tutup kepala yang khas–mengalir dari belakang panggung untuk duduk berjejer di arena menghadap penonton. Bagian selanjutnya sudah dapat diduga: gerak-gerik yang lamban. Meski ternyata tidak ornamentik atau penuh pulasan seperti di TV, tak urung tarian silatnya yang kedua, yang bernama Hulu (Alu) Ambek, tak mampu menyebarkan bobot intens yang dikandungnya ke tengah penonton yang sama sekali tak tahu latar-belakang. Nyatalah: ketika muncul rombongan tari Bagong Kussudiardjo dari Yogya, acara Minang serta-merta disingkirkan dari ingatan penonton dan mereka bertepuk riuh. Bagong, dengan gubahan barunya Igel-igelan yang dikatakan mengambil gerak dan bentuk pencak, mengguyur penonton dengan kehangatan barisan para penarinya, putera maupun lebih-lebih puteri. Dalam kostum hitam mereka mengalirkan adegan demi adegan dengan lincah, tangkas, dalam tempo yang tinggi. “Kepribadian Indonesia” Ini sebuah festival pencak tradisionil ataukah parade gubahan baru? Bagong memang mengambil unsur pencak. Bahkan pada nomor tambahannya, Beksan Wayang Golek Umarnaya-Umarmadi yang bergerak bagai golek siku-siku (idenya dinyatakan dari Sultan Hamengku Buwono IX tahun 1940-an), terdapat persamaan gerak tangan, perpindahan posisi kaki dan ekspresi dengan pencak silat. Namun pada Igel-igelan, senjata yang dipakai, perisai misalnya, bukanlah senata silat sementara para penarinya sendiri bukan pula pemain silat–dan memang tidak perlu. Sebaliknya Jawa Barat, dengan kelima nomornya (Ibing Rampak, Cimande, Paleredan, Cikalong, dan Cikeruhan), menampilkan yang tradisi dalam berbagai bentuk. Termasuk demonstrasi perkelahian dari ibu yang berusia 58 tahun dan seorang pria (lihat gambar). Tari Cikeruhan misalnya, memang halus dan kebetulan ditarikan dengan “kosong”, sedikit malu-malu. Namun ia merupakan bagian dari Ketuk Tilu yang populer itu, alias bukan gubahan penata tari “modern”. Jakarta dalam pada itu menampilkan yang tradisi dengan Tari Blenggo, satu jenis pencak yang berkembang di kalangan santri dengan iringan rebana besar dan zikir. Berikutnya adalah Samrah dan Si Pecut Langkah Empat. Ada juga perkelahian anak-anak muda (lebih mengingatkan pada hasil kursus silat daripada perbendaharaan asli), yang dibanding pertarungan dari Priangan sama-serunya namun tanpa keluwesan gerak pencak yang dimaksud. Campurbaur itu memang agak membingungkan – menjadi tak jelas apa sebenarnya yang mau dicapai Festival: mempertunjukkan kekayaan tradisi satu per satu ataukah sekumpulan tontonan — asal menarik. Orang misalnya bertanya: kalau sekiranya Yogya memang tak punya tradisi pencak silat yang khas, mengapa harus dicari-cari, “mentang-mentang Yogya”? Padahal ada Jawa Timur – dan ada daerah lain yang beragam. Tetapi kekurangan perencanaan untuk ide bagus dari Departemen P & K – juga kelihatan dalam dua hari diskusi menyertai Festival. Di situ sebagian kertas kerja bahkan masih berbicara tentang bagaimana cara “membina” pencak silat. Diskusi kemudian didominir oleh pembicaraan tentang wewenang “pembinaan”: antara Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan P & K. Sehingga prasaran seperti dari Edi Sedyawati yang sangat bagus, tentang permasalahan aspek tari dalam pencak silat, tertimbun. Introduksi satu-satu jenis tradisionil sendiri, tak diberikan kepada penonton tentu saja. Meskipun, dan ini memang “kepribadian Indonesia”, dibagikan secara gratis buku acara yang lux – berisi berbagai sambutan yang demi Allah tak ada isinya. Sekiranya penjelasan mengenai satu nomor sudah lebih dulu dipegang penonton, misalnya dalam hal nomor-nomor Minang yang malam itu tampak “kalah pamor,” barangkali orang akan tahu bagaimana “cara menikmatinya.” Misalnya seperti yang ditulis Sal Murgiyanto dari Akademi Tari LPKJ berikut ini

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1978/02/25/TAR/mbm.19780225.TAR71135.id.html

Maret 22, 2011 at 6:39 am 1 komentar

Gerakan 1000 Stiker Silat Indonesia (Batal)

Assalamu alaikum

Hallo sahabatsilat, bagaimana kabarnya, semoga sahabatsilat dalam keadaan yang baik, kami dari panitia Seribu Stiker untuk pencak silat ingin menginformasikan kabar baik tentang gerakan 1000 stiker Pencak silat ini.

Gerakan ini kami beri nama “1000 Stiker Silat Indonesia”, yang tidak lain tujuan utamanya adalah menggerakkan kembali para pecinta silat untuk memperkenalkan pencak silat kepada masyarakat luas.

Silatindonesia.com” menjadi domain utama untuk mewakili gerakan ini, dimana stiker ini wajib ditempelkan pada kendaraan bermotor milik pribadi seperti Motor, Mobil dll.

Kegiatan ini tidak bertjuan komersil, dan stiker yang diberikan juga tidak gratis, kawan-kawan sahabat silat wajib menebusnya untuk biaya stiker dan pengiriman.

Satu paket terdiri dari 3 pasang stiker, yaitu Silatindonesia.com, Vidoesilat.com, dan Sahabatsilat.com, namun yang wajib di tempel di kendaraan adalah stiker yang bertuliskan “SilatIndonesia.com” (lagi…)

Februari 2, 2011 at 10:41 am Tinggalkan Komentar

Pencak Silat oh Nasipmu…….

ini dikutip dari :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2372480apa gak menyedihkan dan memprihatinkan kalau begini?
pantes aja banyak kebudayaan kita yang ilang dan diaku negara lain, nah kalo kementrian kita yg ngurusin olahraga aja justru lebih memperhatikan bela diri negara lain dari pada kita..
dan ironis, program ini sangat didukung oleh sang TS, entah dia Warga Negara mana?

Definisi Olahraga Beladiri Tradisional adalah keseluruhan cabang beladiri dari seluruh dunia yang masuk Indonesia namun belum memiliki Induk organisasi keolahragaan resmi. Tradisional disini, beladiri tersebut diakui keberadaannya di Negara asalnya. Kita jangan berbicara Pencak Silat dan Aliran karate lagi karena keduanya sudah diakui sebagai olahraga prestasi di Indonesia dan memiliki induk organisasi Seperti IPSI dan FORKI.

(lagi…)

November 2, 2009 at 6:52 am 3 komentar

Sahabat Silat Peduli “Gempa Padang”

Sahabat Silat memfasilitasi keberangkatan tim dari Cimande dipimpin Pak Cemong (kusmedi), Pendekar Pamacan Cimande, untuk membantu pengobatan korban gempa di Sumatera Barat dengan cara tradisional khas Cimande. Insya Allah tim akan berangkat dari Bogor, besok tanggal 6 oktober 2009. Hal ini bisa terlaksana, antara lain dengan kerjasama antara sahabat silat dan warga minang di Jakarta, tanah abang dibantu oleh Guru Silek Harimau, Edwel Datuk Rajo Gampo Alam.. Kita doakan Pak Cemong beserta tim dapat segera membantu saudara-saudara kita yg tertimpa musibah di Sumbar dan segala daya upaya beliau beserta semua yg terlibat mendapat rahmat dan berkah dari Allah SWT. ref: SahabatSilat

Oktober 21, 2009 at 3:58 am 1 komentar

Mengenal Pusat Budaya Betawi di Setu Babakan

Mengenal Pusat Budaya Betawi di Setu Babakan

Setu Babakan yang terletak di Selatan Jakarta, lebih tepatnya berlokasi di wilayah Kelurahan srengseng sawah, Kecamatan Jagakarsa Jakarta selatan ini, menyimpan satu object wisata budaya yang sangat menarik berupa Perkampungan Budaya Betawi, dan oleh pemerintah DKI Jakarta,dijadikan Cagar Budaya Betawi yang menyimpan keistimewaan khususnya bagi warga Jakarta untuk melihat dari dekat berbagai kesenian dan budaya betawi yang ada hingga saat ini. (lagi…)

Agustus 21, 2009 at 7:54 am Tinggalkan Komentar

Tulisan Lebih Lama Tulisan Lebih Baru


HAK CIPTA
Anda dapat mencopy tulisan pada blog ini, anda wajib menuliskan sumber asli dan nama penulisnya. Mari kita hormati Hak Cipta para penulis dan pejuang komunitas pencak silat Indonesia, SemangAT.
Alhamdulillah Jaza Kallahu Khoiro

Tulisan Terkini

Flickr Photos

22112009(008)

syahbandar02

syahbandar01

syahbandar3

More Photos

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 111,508 hits

KOMUNITAS

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.