CIKALONG DAN AIKIDO
Maret 1, 2007 at 2:35 pm pencaksilat 6 komentar

Sabtu, 03 Februari 2007
Serupa dalam Teknik, Apa jadinya ketika jago-jago dari dua aliran bela diri berbeda memutuskan untuk bertemu? Salah jika Anda membayangkan terjadi pertarungan berdarah-darah. Justru suasana kekeluargaan nan akrab terjadi.
Dua aliran bela diri itu adalah silat Cikalong Pancer Bumi dan aikido aliran Aiki. Dalam diskusi yang dicetus oleh Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia itu, tiap aliran menjelaskan dan memperagakan karakter geraknya masing-masing.

Menurut H Aziz Asy’arie, mewakili Cikalong aliran dari Jawa Barat yang ditemukan Haji Ibrahim atau Raden Djaja Perbata (1816-1906), Cikalong mengajarkan agresi dari musuh tidak dilawan dengan kekerasan, tapi diterima serta dinetralkan dengan baik dan efektif sesuai dengan ajaran tasawuf.
Adapun sensei Imanul Hakim, wakil dari aikido aliran Aiki, menguraikan sejarah panjang Aikido yang ditemukan sensei Morehei Ueshiba (1883-1969). Aikido secara filosofi sebenarnya adalah sebuah cara bagi seseorang untuk mencapai kesadaran fisik dan spiritual tertinggi.
Dari sisi teknik, bela diri asal Jepang itu sebenarnya berasal dari gabungan ilmu pedang dan aliran jujitsu yang menjadi daitoryu-aikijujitsu dan disempurnakan menjadi aikido oleh O-Sensei, panggilan akrab Ueshiba.
Esensi teknik aikido adalah memaksimalkan “Ki” atau sumber tenaga yang dimiliki setiap orang. Konsep ini sejalan dengan ajaran Cikalong. “Disebut Peguron Pancer Bumi karena tenaga dasar dari bumi naik ke tulang punggung dan di titik tachui mengalir ke tangan,” kata Kusnul Hadi, murid Cikalong yang juga praktisi taichi.

Konsep lainnya yang serupa adalah soal “rasa”. Dalam Cikalong diterjemahkan sebagai upaya mendasarkan dan menyesuaikan sirkulasi tenaga serta pergerakan dengan teknik dan kekuatan lawan.”Bagi yang “rasa”-nya sudah baik, hanya dengan menyentuh sudah mengetahui niat dan pikiran lawan,” ungkap H Aziz.
Konsep tersebut ternyata juga ditemui pada aikido, yang disebut musubi dan awase. “Musubi adalah kemampuan untuk menyelaraskan tubuh dan pikiran untuk menyesuaikan dengan tenaga dan pergerakan lawan. Aplikasi dari musubi adalah awase, yang bermakna menyatu dan menjadi satu dengan lawan,” ujar Hakim.
Dua konsep yang mirip itu menjadi topik hangat dalam diskusi. Pada akhir pertemuan, semua peserta sependapat, secara prinsip antara aikido dan Cikalong memiliki kemiripan dalam teknik. “Kalau dulu tahu ada silat seperti ini, saya pasti belajar Cikalong, bukannya aikido,” kata Hakim yang disambut tawa hadirin.AMAL IHSAN – Tempo
Entry filed under: artikel. Tags: .
6 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed




1.
www.smionline.blogspot.com | September 8, 2008 pada 3:46 am
saya sempat mempelajari jurus golok cikalong, apakah ada hubungannya dengan jurus – jurus cikalong
2.
ZXV | September 14, 2008 pada 1:27 am
Oh….. Ternyata Selain Taichi dan AIKIDO Ada….lagi….ya beladiri yg tidak memakai cara Kekerasan
3.
ZXV | September 14, 2008 pada 1:28 am
4.
one | September 20, 2008 pada 5:33 am
Cikalong dari R. Ibrahim, gan Brata, Gan Muhyidin, Gan Idrus, dan gan Uweh (pasar baru), H. Ceng Suryana dan H.Aziz tidak mengguna senjata tajam. Namun bukan berarti tidak bisa.
Cikalong adalah salah satu aliran yang menekankan rasa dalam pembelaan diri
5.
re | Oktober 17, 2008 pada 8:01 am
jgn lupa buka http://www.reidaun.tk
silat cikalong disurabaya ada ga latihannya dimana y?? bales di website saya aja.
lalu apa ada tenaga dalamnya???
6.
ZXV | Oktober 19, 2008 pada 2:01 am
Sabuk dalam “PencakSilat” apa…Aja