Nasionalisme silat dalam padepokan

11 Desember 1993

Nasionalisme silat dalam padepokan

SEBENTAR lagi impian adanya Padepokan Pencak Silat Indonesia menjadi kenyataan. Idenya tercetus 5 tahun lalu. Peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu pekan lalu. Padepokan ini didirikan di atas lahan 5,2 hektare, sumbangan dari Nyonya Tien Soeharto. ”Insya Allah, tepat 50 tahun kita merdeka, padepokan ini resmi berdiri,” kata Prabowo Subianto, ketua pelaksana pembangunan. Atap padepokan berbentuk joglo. Ornamennya mencerminkan berbagai daerah. Luas bangunan melebihi 21.000 meter, antara lain, untuk panggung pencak, ruang pengobatan, perpustakaan, museum, dan pondok meditasi di bawah tanah. Adalah pengurus teras IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) merasakan bahwa warisan leluhur ini perlu dilestarikan. Lalu, ide ini dilontarkan di Munas IPSI tahun 1990. Bambang Trihatmojo, pembina Pencak Silat Tenaga Dasar, dan Prabowo Subianto dari Satria Muda Indonesia, yang antara lain mengkonkretkannya. ”Kalau hanya tenaga dan pikiran IPSI, mewujudkan padepokan seperti mustahil,” kata Eddie Marzuki Nalapraya, Ketua Umum IPSI. Biaya pembangunannya sekitar Rp 15 miliar. IPSI menerima sumbangan dari donatur dan simpatisan. Dan rencananya, ribuan anggota IPSI di 27 provinsi diharapkan berpartisipasi. Menyumbang Rp 100 pun diterima, agar mereka punya rasa memiliki. Di padepokan ini nanti sekitar 820 aliran silat yang ada di Indonesia bertemu, berembuk, dan meneliti perkembangan silat. Juga dilakukan dokumentasi dan menyebarkan informasi tentang silat secara utuh. Buku dari berbagai perguruan juga akan menyemarakkan museum, misalnya mulai dari buku silat Aceh, Minangkabau, Sunda, Jawa, sampai Irian Jaya (kalau ada). Sehingga, menurut Eddie, nanti bukan lagi keakuan aliran atau perguruan yang menonjol, tapi nasionalismenya. Dan amalan pesilat agar berbudi luhur, cinta damai, dan tahan uji dalam cobaan, tetap menjadi pegangan. Dalam silat ada empat aspek: seni, bela diri, kejiwaan, dan olahraga. Khusus pada olahraga, IPSI sudah menstandarkan jurusnya. ”Ada tujuh jurus dasar (dengan berbagai sub), yang kami godok. Namanya jurus Prasetya Pesilat Indonesia,” kata Oyong Karmayuda, ketua bidang organisasi dan hubungan luar negeri IPSI. Selain itu, IPSI juga membenahi organisasinya. Misalnya, untuk mendirikan perguruan harus punya sertifikat yang dikeluarkan IPSI. ”Ini untuk pengamanan dan menjaga mutu. Jangan misalnya mereka belajar silat hanya kulitnya saja, dan lupa filosofinya,” kata Eddie, yang juga Presiden Persatuan Silat Antar-Bangsa (Persilat) itu. Khusus untuk luar negeri tercatat 15.000 anggota Persilat sudah mengeluarkan aturan. Misalnya, perguruan yang akan membuka cabang harus punya induk di Indonesia, Malaysia, Singapura, atau Brunei. Ini untuk mencegah yang tidak diinginkan. Pernah ada latihan silat diiringi disko. ”Memang ini kreativitas anak-anak muda, tapi, ya, bisa rusak,” kata Eddie. Di museum silat itu nanti akan dipajang tokoh silat, lengkap dengan kemumpuniannya. ”Di sana juga kami tampilkan Cut Nya’ Dien, Diponegoro, atau Ken Arok, dengan ilmu kanuragannya. Jadi, kita nggak usah membanggakan Flash Gordon atau Rambo,” kata Oyong. Seperti dalam film silat Siolin (Siau-lim-pay), padepokan di TMII juga dilengkapi ruang pengobatan dengan cara tradisional. ”Perguruan Cimande, misalnya, dengan pengobatannya lewat minyak urut yang dipendam di tanah,” kata Eddie. Belum lagi, misalnya, pengobatan lewat pernapasan dan tenaga dalam. Munculnya padepokan silat di TMII disambut hangat. Persaudaraan Setia Hati Teratai di Madiun, Jawa Timur, misalnya, siap membantu. ”Kami akan menyumbangkan buku-buku jurus perguruan kami, untuk mengisi museum,” kata Tarmadji, ketua umumnya. Setia Hati Teratai didirikan Ki Hadjar Hardjoutomo tahun 1922. Kini, anggotanya sekitar 200.000 orang, dan tersebar ke Eropa. Ajarannya menekankan bermain silat tapi mencegah benturan fisik. ”Kalau diserang, anggota Teratai cenderung menghindar, lalu mendekati lawan,” kata Tarmadji. Ia murid angkatan pertama R.M. Imam Kusupangat (Alm.), seorang pendiri Teratai dan ahli penyembuhan. Ada 36 jurus khas Teratai. Dan banyak di antara muridnya yang sudah menguasai jurus tersebut secara sempurna, bahkan melebihi sang guru. Tapi, diakui oleh Tarmadji, dalam mengolah indera keenam, belum ada murid yang melampaui kemumpunian Imam Kusupangat. ”Tapi tak benar kalau ada yang menilai Teratai tidak berkembang,” katanya. Perguruan Tapak Suci yang berpusat di Yogya, juga merasakan pentingnya padepokan silat. ”Manfaat bagi perguruan kami memang tidak besar, karena pendalaman ilmu silat dilakukan di padepokan masing-masing. Tapi, padepokan ini bermanfaat bagi perkembangan silat secara keseluruhan. Paling tidak, padepokan ini tempat menggodok aturan main olahraga silat,” kata Suharto, ketua bidang pendidikan Perguruan Tapak Suci. Tapak Suci yang didirikan tahun 1960 merupakan gabungan 12 aliran di bawah Muhammadiyah. Kini, memiliki 180 cabang, dan meluas di Asia dan Eropa. Seperti Teratai, Tapak Suci akan menyumbangkan informasi silat perguruannya. ”Kami tidak takut ditiru. Justru dengan adanya padepokan di TMII, kami bisa belajar apa kelebihan perguruan lain,” kata Suharto. Widi Yarmanto, Kelik M. Nugroho, dan Heddy Lugito

About these ads

5 gagasan untuk “Nasionalisme silat dalam padepokan

  1. Mau nanya Mas klo silat setia hati terate jadwal latihan di padepokan TMII kapan ya?
    Ada cp yang bisa di hubungi gak?

    Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s