Archive for Maret, 2007

CIMANDE Guru Mas Don

Kali ini DUEL menyajikan pembahasan yang intinya menjelaskan betapa dihargainya pencak silat oleh bangsa lain, dan agar diketahui juga bahwa sebenarnya pencak silat Indonesia sudah lama dipelajari di luar negeri. Selain dianggap sangat rahasia, ilmu beladiri dari Indonesia tersebut dijadikan beladiri yang eksklusif. Guru Mas Don adalah seorang praktisi beladiri dari Murrysville, Pennsylvania, Amerika Serikat yang telah menekuni seni beladiri pencak silat (poekoelan pentjak silat Cimande) dari Indonesia selama 25 tahun.

(lagi…)

Maret 21, 2007 at 4:20 am 3 komentar

Tempat Persembunyian Si Pitung

 

Berwisata ke Pesta Nelayan Cilincing barangkali tak lengkap bila tak singgah ke Masjid Al-Alam dan Vihara Lalitavistara. Masjid Al-Alam lebih tersohor dengan sebutan Masjid Si Pitung. Robin Hood dari Betawi itu kabarnya belajar agama, silat, sampai sembunyi dari kejaran Belanda di masjid itu.

(lagi…)

Maret 1, 2007 at 2:43 pm 5 komentar

Silat Betawi Aliran Sabeni

Sabtu, 23 September 2006

Tangan lelaki berusia 74 tahun itu berkelebat cepat. Punggung tangannya beradu. Plak! Suaranya begitu keras. Kakinya maju selangkah sambil menebas ke kiri dan kanan. Tetap dengan serangan jurusnya, ia berputar mengelilingi ruang tamu rumahnya. Sebentar kemudian, napasnya memburu. “Maklum, ude berumur,” katanya sembari tertawa.

Mengenakan peci hitam, kemeja, dan celana pangsi putih, Muhammad Ali bin Sabeni terlihat gagah. Ia bak sosok jago Betawi tempo dulu. Cocok dengan statusnya sebagai ahli waris Silat Betawi Aliran Sabeni.

(lagi…)

Maret 1, 2007 at 2:40 pm 124 komentar

Cingkrik Goning

Sabtu, 07 Oktober 2006
Ingat Si Pitung? Tokoh jagoan Betawi tempo dulu itu pernah ngetop lewat film yang dibintangi aktor laga Dicky Zulkarnaen. Kalau banyak orang mengenal perampok baik hati itu, sebaliknya tak banyak yang tahu apa itu Cingkrik.

Cingkrik merupakan salah satu aliran silat Betawi. Karena beberapa gerakan utama dalam aliran silat ini adalah berlompatan dengan satu kaki (orang Betawi menyebutnya Jejingkrikan), silat ini disebut Jingkrik atau Cingkrik. Cingkrik inilah yang dipercaya menjadi “mainan” Si Pitung. Dalam perkembangannya, Cingkrik terpisah jadi beberapa aliran yang namanya diciptakan oleh orang yang mengajarkannya. Sampai saat ini ada dua aliran Cingkrik, yakni Cingkrik Sinan dan Cingkrik Goning.

Perbedaan utama kedua aliran tersebut adalah Sinan tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga tenaga dalam. Sedangkan Goning mengandalkan aplikasi teknik fisik semata. “Ini menjadi salah satu kelebihan aliran kami, yakni bisa dipelajari oleh semua orang,” kata Tubagus Bambang Sudrajat, 52 tahun, ahli waris aliran Cingkrik Goning.

Adalah Engkong Goning, bernama asli Ainin bin Urim, yang mendirikan aliran ini. Engkong, lahir pada 1895 dan wafat pada 1975, mengajarkan ilmu silat Goning kepada beberapa orang di Rawa Belong, Kebon Jeruk, dan Jembatan Dua, Harmoni.

Salah satu murid Engkong adalah Usup Utai, yang mengembangkan aliran silat ini ke daerah Grogol. Usup Utai, sebelum meninggal pada 1993, mewariskan ajaran itu kepada Bambang Sudrajat, yang elestarikannya sampai sekarang.

Ciri khas aliran Goning, menurut H. Nizam, salah satu murid Cingkrik Goning, adalah menggunakan satu kaki sebagai tendangan pamungkas. “Tangan digunakan untuk meladeni serangan lawan,” katanya. Begitu lawan jatuh, diselesaikan dengan tendangan kaki.

Selain itu, Cingkrik Goning sangat mengandalkan kecepatan. “Tidak ada hitungan gerakan lambat seperti di aliran lain,” katanya. Begitu menerima serangan, dalam hitungan detik harus dilakukan balasan dan braak, lawan sudah harus jatuh ke tanah.

Teknik bantingan menjadi kelebihan lain dari aliran silat Goning. Dihitung-hitung ada sekitar 80 teknik bantingan yang bisa dikuasai jika ditekuni hingga tingkatan tertinggi.

Sebagai anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Cingkrik Goning mengaplikasi sistem tingkatan. Mulai dari awal belajar sampai mendapat abuk merah, memakan waktu maksimal 7 tahun. Selama itu murid hanya diajari teknik jurus untuk menerima serangan. Setelah itu, baru belajar teknik bantingan secara berpasangan yang disebut “Sambut”.

Pada tingkatan terakhir barulah diajarkan teknik serangan yang disebut “jual-beli”. Pada level ini murid diajarkan menyerang dan melakukan balasan terhadap serangan balik lawan. “Jadi kita yang menyerang, kita yang menang,” kata Bambang.

Selain di Bekasi, pusat latihan Cingkrik Goning ada di Padepokan Pencak Silat Indonesia di Pondok Gede. Mereka berlatih tiap Sabtu sore. Dua bulan lalu, kabar mengejutkan datang dari Belanda. Seorang Indonesia bernama Herry Masfar, yang sekarang tinggal di Amsterdam, mengaku pernah belajar Cingkrik Goning.

Masfar mengaku belajar Cingkrik Goning dari guru silat bernama Rochimin, yang mungkin adalah murid Engkong di daerah Kebon Jeruk sekitar 1950-an. Sejak 1960-an, Masfar tinggal di Amsterdam dan mulai mengajarkan ilmu silatnya, termasuk kepada pasukan marinir di pusat pendidikan marinir Belanda di Den Helder.

Rencananya, Desember ini, mereka akan datang untuk belajar dari sumber asli Cingkrik Goning di Indonesia. Kalau marinir Belanda tertarik belajar ilmu silat ini, mengapa kita tidak? AMAL IHSAN – TEMPO

Maret 1, 2007 at 2:40 pm 11 komentar

Lahir dari Filosofi Ajaran Tasawuf

Sabtu, 14 Oktober 2006, Apa jadinya jika suatu aliran beladiri lahir dari suatu filosofi tentang kehidupan? Yang muncul adalah seni beladiri yang tak hanya mengajarkan aspek membela diri, tapi juga jalan memahami diri sendiri dan alam.

Adalah Cikalong, aliran pencak silat dari Jawa Barat, yang lahir dari filosofi ajaran tasawuf yang mengajarkan kesatuan tubuh dan hati sehingga agresi dari musuh bukan dilawan dengan kekerasan, melainkan diterima dan dinetralkan dengan baik dan efektif.

Meniru Aikido atau Taichi? Jangan salah, Cikalong asli negeri sendiri dan memiliki sejarah panjang. Haji Ibrahim atau Raden Djaja Perbata (1816-1906), bangsawan Sunda, yang menemukan aliran silat ini.

Raden Djaja belajar pencak silat dari kakak iparnya, Rd. Ateng Alimudin (Jatinegara), dan dari para pendekar Betawi, seperti Bang Ma’ruf (Karet), Bang Madi (Gang Tengah), serta Bang Kari (Kampung Benteng).

Setelah kembali menunaikan ibadah haji, Raden Djaja berketetapan hati untuk melahirkan ilmu beladiri yang sesuai dengan ajaran tasawuf. “Beliau merasa pencak silat yang dipelajarinya kurang sesuai dengan ajaran tasawuf yang dia anut, yang mengajarkan kejahatan harus dibalas dengan kebaikan,” kata H. Azis Asy’arie, salah satu ahli waris Cikalong.

Raden Djaja, yang setelah naik haji dikenal dengan nama H. Ibrahim, melakukan khalwat atau mengasingkan diri ke Gua Jilebut, Cikalong, selama 40 hari. Hasil pengasingan inilah yang melahirkan aliran silat Cikalong, merujuk nama kota kelahiran dan tempat H. Ibrahim dimakamkan.

(lagi…)

Maret 1, 2007 at 2:39 pm 3 komentar

Titisan Murni Putra Betawi

Sabtu, 21 Oktober 2006

Titisan Murni Putra Betawi

Apakah Anda tahu di mana letak Jalan Pangeran Jayakarta? Jalan yang terletak di wilayah Kota itu diabadikan untuk mengenang perjuangan Ahmad Djakerta atau Pangeran Jayakarta III, keturunan Fatahillah, pendiri Kota Jakarta.

Ketika Pangeran Jayakarta III berkuasa, armada Maskapai Perdagangan Belanda (VOC) menyerang Jakarta pada 1619. Pada waktu itu, istana Jayakarta terletak di kawasan yang sekarang disebut Mangga Dua. Ketika istananya diserang, Pangeran Djakerta berhasil meloloskan diri.

Untuk mengelabui tentara kompeni Belanda, sang pangeran melempar jubahnya ke dalam sumur, untuk mengesankan ia sudah tewas dan mayatnya dibuang ke sumur. Belanda pun mengira demikian. Setelah Jayakarta dikuasai Belanda, Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen mengubah nama kota menjadi Batavia.

Sedangkan Pangeran Jayakarta dan pengikutnya bertahan di hutan jati di wilayah timur Jakarta. Wilayah itu lantas disebut Jatinegara, yang bermakna “negara atau pemerintah (Jakarta) yang sejati”.

Di wilayah itu pula Pangeran Djakerta menggalang kekuatan untuk melawan Belanda. Ia menyamar sebagai rakyat jelata dan terus bergerilya hingga akhir hayatnya. Anak keturunannya juga terus hidup dan menyembunyikan identitasnya.

Cirinya adalah nama depan “Ateng” yang sebenarnya berarti “Raden”. Bukan cuma nama yang diwariskan keturunan Pangeran Jayakarta, tapi juga permainan pencak silat. Salah satu keturunannya yang mewarisi ilmu silat adalah Haji Ateng Abdulrahim (1885-1970).

Ateng Abdulrahim, yang setelah menunaikan haji dipanggil H. Ibrahim, pada masanya dikenal jago Mester, Jatinegara. Ia belajar ilmu silat dari ayahnya, Ateng Abdul Hamid, dan pamannya, Ateng Arwah dan Ateng Damis, juga dari banyak guru silat lainnya seperti Ki Asnawi dan H. Solihin.

H. Ibrahim mewariskan ilmu silatnya kepada anak angkatnya, H. Ahmad Bunawar dan muridnya, H. Deddy Setiadi, yang kemudian mendirikan perguruan pencak silat Tiga Berantai pada 1975.

Menurut H. Ahmad, perguruannya disebut Tiga Berantai karena ada tiga aliran besar ilmu silat yang diajarkan, yakni Si Macan, Si Tembak, dan Si Karet.

Si Macan adalah ilmu silat yang diwariskan Pangeran Jayakarta. Cirinya adalah serangan jari tangan cakar dengan landasan tenaga dalam yang kuat. Dalam pertarungan, cakar digunakan untuk menyerang titik lemah musuh, seperti mata dan tenggorokan.

Adapun Si Tembak adalah ilmu silat yang diwariskan Pangeran Sugiri, kerabat Pangeran Jayakarta. Ciri khasnya adalah menyimpan pukulan telapak tangan kanan yang dialiri tenaga dalam untuk kemudian dilepaskan sebagai pukulan pamungkas.

Yang ketiga adalah Si Karet, ilmu silat yang merupakan penggabungan dari berbagai aliran, seperti aliran Kebon Manggis dari H. Solihin, Cikaret dari Bogor, aliran Mak Inem Pengasinan dari Kerawang, serta Serak dari Pak Muhin di Tenabang.

Selain itu, aliran silat Si Sabar dari Kebon Sirih dan Giek Sao dari Cina Utara. “Si Sabar diajarkan kakek saya, Engkong Musa, dan Giek Sao diajarkan ayah saya, H. Muhasim,” kata H. Ahmad.

Dengan warisan aliran silat yang begitu kaya, tak aneh jika Tiga Berantai menjadi perguruan silat yang disegani. Tiga Berantai yang juga salah satu perguruan pendiri Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sering kali menguasai turnamen pencak silat dalam dan luar negeri serta telah mencetak banyak juara.

Selain itu, Tiga Berantai merupakan pendiri Persatuan Pencak Silat Betawi yang mewadahi 80 aliran silat di Jakarta. AMAL IHSAN – Tempo

Maret 1, 2007 at 2:38 pm Tinggalkan Komentar

PASEBAN LAMA

Sabtu, 13 Januari 2007

Celik Mata, Cepet Tangan
Sebuah pukulan datang sangat cepat, mengarah ke muka. Tapi lelaki tua itu denganenteng menepisnya. Serangan berikut tak kalah mengejutkan. Lagi-lagi dengan mudah ia tepis.

Berikutnya, tangan kanan kukuh lelaki tua itu menjangkau leher lawan. Sang penyerang dibuatnya perlaya. Ini memang bukan perkelahian sungguhan. Toh, orang bisa melihat keampuhan jurus silat sang Engkong. Di usianya yang menginjak 72 tahun, Salim bin Sinan masih tetap lincah dan bertenaga. “Yang penting, celik mata cepet tangan,” kata Salim sedikit membuka rahasia jurus silatnya itu.

Yang dimaksud Salim, ketika bertarung, mata harus jeli dan tangan bergerak cepat. Ini prinsip yang diajarkan gurunya, Mochammad Soleh. Sang guru, yang wafat pada sekitar 1978, adalah pendiri aliran Paseban. Dinamai Paseban karena sang pendiri memang tinggal di Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.

M. Soleh mengembangkan ajaran Paseban sampai ke beberapa wilayah, termasuk Kebon Kacang, Kebon Melati, dan Tanah Tinggi. Tak jarang ia mendapat tekanan dari Kompeni Belanda saat mengajari jurus silatnya itu. Salim muda berguru kepada M. Soleh setelah berkelana dari satu guru ke guru lainnya. Tapi tak serta-merta ia percaya dengan ilmu calon guru barunya itu. Ia pun meminta izin untuk menjajal ilmu sang guru. “Begitu saya menyerang, tahu-tahu saya telentang.”

Tiap kali mendapat ilmu, “Babe saya minta setelan,” katanya. Maksudnya, ilmu yang baru dipelajari dicobanya untuk bertarung melawan Sinan, ayahnya. Dengan jurus Paseban yang dimilikinya, Salim sempat melempar ayahnya ke luar rumah. “Babe esen supaya ilmu ini saya pegang terus sampe mati,” katanya mengenang. Semenjak itu Salim mengembangkan ilmunya di Depok. Namun, bukan tanpa hambatan.

Beberapa kali ia mendapat tantangan, salah satunya dari preman setempat. Salim sebenarnya enggan meladeni preman itu, tapi akhirnya ia menerima dengan syarat: yang kalah harus pergi dari Depok. Hanya dalam sekali gebrak preman itu pingsan. “Saya dengar sekarang dia tinggal di Sumatera.” Kecepatan tangan memang jadi ciri khas silat Paseban, kejelian mata juga. Adapun karakter aliran ini adalah bertahan.

Serangan baru dilakukan setelah lawan menyerang. Pukulan pamungkas pisau tangan dan telapak biasanya diarahkan ke leher atau dada lawan. Seperti aliran etawi lainnya, Paseban jarang menggunakan tendangan. “Kaki hanya digunakan untuk menyapu kaki lawan,” kata Agus Suprayogi, salah satu murid Engkong Salim. Mempelajarinya cukup mudah.

Paseban Lama hanya mengenal 6 jurus dan 12 langkah. Dari situ bisa menghasilkan kombinasi gerakan yang tak terhingga. “Ilmu ini tak akan habis untuk digali sepanjang umur kita,” ucap sang Engkong.
AMAL IHSAN

Maret 1, 2007 at 2:37 pm 1 komentar

Berbakti dengan Pukulan Besi

Minggu, 21 Januari 2007

BEKSI (H Hasbullah) Sebuah pukulan meluncur deras ke arah mukanya, tapi lelaki itu dengan gesit memutar bahunya. Menghindar. Lalu giliran kepalan tangannya yang mendarat di wajah lawan. Cepat. Keras bak besi.
“Beksi emang ngandelin power dan kecepetan tangan,” ujar H Basyir Bustomi, 38 tahun, dengan logat Betawi yang cukup kental. Basyir adalah ketua perguruan silat Betawi, Beksi H Hasbullah.

Ditahbiskannya nama sang guru ada ceritanya. Dikisahkan, guru besar asal bela diri ini justru seorang keturunan Tionghoa bernama Lie Ceng Oek. Ia tinggal di Kampung Dadap, Tangerang.

Lie memiliki seorang pegawai bernama Ki Marhali. Ketika itu, Marhali kerap melihat tuannya berlatih kungfu. Lantas ia mencoba gerakan-gerakan sang tuan. Lie, yang melihat Marhali memiliki bakat, lantas mengajarinya.
Suatu waktu Marhali bertemu dengan H Ghozali dari Petukangan, Jakarta Selatan. Ghozali, yang mendengar Marhali seorang ahli ilmu bela diri, lantas menjajalnya. Marhali menang. Ghozali dan keponakannya, H Hasbullah, akhirnya belajar ilmu bela diri baru ini.

Selain Hasbullah, Ghozali juga memiliki dua murid lainnya. Maka jadilah tiga perguruan Beksi yang ada sekarang dengan menasbihkan nama gurunya masing-masing: H Hasbullah, Engkong Nur, dan Engkong Simin. “Kami masih sering bertemu dan bersilaturahmi. Terakhir kami mengadakan festival dan Beksi H Hasbullah keluar sebagai juara,” kata Basyir, sambil menunjuk piala bergilir di ruang tamu rumahnya.

H Hasbullah (1896-1989) mengembangkan ilmunya, terutama di Petukangan, Kebayoran Lama, Ulujami, dan Pondok Aren. Murid-muridnya lantas mengembangkannya hingga ke lima wilayah Jakarta. Beksi sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Cina, bie sie. Bie artinya pertahanan dan sie artinya empat. Maknanya, pertahanan empat penjuru. Dalam lidah Betawi, akhirnya menjadi Beksi. Oleh Hasbullah, lantas diberi makna baru: berbaktilah engkau kepada sesama insan.

Ciri khas Beksi adalah pukulan kepalan terbalik dengan sisi lengan dalam menghadap ke atas. Pukulan ini harus dilakukan dengan mengerahkan tenaga. Ketika menyerang, tulang buhul jari menjadi ujung pukulan. “Jadi pukulan kite ada matanye,” kata Basyir.
Pukulan kepalan terbalik ini dibarengi dengan goleng atau gerak bahu untuk meningkatkan kekuatan pukulan. “Selain tentu menambah jangkauan tangan,” ujarnya.

Selain itu, pukulan sikut menjadi ciri khas Beksi, lagi-lagi dengan landasan tenaga. Bertarung dengan jarak rapat, lawan dijamin babak belur. Siapa berani mencoba? AMAL IHSAN – Tempo

Maret 1, 2007 at 2:37 pm 2 komentar

Silau Macan dari Tanah Condet

Sabtu, 27 Januari 2007

Apa yang terkenal dari Condet? Orang akan menjawab: salak dan dukunya. Padahal bukan itu saja. Wilayah konservasi budaya Betawi itu juga terkenal dengan warisan budaya silat, yang terkait dengan sejarah Condet sebagai tempat perlawanan rakyat menentang pemerintah kolonial Belanda.

Tersebutlah cerita tentang H. Entong Gendut yang terkenal sebagai pemimpin perlawanan rakyat dari Condet pada 1916. Alkisah, Condet ketika itu merupakan kawasan udik di luar kota Batavia Lama (Oud Batavia), yang dikembangkan oleh tuan tanah Belanda. Orang Belanda menyebutnya Groeneveld atau Tandjoeng Oost (Tanjung Timur).

(lagi…)

Maret 1, 2007 at 2:36 pm Tinggalkan Komentar

Tulisan Lebih Lama


HAK CIPTA
Anda dapat mencopy tulisan pada blog ini, anda wajib menuliskan sumber asli dan nama penulisnya. Mari kita hormati Hak Cipta para penulis dan pejuang komunitas pencak silat Indonesia, SemangAT.
Alhamdulillah Jaza Kallahu Khoiro

Tulisan Terkini

Flickr Photos

22112009(008)

syahbandar02

syahbandar01

syahbandar3

More Photos

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 111,508 hits

KOMUNITAS

 

Maret 2007
S S R K J S M
« Jan   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.