Silau Macan dari Tanah Condet

Sabtu, 27 Januari 2007

Apa yang terkenal dari Condet? Orang akan menjawab: salak dan dukunya. Padahal bukan itu saja. Wilayah konservasi budaya Betawi itu juga terkenal dengan warisan budaya silat, yang terkait dengan sejarah Condet sebagai tempat perlawanan rakyat menentang pemerintah kolonial Belanda.

Tersebutlah cerita tentang H. Entong Gendut yang terkenal sebagai pemimpin perlawanan rakyat dari Condet pada 1916. Alkisah, Condet ketika itu merupakan kawasan udik di luar kota Batavia Lama (Oud Batavia), yang dikembangkan oleh tuan tanah Belanda. Orang Belanda menyebutnya Groeneveld atau Tandjoeng Oost (Tanjung Timur).

Lahan Tandjoeng Oost dikenal subur dan digunakan untuk persawahan dan peternakan, yang ketika itu mencapai 6.000 sapi. Tuan tanahnya, Van Riemsdijk, menjadi kaya dan membangun rumah megah bertingkat yang disebut Vila Nova pada 1756. Oleh penduduk setempat, bangunan itu disebut gedong dan kampungnya diberi nama Kampung Gedong, yang sekarang menjadi nama salah satu kelurahan di Condet.

Sepeninggal Van Riemsdjik, tiap kali diadakan penggantian tuan tanah, diadakan pajak baru yang memberatkan rakyat Condet. Akibatnya banyak petani yang bangkrut lantaran tak mampu membayar pajak, rumah mereka pun dibakar atau hasil kebun dan sawahnya dirampas.

Melihat penderitaan rakyat, Entong Gendut dan sejumlah warga Condet melakukan perlawanan dengan menyerbu Vila Nova, yang ketika itu ditempati Lady Lollinson dan para centengnya. Tapi pemberontakan itu dapat diredam berkat bantuan pasukan VOC dari Batavia dan Entong Gendut tewas.

Warisan sang pejuang adalah ilmu silat yang dikembangkan oleh salah seorang keturunannya, Entong Sapri (1933-2005), tokoh masyarakat Condet yang disegani. Lelaki yang belajar silat dari banyak guru itu adalah pendiri Ikatan Pencak Silat Olahraga dan Silaturahmi (Iposi) sebagai wadah organisasi silatnya.
“Ada empat aliran yang dipelajari, yakni Silau Macan, yang dipercaya sebagai silat warisan Entong Gendut, serta dua aliran lainnya, yakni Cimacan dan Cikalong,” kata Rosyid, putra Sapri yang kini memimpin Iposi. Selain itu, masih ada Tiga Jurus, aliran baru yang menggabungkan tiga aliran lainnya.

Seperti silat Betawi lainnya, Iposi memiliki karakter bertahan dan tidak mengenal tendangan. Tapi gabungan beberapa aliran membuat karakter gerakan silat terlihat unik. Ciri khas Silau Macan, misalnya, tampak dari kuda-kuda yang rendah. “Untuk melatih kuda-kuda, dulu kami biasa berlatih di kolong meja,” kata Rosyid.
Konsep unik lainnya adalah kuncian.

Tangan lawan yang berhasil ditangkap dikunci untuk melumpuhkan atau digunakan untuk meredam serangan berikutnya. Dengan keunikannya itu, Iposi yang terdaftar pada Ikatan Pencak Silat Indonesia telah memiliki ribuan anggota, yang tersebar di Condet, Cililitan, dan Kramat Jati.AMAL IHSAN – Tempo

About these ads

One Response to Silau Macan dari Tanah Condet

  1. Linnie mengatakan:

    Your article, Black Shades “Silau Macan dari Tanah Condet | PENCAK SILAT INDONESIA” was indeed very well worth commenting
    here! Merely needed to say you did a wonderful work.
    Thanks a lot -Trent

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: