Posts filed under 'aliran'
Tubagus Bambang Sudrajat Penerus Ilmu Silat Asli Betawi
Seorang pria mengayunkan golok di tangannya dengan sekuat tenaga, berusaha untuk melukai pria lain di hadapannya. Tiba-tiba, sebelum mata sempat melihat dengan seksama, si pria pemegang golok malah jatuh tersungkur akibat terkena tangkisan lawannya.
Aksi di atas hanyalah latihan yang dilakukan di aula Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, beberapa waktu lalu. Dan pria yang berhasil menghela serangan tadi tak lain adalah Tubagus Bambang Sudrajat, guru besar silat asli dari Betawi. (lagi…)
Add comment Desember 23, 2008
Ragam pencak silat, Batak punya monsak
Monsak tinggal sejarah. Sudah banyak negara barat memiliki perguruan silat, yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Banyak suku di Indonesia punya aliran silat sendiri-sendiri, termasuk Batak Toba dengan monsak — yang sayangnya sangat sulit ditemukan informasinya.

Jarar Siahaan; Toba Samosir; Blog Berita
Monsak, dibaca sebagai moccak [lihat foto]. Silat khas Batak Toba ini hanya tinggal nama. Setahuku tidak ada lagi tempat untuk belajar monsak. Di beberapa kabupaten di Sumatera Utara, di kampung-kampung orang Batak Toba, belum pernah kutemukan perguruan monsak. Aku punya sejumlah kawan yang belajar silat di Tanah Batak, tapi yang mereka pelajari adalah silat dari suku lain, seperti Merpati Putih. Aku sendiri belum pernah melihat secara langsung bagaimana gerakan monsak. Ketika aku masih aktif mengajar karate aliran Shotokan, aku sering mencari perguruan monsak, tapi tidak pernah ketemu. Setelah kini aktif menulis di web, aku juga sering berusaha menelusuri Internet, tapi tetap saja aku tidak mendapatkan informasi soal monsak, alamat perguruannya pun tidak bisa kutemukan — kalau ada pembaca yang punya info soal monsak, silakan berbagi.
3 comments Mei 31, 2008
Riwayat Singkat Pencak Silat Cikalong
Oleh: O’ong Maryono
Bermula dari nama desa Cikalong Kabupaten Cianjur pencak silat Cikalong tumbuh dikenal dan menyebar, penduduk tempatan menyebutnya “Maempo Cikalong”. Khususnya di Jawa Barat dan diseluruh Nusantara pada umumnya, hampir seluruh perguruan pencak silat melengkapi teknik perguruannya dengan aliran ini.
Daerah Cianjur sudah sejak dahulu terkenal sebagai daerah pengembangan kebudayaan Sunda seperti; musik kecapi suling Cianjuran, klompen cianjuran, pakaian moda Cianjuran yang sampai kini dipergunakan dll.
Cikal bakal permainan maempo (maen pohok) ini diajarkan oleh keluarga bangsawan Cikalong yang bernama Rd.H.Ibrahim dilahirkan di Cikalong 1816 dan wafat 1906 dimakamkan didesa Majalaya Cikalong Cianjur.
Add comment Juli 19, 2007
SEJARAH SINGKAT DAN PERKEMBANGAN SENI BELADIRI BENJANG
Ada suatu keistimewaan dalam permainan banjang, disamping mempunyai teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah, maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik.

Menurut pendapat salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang Cinunuk Bandung, bahwa nama benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak tahun 1820, tokoh benjang yang terkenal saat itu, antara lain H. Hayat dan Wiranta. Kemudian ia menjelaskan mengenai asal-usul benjang adalah dari desa Ciwaru Ujungberung, ada juga yang menyebutkan dari Cibolerang Cinunuk, ternyata kedua daerah ini sampai sekarang merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh benjang, mereka berusaha mempertahankan agar benjang tetap ada dan lestari, tokoh benjang saat ini yang masih ada, antara lain Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi, Emun, dan masih ada lagi tokoh yang lainnya yang belum sempat penulis catat.
3 comments Juli 19, 2007
CIMANDE Guru Mas Don
Kali ini DUEL menyajikan pembahasan yang intinya menjelaskan betapa dihargainya pencak silat oleh bangsa lain, dan agar diketahui juga bahwa sebenarnya pencak silat Indonesia sudah lama dipelajari di luar negeri. Selain dianggap sangat rahasia, ilmu beladiri dari Indonesia tersebut dijadikan beladiri yang eksklusif. Guru Mas Don adalah seorang praktisi beladiri dari Murrysville, Pennsylvania, Amerika Serikat yang telah menekuni seni beladiri pencak silat (poekoelan pentjak silat Cimande) dari Indonesia selama 25 tahun.
Add comment Maret 21, 2007
Silat Betawi Aliran Sabeni
Sabtu, 23 September 2006
Tangan lelaki berusia 74 tahun itu berkelebat cepat. Punggung tangannya beradu. Plak! Suaranya begitu keras. Kakinya maju selangkah sambil menebas ke kiri dan kanan. Tetap dengan serangan jurusnya, ia berputar mengelilingi ruang tamu rumahnya. Sebentar kemudian, napasnya memburu. “Maklum, ude berumur,” katanya sembari tertawa.
Mengenakan peci hitam, kemeja, dan celana pangsi putih, Muhammad Ali bin Sabeni terlihat gagah. Ia bak sosok jago Betawi tempo dulu. Cocok dengan statusnya sebagai ahli waris Silat Betawi Aliran Sabeni.
54 comments Maret 1, 2007
Cingkrik Goning
Sabtu, 07 Oktober 2006
Ingat Si Pitung? Tokoh jagoan Betawi tempo dulu itu pernah ngetop lewat film yang dibintangi aktor laga Dicky Zulkarnaen. Kalau banyak orang mengenal perampok baik hati itu, sebaliknya tak banyak yang tahu apa itu Cingkrik.
Cingkrik merupakan salah satu aliran silat Betawi. Karena beberapa gerakan utama dalam aliran silat ini adalah berlompatan dengan satu kaki (orang Betawi menyebutnya Jejingkrikan), silat ini disebut Jingkrik atau Cingkrik. Cingkrik inilah yang dipercaya menjadi “mainan” Si Pitung. Dalam perkembangannya, Cingkrik terpisah jadi beberapa aliran yang namanya diciptakan oleh orang yang mengajarkannya. Sampai saat ini ada dua aliran Cingkrik, yakni Cingkrik Sinan dan Cingkrik Goning.
Perbedaan utama kedua aliran tersebut adalah Sinan tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga tenaga dalam. Sedangkan Goning mengandalkan aplikasi teknik fisik semata. “Ini menjadi salah satu kelebihan aliran kami, yakni bisa dipelajari oleh semua orang,” kata Tubagus Bambang Sudrajat, 52 tahun, ahli waris aliran Cingkrik Goning.
Adalah Engkong Goning, bernama asli Ainin bin Urim, yang mendirikan aliran ini. Engkong, lahir pada 1895 dan wafat pada 1975, mengajarkan ilmu silat Goning kepada beberapa orang di Rawa Belong, Kebon Jeruk, dan Jembatan Dua, Harmoni.
Salah satu murid Engkong adalah Usup Utai, yang mengembangkan aliran silat ini ke daerah Grogol. Usup Utai, sebelum meninggal pada 1993, mewariskan ajaran itu kepada Bambang Sudrajat, yang elestarikannya sampai sekarang.
Ciri khas aliran Goning, menurut H. Nizam, salah satu murid Cingkrik Goning, adalah menggunakan satu kaki sebagai tendangan pamungkas. “Tangan digunakan untuk meladeni serangan lawan,” katanya. Begitu lawan jatuh, diselesaikan dengan tendangan kaki.
Selain itu, Cingkrik Goning sangat mengandalkan kecepatan. “Tidak ada hitungan gerakan lambat seperti di aliran lain,” katanya. Begitu menerima serangan, dalam hitungan detik harus dilakukan balasan dan braak, lawan sudah harus jatuh ke tanah.
Teknik bantingan menjadi kelebihan lain dari aliran silat Goning. Dihitung-hitung ada sekitar 80 teknik bantingan yang bisa dikuasai jika ditekuni hingga tingkatan tertinggi.
Sebagai anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Cingkrik Goning mengaplikasi sistem tingkatan. Mulai dari awal belajar sampai mendapat abuk merah, memakan waktu maksimal 7 tahun. Selama itu murid hanya diajari teknik jurus untuk menerima serangan. Setelah itu, baru belajar teknik bantingan secara berpasangan yang disebut “Sambut”.
Pada tingkatan terakhir barulah diajarkan teknik serangan yang disebut “jual-beli”. Pada level ini murid diajarkan menyerang dan melakukan balasan terhadap serangan balik lawan. “Jadi kita yang menyerang, kita yang menang,” kata Bambang.
Selain di Bekasi, pusat latihan Cingkrik Goning ada di Padepokan Pencak Silat Indonesia di Pondok Gede. Mereka berlatih tiap Sabtu sore. Dua bulan lalu, kabar mengejutkan datang dari Belanda. Seorang Indonesia bernama Herry Masfar, yang sekarang tinggal di Amsterdam, mengaku pernah belajar Cingkrik Goning.
Masfar mengaku belajar Cingkrik Goning dari guru silat bernama Rochimin, yang mungkin adalah murid Engkong di daerah Kebon Jeruk sekitar 1950-an. Sejak 1960-an, Masfar tinggal di Amsterdam dan mulai mengajarkan ilmu silatnya, termasuk kepada pasukan marinir di pusat pendidikan marinir Belanda di Den Helder.
Rencananya, Desember ini, mereka akan datang untuk belajar dari sumber asli Cingkrik Goning di Indonesia. Kalau marinir Belanda tertarik belajar ilmu silat ini, mengapa kita tidak? AMAL IHSAN – TEMPO
4 comments Maret 1, 2007
Lahir dari Filosofi Ajaran Tasawuf
Sabtu, 14 Oktober 2006, Apa jadinya jika suatu aliran beladiri lahir dari suatu filosofi tentang kehidupan? Yang muncul adalah seni beladiri yang tak hanya mengajarkan aspek membela diri, tapi juga jalan memahami diri sendiri dan alam.
Adalah Cikalong, aliran pencak silat dari Jawa Barat, yang lahir dari filosofi ajaran tasawuf yang mengajarkan kesatuan tubuh dan hati sehingga agresi dari musuh bukan dilawan dengan kekerasan, melainkan diterima dan dinetralkan dengan baik dan efektif.
Meniru Aikido atau Taichi? Jangan salah, Cikalong asli negeri sendiri dan memiliki sejarah panjang. Haji Ibrahim atau Raden Djaja Perbata (1816-1906), bangsawan Sunda, yang menemukan aliran silat ini.
Raden Djaja belajar pencak silat dari kakak iparnya, Rd. Ateng Alimudin (Jatinegara), dan dari para pendekar Betawi, seperti Bang Ma’ruf (Karet), Bang Madi (Gang Tengah), serta Bang Kari (Kampung Benteng).
Setelah kembali menunaikan ibadah haji, Raden Djaja berketetapan hati untuk melahirkan ilmu beladiri yang sesuai dengan ajaran tasawuf. “Beliau merasa pencak silat yang dipelajarinya kurang sesuai dengan ajaran tasawuf yang dia anut, yang mengajarkan kejahatan harus dibalas dengan kebaikan,” kata H. Azis Asy’arie, salah satu ahli waris Cikalong.
Raden Djaja, yang setelah naik haji dikenal dengan nama H. Ibrahim, melakukan khalwat atau mengasingkan diri ke Gua Jilebut, Cikalong, selama 40 hari. Hasil pengasingan inilah yang melahirkan aliran silat Cikalong, merujuk nama kota kelahiran dan tempat H. Ibrahim dimakamkan.
3 comments Maret 1, 2007
Titisan Murni Putra Betawi
Sabtu, 21 Oktober 2006
Titisan Murni Putra Betawi
Apakah Anda tahu di mana letak Jalan Pangeran Jayakarta? Jalan yang terletak di wilayah Kota itu diabadikan untuk mengenang perjuangan Ahmad Djakerta atau Pangeran Jayakarta III, keturunan Fatahillah, pendiri Kota Jakarta.
Ketika Pangeran Jayakarta III berkuasa, armada Maskapai Perdagangan Belanda (VOC) menyerang Jakarta pada 1619. Pada waktu itu, istana Jayakarta terletak di kawasan yang sekarang disebut Mangga Dua. Ketika istananya diserang, Pangeran Djakerta berhasil meloloskan diri.
Untuk mengelabui tentara kompeni Belanda, sang pangeran melempar jubahnya ke dalam sumur, untuk mengesankan ia sudah tewas dan mayatnya dibuang ke sumur. Belanda pun mengira demikian. Setelah Jayakarta dikuasai Belanda, Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen mengubah nama kota menjadi Batavia.
Sedangkan Pangeran Jayakarta dan pengikutnya bertahan di hutan jati di wilayah timur Jakarta. Wilayah itu lantas disebut Jatinegara, yang bermakna “negara atau pemerintah (Jakarta) yang sejati”.
Di wilayah itu pula Pangeran Djakerta menggalang kekuatan untuk melawan Belanda. Ia menyamar sebagai rakyat jelata dan terus bergerilya hingga akhir hayatnya. Anak keturunannya juga terus hidup dan menyembunyikan identitasnya.
Cirinya adalah nama depan “Ateng” yang sebenarnya berarti “Raden”. Bukan cuma nama yang diwariskan keturunan Pangeran Jayakarta, tapi juga permainan pencak silat. Salah satu keturunannya yang mewarisi ilmu silat adalah Haji Ateng Abdulrahim (1885-1970).
Ateng Abdulrahim, yang setelah menunaikan haji dipanggil H. Ibrahim, pada masanya dikenal jago Mester, Jatinegara. Ia belajar ilmu silat dari ayahnya, Ateng Abdul Hamid, dan pamannya, Ateng Arwah dan Ateng Damis, juga dari banyak guru silat lainnya seperti Ki Asnawi dan H. Solihin.
H. Ibrahim mewariskan ilmu silatnya kepada anak angkatnya, H. Ahmad Bunawar dan muridnya, H. Deddy Setiadi, yang kemudian mendirikan perguruan pencak silat Tiga Berantai pada 1975.
Menurut H. Ahmad, perguruannya disebut Tiga Berantai karena ada tiga aliran besar ilmu silat yang diajarkan, yakni Si Macan, Si Tembak, dan Si Karet.
Si Macan adalah ilmu silat yang diwariskan Pangeran Jayakarta. Cirinya adalah serangan jari tangan cakar dengan landasan tenaga dalam yang kuat. Dalam pertarungan, cakar digunakan untuk menyerang titik lemah musuh, seperti mata dan tenggorokan.
Adapun Si Tembak adalah ilmu silat yang diwariskan Pangeran Sugiri, kerabat Pangeran Jayakarta. Ciri khasnya adalah menyimpan pukulan telapak tangan kanan yang dialiri tenaga dalam untuk kemudian dilepaskan sebagai pukulan pamungkas.
Yang ketiga adalah Si Karet, ilmu silat yang merupakan penggabungan dari berbagai aliran, seperti aliran Kebon Manggis dari H. Solihin, Cikaret dari Bogor, aliran Mak Inem Pengasinan dari Kerawang, serta Serak dari Pak Muhin di Tenabang.
Selain itu, aliran silat Si Sabar dari Kebon Sirih dan Giek Sao dari Cina Utara. “Si Sabar diajarkan kakek saya, Engkong Musa, dan Giek Sao diajarkan ayah saya, H. Muhasim,” kata H. Ahmad.
Dengan warisan aliran silat yang begitu kaya, tak aneh jika Tiga Berantai menjadi perguruan silat yang disegani. Tiga Berantai yang juga salah satu perguruan pendiri Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sering kali menguasai turnamen pencak silat dalam dan luar negeri serta telah mencetak banyak juara.
Selain itu, Tiga Berantai merupakan pendiri Persatuan Pencak Silat Betawi yang mewadahi 80 aliran silat di Jakarta. AMAL IHSAN – Tempo
Add comment Maret 1, 2007







