GERAK SAKA

Bergerak Sesukanya dengan RasaCobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.
Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan,” ujar Muhammad Sani sembari tertawa.
Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. “Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi,” kata Sani.
Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

Baca lebih lanjut

Titisan Murni Putra Betawi

Sabtu, 21 Oktober 2006T
Titisan Murni Putra BetawiApakah Anda tahu di mana letak Jalan Pangeran Jayakarta? Jalan yang terletak di wilayah Kota itu diabadikan untuk mengenang perjuangan Ahmad Djakerta atau Pangeran Jayakarta III, keturunan Fatahillah, pendiri Kota Jakarta.
Ketika Pangeran Jayakarta III berkuasa, armada Maskapai Perdagangan Belanda (VOC) menyerang Jakarta pada 1619. Pada waktu itu, istana Jayakarta terletak di kawasan yang sekarang disebut Mangga Dua. Ketika istananya diserang, Pangeran Djakerta berhasil meloloskan diri.

Untuk mengelabui tentara kompeni Belanda, sang pangeran melempar jubahnya ke dalam sumur, untuk mengesankan ia sudah tewas dan mayatnya dibuang ke sumur. Belanda pun mengira demikian. Setelah Jayakarta dikuasai Belanda, Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen mengubah nama kota menjadi Batavia. Baca lebih lanjut

Murtado – Macan Kemayoran

Diambil dari buku “Cerita Rakyat Daerah DKI Jakarta” terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982.

Pada masa dahulu ketika Kompeni Belanda masih berkuasa di Indonesia, di daerah kemayoran tinggallah seorang pemuda bernama Murtado. Ayahnya adalah bekas seorang lurah di daerah tersebut. Karena sudah tua, kedudukannya digantikan oleh orang lain. Murtado mempunyai sifat-sifat yang baik, tidak sombong, baik kepada anak kecil, hormat kepada orang tua dan senantiasa bersedia menolong orang-orang yang mendapat kesusahan. Di samping itu dia tekun menuntut ilmu agama, mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan lainnya seperti ilmu bela diri dan sebagainya. Oleh karena sifat-sifatnya yang terpuji itu, maka Murtado disenangi oleh penduduk di kampung tersebut.

Ketika itu, keadaan masyarakat di daerah Kemayoran tidak tenteram. Penduduk selalu diliputi rasa ketakutan, akibat gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang berwatak jahat ataupun gangguan dari jagoan daerah lainnya yang datang ke daerah ini untuk mengacau atau merampas harta benda penduduk, kadang-kadang mereka tidak segan-segan membawa lari anak perawan ataupun istri orang yang kemudian diperkosa dan kalau melawan disiksa dan dibunuh. Baca lebih lanjut

IPOSI – Silat “Silau Macan” dari tanah Condet

IPOSI – Silat dari tanah Condet

 

Tulisan ini hasil penelusuran kami saat berkunjung ke daerah condet, kawasan ini pernah menjadi daerah konservasi budaya betawi, oleh Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1975, melihat kehijaun dan udaranya yang sejuk, daerah ini memang dikenal sebagai daerah penghasil buah salak dan duku hingga saat ini.

Condet yang terbagi dalam tiga kelurahan Bale Kambang, Batu Ampar, dan Kampung Gedung gagal menjadi cagar budaya dan kini telah dipindahkan ke Setu Babakan oleh pemerintah DKI Jakarta, namun bila melihat sejarah panjang daerah ini, sejak 3.000 sampai 4.000 tahun lalu di kawasan yang berbatasan dengan Kramatjati ini sudah ada kehidupan. Ditemukan kapak batu, gerabah, dan lampu perunggu di sini. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Budayawan Ridwan Saidi (Koran Republika-red) bahwa dahulu condet pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Salaksana pada tahun 120M, nama-nama yang menjadi sejarah seperti seperti Bale Kambang dan Batu Ampar. Bale Kambang adalah tempat pesanggrahan raja-raja, sedangkan Batu Ampar merupakan batu besar tempat meletakkan sesaji (sesajen). Baca lebih lanjut

Silat Betawi – tempo doeloe dan masa depan

Mengenang pencak silat betawi tidak terlepas dari sejarah perkembangan dan dinamika kota Jakarta tempo doeloe, sejak dahulu Jakarta sudah menjadi kota cosmopolitan tempat dimana pertemuan berbagai ragam budaya, suku bangsa, seperti suku-suku dari daerah – daerah di Nusantara hingga bangsa lain seperti Arab, Melayu, India, Cina, Portugal, Belanda dan lain-lainnya.

Sejak Sunda kelapa (1527) dikuasai oleh pasukan Demak yang dipimpin Fatahillah, lahirlah Jayakarta, yang saat ini setiap tahun diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta pada tanggal 22 Juni. Perjalanan panjang sejarah Jakarta berimpilikasi pada masyarakat yang mendiaminya, menurut ahli Antroplog Universitas Indonesia, Dr Yasmin Zaki Shahab MA, memperkirakan etnis betawi terbentuk sekitar tahun 1815-1893. Oleh sebab itu orang betawi sebenarnya terhitung sebagai pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lainnya yang sudah terlebih dahulu hidup di Jakarta seperti orang sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon dan melayu. Baca lebih lanjut

Menyalurkan Tenaga Lawan Merupakan Teknik Dasar Silat

Anda pernah melihat betapa indahnya gerakan beladiri Aikido dalam mempermainkan tenaga lawannya hingga jatuh bangun dibuatnya?

Di dalam beberapa aliran silat, konsep mengalirkan tenaga lawan bukanlah sesuatu yang aneh. Saya ambil contoh pada beberapa aliran Maen Po (silat Sunda) teknik buang kelid atau piceunan (dalam bahasa Sunda) sudah merupakan teknik dasar yang harus dimiliki.

Contohnya pada aliran Cikalong, memanfaatkan tenaga lawan akan menghasilkan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan mengadu tenaga dengan lawan. Dengan menangkis serangan lawan misalnya. Apalagi kalau ukuran badan dan tenaga lawan sangat besar dan tidak mungkin ditandingi dari segi tenaga. Baca lebih lanjut

Silat tradisional dalam frame “kampungan”

Gerakan – gerakan jurus memukau sejumlah penonton bahkan pesilat itu sendiri saat menyaksikan Festival silat betawi yang pada umumnya adalah silat aliran tua atau tradisional. Wajah-wajah berumur tidak mematahkan semangat mereka untuk terus berkarya dan mencintai asset miliknya. Kalau saja kita jeli melihat kekayaan ragam silat yang ada, kita tak akan rela bila asset ini dimiliki oleh bangsa lain.

Memang kita kurang jeli bahkan seolah masa bodoh, lihat saja peran pemerintah hingga peran swasta ataupun media yang selama ini hanya menyoroti hal-hal yang terkesan modern. Ternyata kejelian kita masih dibawah orang asing yang jauh-jauh datang untuk sekedar ingin mengetahui asal dimana pencak silat itu berkembang di Tanah Air kita ini. Baca lebih lanjut

Melestarikan Pencak Silat Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler

TUJUAN yang disertai harapan-harapan luhur bagi terbentuknya sebuah pelestarian nilai-nilai budaya nusantara sangat lah di perlukan, seperti laju perkembangan salah satu olah raga yang mengandung banyak nilai-nilai budaya bangsa. Ditengah keaneka ragaman yang kita temui, Negara kita juga kaya akan keaneka ragaman baik hayati adat istiadat dan juga seni budaya. Salah satu yang ada di dalamnya adalah seni budaya pencak silat dengan berbagai keunikan di dalamnya.

Sebagai contoh Indonesia tercatat menjadi akar kebudayaan ini dan diakui memiliki sejarah ilmu beladiri dan seni pencak yang lahir berabad-abad tahun lalu seperti Aliran Cimande, Silat Tuo, Silat Kumanggo, Silat Minang, Cikalong, Cikaret, Serak, Bandrong, Sitembak, Sipecut, dll. Dalam hal ini pencak silatlah tentunya yang menjadi sorotan utama jika kita akan membahas pentingnya sebuah pelestarian khususnya dalam konteks olah raga prestasi bagi generasi muda. Baca lebih lanjut