Archive for Oktober, 2006

Silat Betawi – tempo doeloe dan masa depan

Mengenang pencak silat betawi tidak terlepas dari sejarah perkembangan dan dinamika kota Jakarta tempo doeloe, sejak dahulu Jakarta sudah menjadi kota cosmopolitan tempat dimana pertemuan berbagai ragam budaya, suku bangsa, seperti suku-suku dari daerah – daerah di Nusantara hingga bangsa lain seperti Arab, Melayu, India, Cina, Portugal, Belanda dan lain-lainnya.

Sejak Sunda kelapa (1527) dikuasai oleh pasukan Demak yang dipimpin Fatahillah, lahirlah Jayakarta, yang saat ini setiap tahun diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta pada tanggal 22 Juni. Perjalanan panjang sejarah Jakarta berimpilikasi pada masyarakat yang mendiaminya, menurut ahli Antroplog Universitas Indonesia, Dr Yasmin Zaki Shahab MA, memperkirakan etnis betawi terbentuk sekitar tahun 1815-1893. Oleh sebab itu orang betawi sebenarnya terhitung sebagai pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lainnya yang sudah terlebih dahulu hidup di Jakarta seperti orang sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon dan melayu.

Kemajemukan ini pula yang menyebabkan terjadinya pertukaran seni, budaya, adat istiadat hingga ilmu beladiri yang berkembang saat itu atau yang lebih popular dengan istilah “Maen Pukulan” (silat), Silat diperkirakan sudah ada sejak abad ke 16 dimana masyarakat setempat (Jayakarta) pada masa itu sering mempertunjukkan seni silat di saat pesta perkawinan atau khitanan(sunatan). Hal ini memperkuat dugaan bahwa silat tidak hanya berfungsi sebagai ilmu beladiri namun sudah menjadi suatu produk sosial, seni budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

Pencak Silat telah mewarnai kehidupan masyarakat betawi, dimana silat atau maen pukulan adalah hal yang wajib dipelajari, silat betawi terkenal dengan aliran-alirannya yang merunut pada asal kampung atau daerah perkembangannya. Hal ini menurut Prof Dr Parsudi Suparlan, “bahwa masyarakat betawi dalam pergaulannya sehari-hari, lebih sering menyebut dirinya berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong”. Karena pada saat itu kesadaran sebagai masyarakat betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu belum begitu mengakar. Baru pada tahun 1923 Moh Husni Thamrin dan tokoh masyarakat betawi mendirikan Perkumpulan Kaum Betawi di masa Hindia belanda telah menyadarkan segenap orang betawi sebagai sebuah golongan (kelompok etnis sebagai satuan sosial dan politik yang lebih luas) sebagai golongan orang Betawi.

Dari penjelasan diatas terdapat relevansi, bila silat betawi dikenal dengan asal daerahnya seperti silat Kemayoran, silat Tanah Abang , silat Rawabelong dan masing banyak lainnya yang menjurus pada jago – jago di setiap kampung. Bila menyelidik lebih jauh kedalam kampung betawi maka sejak jaman dahulu hampir di setiap kampung terdapat jagoan, mereka tidak hanya menjaga kampung, mereka juga cukup disegani karena tingkah lakunya yang terpuji. Pesilat atau jago “maen pukulan” ini menggunakan ilmu beladiri untuk perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak manusia ke jalan yang benar dan menjauhi kezaliman). Menurut H. Irwan Sjafi’e, ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), keberadaan mereka sangat di hormati dan hubungan dengan alim ulama pun sangat erat, sehingga jagoan dan alim ulama adalah orang yang terhormat di dalam masyarakat betawi.

Cerita kepahlawanan para jago silat dimasa itu cukup menarik disimak, pada umumnya mereka membela rakyat kecil dan melindungi kampung dimana mereka tinggal, sebut saja “Sabeni” pendekar legendaris dari Tanah Abang yang hidup sebelum perang dunia kedua, Sabeni lahir sekitar tahun 1860 di Kebon Pala Tanah Abang dari orang tua bernama Hannam dan Piyah. Menurut Bang Izul (salah satu cucu Sabeni), “Sabeni mulai dikenal namanya setelah Sabeni mampu menghadapi salah satu jago daerah Kemayoran yang berjuluk Macan Kemayoran ketika hendak melamar puteri si Macan Kemayoran untuk dijadikan isteri.” Selain itu peristiwa-peristiwa lainnya seperti pertarungan di Princen Park (Lokasari) dimana Sabeni berhasil mengalahkan Jago Kuntau dari Cina yang sengaja didatangkan oleh pejabat Belanda bernama Tuan Danu yang tidak menyukai aktivitas Sabeni dalam melatih maen pukulan para pemuda Betawi dan yang sangat fenomenal adalah ketika Sabeni dalam usia lebih dari 83 tahun berhasil mengalahkan jago-jago beladiri Yudo dan Karate yang sengaja didatangkan oleh penjajah Jepang untuk bertarung dengan Sabeni di Kebon Sirih Park (sekarang Gedung DKI). Sampai usia 84 tahun Sabeni masih mengajar maen pukulan (beliau mengajar hampir keseluruh penjuru jakarta bahkan untuk mendatangi tempat mengajar beliau biasanya berjalan kaki), sampai meninggal dunia dengan tenang didampingi oleh murid dan anak-anaknya pada hari Jumat tanggal 15 Agustus 1945 atau 2 hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam usia 85 Tahun, beliau dimakamkan di Jalan Kuburan Lama Tanah Abang. Kemudian atas perjuangan Bapak M. Ali Sabeni salah satu putera beliau, Jalan Kuburan Lama Tanah Abang diganti oleh pemerintah daerah DKI menjadi Jalan Sabeni.

Selain itu di “Tanah Abang” masih terdapat pendekar silat lainnya yang cukup dikenal seperti, Rahmad, Ma’ruf, Derachman Djeni, Habib AM Akhabsji, Satiri dan tokoh lainnya. Kabarnya pendekar dari daerah lain kerap berkunjung ke tanah Betawi untuk memperdalam ilmu silatnya, selain belajar ilmu silat mereka juga saling bersilaturahmi, Menurut Bapak Oong Maryono (Pengamat Pencak Silat) kepada penulis menyebutkan bahwa “Banyak pendekar dari Sunda yang berguru ke daerah Betawi”. Tokoh-tokoh pencak silat dari sunda turut mewarnai khasanah silat ditanah Betawi, misalnya Raden H. Ibrahim (1816-1906) yang dikenal dengan Silat Cikalong pernah berguru dengan bang Kari dan bang Madi. Bang Kari dan bang Madi (Karimadi) cukup tersohor sebagai sumber ilmu silat dari daerah betawi pada zamannya, Dalam dunia persilatan Madi dikenal pakar dalam mematah siku lawan dengan jurus gilesnya, sedangkan Kari dikenal sebagai pendekar asli Benteng Tangerang yang juga menguasai jurus-jurus silat dan ahli dalam teknik jatuhan. Hingga saat inipun keduanya masih menjadi legenda yang tetap tercatat sebagai pendekar dari betawi. Raden H. Ibrahim sebelum berguru dengan bang Kari dan bang Madi, ia pernah tercatat pula berguru dengan seorang pendekar Betawi yaitu bang Ma’ruf di daerah Karet, Tanah Abang.

Tokoh pendekar lain yang cukup dikenal oleh masyarakat betawi adalah Pitung, Pitung berasal dari kampung Rawabelong Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta Barat, belajar silat dan mengaji dari H. Naipin. Kepandaiannya bermain silat menjadikan Pitung cukup terkenal karena keberaniannya untuk membela rakyat kecil, dengan cara “Merampok”, Pitung memberikan hasil rampasannya tersebut kepada orang-orang miskin yang membutuhkan. Demikian dikemukakan Margreet van Till (Belanda) dalam makalah/disertasinya, In Search of si Pitung, the History of an Indonesia Legend (1996). Sepak terjang Pitung menjadikan dia sebagai incaran belanda, kerena penghianatan kawan seperguruannya Pitung ditembak mati oleh Schout Van Hinne terjadi pada 16 Oktober 1893. Ia lalu dibawa ke rumah sakit dan esoknya meninggal dunia (17 Oktober). Beritanya dimuat dalam Hindia Olanda (edisi 18 Oktober 1893), pada usia yang muda, sehingga menurut cerita pitung belum sempat berkeluarga.

Betawi memang terkenal dengan tokoh – tokoh persilatan hingga aliran jurus (maenan) yang digunakan seperti Cingkrik, Gie Sau, Beksi, kelabang Nyebrang dan merak ngigel, Naga ngerem dan masih banyak lainnya. Permainan silat Cingkrik dikenal dengan cukup khas sebagai silat betawi pada umumnya. Perkembangan silat cingkrik inipun telah membias ke pelosok-pelosok kampong betawi, sehingga aliran ini memiliki banyak turunannya (aliran). Salah satu turunan antara cingkrik dan cimande adalah aliran Cingkrik Goning, yang merupakan silat betawi warisan dari Engkong Goning yg merupakan pejuang dari wilayah kedoya. Ilmunya kemudian diturunkan kepada Bapak Usup Utay, yang kemudian menurunkan kepada mantunya yaitu Bapak Tb. Bambang, Silat cingkrik secara umum terbagi 2 yaitu Cingkrik Goning dan Cingkrik Sinan. Perbedaannya ialah Cingkrik Sinan menggunakan “ilmu kontak” sementara Cingkrik Goning hanya mengandalkan kelincahan fisik. “Silat ini selalu berusaha untuk masuk dan mengunci lawan, jadi tidak banyak berlama-lama bertukar pukulan atau tendangan.” Ujur Pak Bambang pada penulis saat melatih di Padepokan beberapa waktu lalu.

Keragaman aliran silat betawi turut diwarnai oleh latarbelakang silat dari daerah lain, seperti silat aliran Sahbandar, Kuntao (Cina) dan beberapa aliran silat dari Sunda. Proses Asimilasi mendapatkan nama aliran ataupun perkumpulan baru. Nampaknya ciri khas dan latarbelakang betawi tetap kuat mewarnai gerakan jurus-jurusnya. Seperti Mustika Kwitang yang berdiri Kampung Kwitang, Jakarta Pusat, salah satu tokohnya adalah H Muhammad Djaelani, yang lebih dikenal dengan sebutan Mad Djaelani. Ilmu silat Mustika Kwitang, kini diwariskan pada cucunya, sekaligus muridnya, H Zakaria. Akulturasi Ilmu Silat dari Cina dengan betawi bukan hal yang aneh misalnya silat Beksi, atau bek (Pertahanan) dan Sie ( Empat) yang artinya pertahanan empat arah, Tiga pendekar Beksi ( H. Gozali, H. Hasbullah dan H. Nali) dan seorang cina bernama Ceng Ok, mengembangkannya di Betawi (Jakarta). Diperkiraan Aliran Beksi merupakan Silat Betawi yang paling luas penyebarannya di Jakarta saat ini.

Tidak ketinggalan silat yang datang dari daerah Nusantara contohnya aliran Silat Sahbandar yang dibawa oleh Mamak Sahbandar atau yang lebih dikenal dengan nama H.Mohamad Kosim (1766-1880) yang berasal dari Pagaruyungan, Sumatra Barat. Sebenarnya Sahbandar diperkenalkan di Cianjur namun ilmu beladiri ini berkembang pesat pula Betawi. H. Mohamad kosim wafat pada usia 114 yang dimakamkan di daerah wanayasa, Purwakarta. Silat Betawi pada umumnya menonjolkan permainan menggunakan serangan tangan dan kaki yang sangat cepat, sekitar tahun 1896 terdapat satu perkumpulan silat yang didirikan oleh M. Toha dan H. Odo yang bernama aliran Sin Lam Ba, aliran ini memperkenalkan Silat Tenaga Dalam dan Juga jurus-jurus silat pada umumnya, berkembang pesat di Jakarta hingga saat ini. Sebenarnya masih terdapat banyak aliran silat lainnya seperti silat Serak, dan Gerak Rasa yang juga cukup terkenal di Jakarta.

Setelah jaman kemerdekaan (1945) Jakarta menjadi tujuan Imigran dari seluruh Indonesia, menurut data bapeda pada tahun 1961 suku betawi mencakup kurang lebih 22.9 persen dari 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran Jakarta. Tidak mengherankan bila aliran-aliran silat betawi pun ada yang ikut tergusur yang dibawa oleh murid dari masing-masing aliran dan perkembangan pencak silat pun semakin semarak karena kesadaran dalam upaya mewariskan ilmu beladirinya secara turun menurun kepada keluarga, masyarakat setempat maupun di tempat lain.

Pelestarian Silat Betawi
Pencak silat merupakan kekayaan seni budaya bangsa yang penting artinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan sehingga perlu adanya proses pelestarian demi memupuk kesadaran jatidiri bangsa. Gagasan membentuk wadah bagi silat aliran betawi muncul pada tahun 1972, yang bertujuan mempersatukan pesilat betawi ke dalam organisasi Persatuan Pencak Silat “Putra Betawi” pada tanggal 20 Januari 1972. Susunan Pengurus pada waktu itu antara lain, H. Sa’ali SH terpilih sebagai Ketua Umum, Satiri (Sahbandar) ketua I, Machmud Marzuki (PS. Putra Utama) ketua II dan H. Sumarmin (Macan Beatwi) Ketua III. Soekatma sebagai Sekretaris dan Sa’aman sendiri terpilih sebagai komisi teknik. Guru Besar yang mewakili Perguruan yang mendukung wadah ini berjumlah hingga 20 lebih perguruan silat betawi antara lain, PS. Putra Utama (Babe Oetama), PS. Putra Jakarta (Bang Sa’aman), PS. Sapu Jagat (Pak Endang Ms), PS. Sahbandar (TM Satiri), PS. Sutera Baja (Olive), PS. Mustika Kwitang (Zakaria), PS. Genta, PS. Sikak Mas, dan perguruan lainnya. Persatuan Pencak Silat “Putra betawi” pernah bersilaturahmi menghadap Presiden Suharto Pada tanggal 3 Januari 1973.

Perjalanan PPS. Putra Betawi yang merupakan organisasi yang memberikan wadah bagi perguruan / aliran silat betawi tidak selalu berjalan mulus, organisasi ini pernah vakum selama 10 tahun, dan pada tanggal 24 Mei 1986 dilakukan konsolidasi guna kemantapan organisasi untuk meningkatkan dan mengembangkan kegiatan-kegiatan “PPS. Putra Betawi” oleh genarasi penetusnya, dan pada masa itu terpilih H. Daong Makmur Zulkarnaen sebagai pemimpin “PPS. Putra Betawi” pada masa itu.

Masuk pada tahun milinium, menurut data terdapat lebih 50 aliran atau perguruan silat yang bernafaskan silat betawi, dan memang tidak semua aliran silat ini bisa dijangkau seketika harus ada proses sosialisasi dan pendekatan yang berkelanjutan, inipun beberapa silat yang bernaung dibawah Putra Betawi mulai menghilang dari Jakarta. Proses penelusuran guna menghidupkan beberapa perguruan dilakukan melalui beberapa cara, antara lain “kejuaraan Internal Silat Betawi dan melalui Festival Silat Betawi” tujuannya adalah untuk memantau perkembangan silat betawi agar tetap hidup walaupun tidak sepopuler pada masa lalu.

Salah satu rencana Putra Betawi kedepan adalah “mengadakan acara Kejuraan khusus silat aliran betawi, karena kami berusaha menjada ke unikan silat ini, bila dibandingkan kejuaraan yang dilakukan IPSI yang sifatnya lebih nasional untuk olahraga prestasi” ujur Deddy Suryadi (Ketua Umum PPS. Putra Betawi). Putra Betawi, terus berupaya mengangkat silat sebagai salah satu kebanggaan warga betawi karena itulah pada senin (21/8/2006) lalu diselenggarakan Festival silat Betawi di Bawah organisasi Putra Betawi, tidak kurang sekitar 23 perguruan siat aliran betawi ikut hadir menyemarakkan acara tersebut. Kegiatan ini bertujuan mendokumentasikan melalui film dokumenter agar silat yang pernah ada dapat selalu terdata, dan diharapkan peran pemuda betawi khususnya dapat bersama-sama memperkenalkan kembali asset tersebut kepada generasi muda lainnya.

Dokumentasi dan Internet
Mendokumentasikan silat tradisional dalam bentuk buku dan Video merupakan wacana yang sedang direalisasikan oleh Forum Pecinta dan Pelestari Silat Traddisonal yang beberapa waktu lalu dibentuk oleh kalangan pecinta ilmu beladiri tradisional, mereka saling berinteraksi melalui jalur internet untuk bertukar Informasi mengenai silat yang berkembang di Indonesia.

Sebagai kegiatan awal Menurut Eko Hadi Selaku koordinator Forum ini mengatakan “Diadaakan pendataan perguruan atau aliran yang masih terdapat diwilayah DKI Jakarta, dipilihnya Silat yang berada di Jakarta karena pada umumnya anggota forum tinggal diJakarta dan sekitarnya, mungkin untuk kedepannya kita akan memiliki wakil-wakil didaerah lain” ujurnya. Sebagai Pilot Project dipilh beberapa aliran Silat khususnya Betawi yang kondisinya cukup mengkwatirkan, contohnya Silat Cingkrik Goning, Silat Pahaman dan Silat Sabeni. Ketiga aliran silat ini telah di dokumentasikan, bahkan dibuka latihan untuk umum di Padepokan Nasional Pencak silat Indonesia Setiap hari sabtu pagi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan berpatisipasi langsung melalui latihan. Kegiatan lain yang cukup penting adalah mengadakan diskusi atau saresehan yang rencananya di adakaan setiap Bulan, diharapkan bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh dapat langsung ikut pada acara saresahan ini di Padepokan Nasioanl Pencak Silat TMII Jakarta.

Forum ini terbuka untuk umum, sehingga diharapkan partisipasi masyarakat dapat ditampung dalam wadah tersebut, selain itu masyarakat dapat pula mengakses situs yang telah dikembangkan oleh forum ini di alamat www.silatindonesia.com, selain informasi silat tradisional terdapat ragam informasi kegiatan dari perguruan ditanah air. Ditambah kehadiran Mailinglist (milis) di alamat http://silat.4-all.org sebagai jembatan komunitas pencak silat di Indonesia.

Sepatutnya kita harus berbangga hati karena Pencak Silat sudah berkembang pesat di Negara lain yang saat ini mencapai lebih 20 Negara di 5 Benua, namun sayangnya perkembangan yang pesat di luar negeri tidak di imbangi dengan perkembangan didalam negeri yang kian hari kian menurun. Semoga dengan kerja keras Masyarakat Pecinta Pencak Silat akan hadir image baru dalam dimensi yang memberikan citra terbaik bagi peninggalan nenek moyang kita.

DATA ALIRAN SILAT BETAWI
Al Fauziah
Benteng Betawi
Cemeti Utama
Dasa Budhi
Gerak Sakti
Gerak Saka
I.S.K.P
Kera Putih
Macan Betawi
Mustika Kwitang
Putra Utama
Pusaka Sapu Jagat
Purbakala
Putra Condet
Putra Jakarta
Pusaka Jakarta
Sutera Baja
Sunda Kelapa
Sinar Betawi
Sinh Lam Ba
P.S.R.I Syahbandar
Permata Sakti
Kancing7Bintang 12
Lembayung Senja
Waris Pusaka Kwitang
Tiga Berantai
Sinar Paseban
Mutiara
Segara Mustika
Papat Kalima Pancer
Rumpun Betawi
Jurus Berantai
Cingkring Goning
Selendang Putih
Putra Jaya
Siku siku hitam
Bunga Rampai
Persahabatan
Beksi Simprug
Gerak Sanalika
RTI.Kartika Jaya
Tangan Kosong
Ayu Pusaka
MS.Jalan Enam Pengasinan
Serasi Betawi
PS Simpu
Taqwa Betawi
Penulis : yanweka
Penulis adalah anggota Forum Pecinta & Pelestari Silat Tradisional

Oktober 21, 2006 at 7:58 am 15 komentar

Menyalurkan Tenaga Lawan Merupakan Teknik Dasar Silat

Anda pernah melihat betapa indahnya gerakan beladiri Aikido dalam mempermainkan tenaga lawannya hingga jatuh bangun dibuatnya?

Di dalam beberapa aliran silat, konsep mengalirkan tenaga lawan bukanlah sesuatu yang aneh. Saya ambil contoh pada beberapa aliran Maen Po (silat Sunda) teknik buang kelid atau piceunan (dalam bahasa Sunda) sudah merupakan teknik dasar yang harus dimiliki.

Contohnya pada aliran Cikalong, memanfaatkan tenaga lawan akan menghasilkan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan mengadu tenaga dengan lawan. Dengan menangkis serangan lawan misalnya. Apalagi kalau ukuran badan dan tenaga lawan sangat besar dan tidak mungkin ditandingi dari segi tenaga.

Saya teringat ketika latihan Sabtu dulu di Padepokan Pencak Silat Taman Mini, seorang teman bercerita ketika dia ditunjukkan cara menghindari teknik kuncian tangan dengan cara cikalongnya Pak Azis (Guru besar perguruan silat Cikalong Pancer Bumi). Caranya adalah dengan mengikuti tenaga lawan dan merapatkan lengan ke badan tanpa memberikan tenaga tolakan. Otomatis kuncian tangan dapat dilepaskan meski yang mengunci lebih besar tenaganya.

Teknik seperti ini dikenal dengan istilah isi-kosong (eusi-kosong), dimana sebagai pesilat dapat mengetahui kapan harus dilawan dengan tenaga dan kapan diberi tenaga kosong.

Sepertinya konsep ini juga dianut oleh aliran lain seperti Aikido. Semakin terasah rasa kita ketika mengetahui kapan tenaga lawan habis maka semakin sempurna kita berlatih tenaga eusi-kosong ini.

Salah satu syarat untuk melatih ini adalah dengan melatih jurus dengan cara menempel lawan atau bahasa Sundanya adalah ulin napel atau usik. Dengan semakin sering kita usik, akan semakin terlatih rasa kita dalam mengukur dan menyalurkan tenaga lawan dengan menggunakan tenaga isi dan kosong (eusi-kosong).

Hal lain yang perlu dilihat dalam pengaturan tenaga ini adalah kekuatan terbesar dalam tenaga adalah tenaga putaran (circle power). Ini bisa dilihat dalam setiap gerakan Aikido, dimana semua tenaga lawan akan dialirkan sesuai dengan tenaga putaran. Begitu tenaga lawan habis maka tibalah waktunya kita untuk menyerang balik.

Tenaga putaran ini tidaklah cukup dengan hanya memutar badan saja tetapi harus diimbangi dengan kelincahan gerak kaki yang sangat terlatih dalam menyalurkan tenaga lawan.

Di dalam silat, teknik seperti ini sudah ada dan sangat familiar dilakukan di kalangan pesilat tradisional seperti terlihat bagaimana silek Sumatra (kumango atau silek tuo) melakukan gerakan putar yang sudah merupakan bagian dan ciri aliran ini. Sedangkan di penca (istilah silat di Sunda) sendiri setiap jurus maen po memiliki metoda untuk melatih langkah yang disebut dengan pancer.

Jadi dalam menyalurkan tenaga lawan, silat tidak kalah dengan beladiri lain bahkan jurusnya lebih kaya dari beladiri lainnya.

Sumber: silatindonesia.com
Oleh: Kiki Rizki Noviandi

Oktober 21, 2006 at 7:55 am Tinggalkan Komentar

Silat tradisional dalam frame “kampungan”

Gerakan – gerakan jurus memukau sejumlah penonton bahkan pesilat itu sendiri saat menyaksikan Festival silat betawi yang pada umumnya adalah silat aliran tua atau tradisional. Wajah-wajah berumur tidak mematahkan semangat mereka untuk terus berkarya dan mencintai asset miliknya. Kalau saja kita jeli melihat kekayaan ragam silat yang ada, kita tak akan rela bila asset ini dimiliki oleh bangsa lain.

Memang kita kurang jeli bahkan seolah masa bodoh, lihat saja peran pemerintah hingga peran swasta ataupun media yang selama ini hanya menyoroti hal-hal yang terkesan modern. Ternyata kejelian kita masih dibawah orang asing yang jauh-jauh datang untuk sekedar ingin mengetahui asal dimana pencak silat itu berkembang di Tanah Air kita ini.

Kejelian mereka di ungkapkan dalam situs, hingga media yang mereka miliki, bahkan kecintaan mereka melebihi sebagian besar anak bangsa ini, bila cinta mereka tulus karena melihat asset yang tak akan ternilai harganya, malah masyarakat kita seolah cinta tapi ada pamrih dibalik itu, entah politis ataupun sekedar cari nama dalam komunitas pencak silat.

Peran Media
Sayang memang, harapan media memberikan warna bagi pencak silat nampaknya masih jauh dari keinginan kita, liputan yang bisa kita baca dalam tulisannya pun tidak jauh dari masalah yang klise, bukan lagi bagaimana membentuk citra yang unik dan menarik.

Kejelian hingga kepekaan mereka hanya sebatas pada tulisan yang terkesan modern tapi.. yang nyatanya membuat anak muda kita lupa, bahwa negeri ini memiliki Ribuan peninggalan seni, budaya yang seharusnya mereka gali lebih dalam hingga akar-akarnya, kini seolah mencekoki pemikiran kita bahwa budaya bangsa sendiri adalah Kuno bahkan tak berharga. Semoga masih ada media yang kritis dan tidak biasa, pasti media itu datang dari orang-orang yang Luar biasa.

By : Raden Bentar
silatindonesia.com

Oktober 21, 2006 at 7:53 am Tinggalkan Komentar

Melestarikan Pencak Silat Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler

TUJUAN yang disertai harapan-harapan luhur bagi terbentuknya sebuah pelestarian nilai-nilai budaya nusantara sangat lah di perlukan, seperti laju perkembangan salah satu olah raga yang mengandung banyak nilai-nilai budaya bangsa. Ditengah keaneka ragaman yang kita temui, Negara kita juga kaya akan keaneka ragaman baik hayati adat istiadat dan juga seni budaya. Salah satu yang ada di dalamnya adalah seni budaya pencak silat dengan berbagai keunikan di dalamnya.

Sebagai contoh Indonesia tercatat menjadi akar kebudayaan ini dan diakui memiliki sejarah ilmu beladiri dan seni pencak yang lahir berabad-abad tahun lalu seperti Aliran Cimande, Silat Tuo, Silat Kumanggo, Silat Minang, Cikalong, Cikaret, Serak, Bandrong, Sitembak, Sipecut, dll. Dalam hal ini pencak silatlah tentunya yang menjadi sorotan utama jika kita akan membahas pentingnya sebuah pelestarian khususnya dalam konteks olah raga prestasi bagi generasi muda.

Kita seharusnya patut bangga bahwasannya beladiri peninggalan nenek moyang kita pencak silat sudah mulai tumbuh dan menyebar di bagian belahan dunia di berbagai negara tetangga seperti: Singapura, Malaysia, jepang, Amerika, Belanda, dll, hampir di semua benua ada pencak silatnya dengan kata lain perkembangannya sudah sekian jauh dan berkembang sepeti yang di harapkan.

Namun, lain hal fenomena yang kita hadapi di dalam negeri, dalam upaya mendukung kegiatan tersebut di tengah generasi muda sudah semakin sempit, apalagi sulitnya memasukan sebuah kurikulum olahraga pencak silat di sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Tak ayal akibatnya bisa kita lihat, kejayaan Seni Budaya Pencak Silat yang dimiliki oleh Indonesia sudah semakin surut dan yang mempriatinkan yalah generasi muda sudah seakan kurang peduli terhadap asset Seni Budaya yang dimiliki oleh bangsanya sendiri.

Ini sebuah kenyataan yang agak sulit diungkapkan karena bagai menepuk air di dulang, membuat kita terasa mengelus dada dan menarik nafas panjang. Akan tetapi, hal ini tidak bisa terus-menerus didiamkan tanpa ada usaha untuk memperbaikinya. kita harus tidak segan untuk mengajak semua pihak yang terkait untuk berdialog bersama dan merenung bersama mengenai manfaat dari pentingnya sebuah pelestarian.

Maka, Setiap jajaran Pencak Silat dan semua pihak yang terkait di luar itu termasuk dalam hal ini peran sekolah atau dunia pendidikan berkenan untuk turut ambil peran masing-masing untuk saling bekerjasama dan mendukung dan dilakukan secara terus menerus. Bahwasannya, Pecak Silat adalah bidang lain yang seharusnya juga mendapat kesempatan memposisikan dirinya dalam penanggulangan ini, di samping sebagai olah raga prestasi. Kini sudah saatnya sekolah memiliki pandangan lebih luas terhadap kegiatan kesenian-olahraga di sekolah dalam mata pelajaran intra dan ekstra.

Sekolah juga seharusnya mempertimbangkan minat, bakat, hobi siswa yang sangat bervariasi dan diberi wadah mengikuti perkembangan jaman. Hobi adalah kompetensi yang memerlukan pengembangan yang memiliki hubungan ke arah profesi di kemudian hari. Sekolah dalam hubungan dengan kehidupan harus dapat memberikan respon, mempertimbangkan, serta bersedia untuk turut serta memperhatikan hal ini dalam jangka panjang ke depan dan sebelum itu perlu kiranya membahas peranan perguruan sebagai media sebagai transfer pengetahuan dalam pembinaan prestasi olah raga-Pencak Silat di sekolah.

Paradigma Pencak Silat
Gejala umum yang tampak di sekolah pada saat Pencak Silat ini dikenalkan adalah kegiatan tersebut tidak benar-benar melibatkan semua siswa. Hanya segelintir orang yang mau terlibat dan itu pun tampak terpaksa. Mereka lebih tertarik untuk melirik budaya bangsa lain di banding bangsanya sendiri. Anehnya, guru-guru pun lebih mendukung hal itu malah seakan mempersulit misi budaya dan olah raga ini untuk masuk ke lingkungan sekolah dengan berbagai alasan yang intinya menolak, ini lah realita dan merupakan sebuah paradigma terhadap pencak silat, yang kita hadapi di jaman globalisasi seperti sekarang.

Apakah karena kurang paham tentang Seni Budaya Pencak Silat atau apa itu silat? Apakah karena merka memang sudah tidak perduli lagi terhadap budaya sendiri?

Ini yang patut kita bahas bersama dalam sebuah pembicaraan meja bundar di sekolah antara Perguruan sebagai wakil dari misi pelestarian Seni Budaya Pencak Silat, pihak Sekolah (komite sekolah) dan juga orang tua murid atau masyarakat.

Sekolah kadang-kadang terlalu cepat mengambil kebijakan yang memang di rasa kurang bijak yang di pegaruhi oleh figure birokrasi di dalamnya. Sekolah dengan senang hati menganggap dirinya mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Termasuk melayani politik kekuasaan yang dipresentasikan melalui jargon yang merasuk ke dalam sekolah. Seperti halnya memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat menjadi wacana yang membuat semangat bertanding yang melahirkan atletik mengangkat prestise Sekolah.

Lambat laun, hal itu kemudian itu memasuki kebijakan pengembangan potensi bagi siswa-siswa di sekolah dengan anggaran yang tidak sebanding dengan pengembangan kesenian. Contoh nyata, pembangunan sarana olah raga lain yang jauh mengalahkan ketersediaan sarana berekspresi kesenian-budaya-olah raga (Pencak Silat). Bahkan terkadang lebih tragis, jika hal itu sampai juga mengalahkan kepentingan yang paling mendasar seperti perpustakaan.

Disamping sebagai hobby, olah raga juga memiliki fungsi untuk kesehatan jiwa dan raga. Ada banyak jenis olah raga, dari yang bersifat kelompok maupun yang individual, yang bersifat permainan atau yang memiliki nilai seni, dari yang sangat aman hingga yang berbahaya. Pemilihan jenis olah raga tergantung selera, karakter, dan pertimbangan kita, seperti Pencak Silat. Hal itu karena olah raga yang satu ini dirasa dapat memberikan kebutuhan yang lebih daripada sekedar olah raga gerak badan saja.

Namun, memiliki beberapa manfaat dibandingkan dengan jenis olah raga lainnya, ditinjau dari sudut fisik, mental, dan pengetahuan. Dari segi fisik, Pencak Silat melatih tidak saja otot-otot kita saja, tetapi juga organ dalam, darah, kulit, tulang, dll. Di dalam Pencak Silat, aspek kekuatan tidak hanya ditimbulkan dari kekuatan tenaga saja, tetapi juga menimbulkan kekuatan yang disebut tenaga ledakan. Di samping power, kita juga melatih stamina / daya tahan kita.

Bila kita bicara mengenai olah raga secara umum, maka tidak bisa lepas membicarakan mengenai stamina ini. Di dalam Pencak Silat, kita melatih berbagai macam stamina yang tidak terdapat dalam jenis olah raga lainnya:
1. Stamina dinamis.Tidak seperti stamina statis seperti pada olah raga lainnya seperti angkat besi, pencak melatih stamina kita untuk bergerak aktif.

2. Stamina dari seluruh tubuh.Pencak Silat melibatkan seluruh bagian tubuh kita. Kebanyakan olah raga lain menitik beratkan pada salah satu atau beberapa bagian tubuh saja. Pelatihan termasuk kelenturan dan koordinasi gerak serta keseimbangan disamping nilai estetikanya.

3. Stamina dari metabolisme aerobic (oxygenic) dan anaerobic.Pencak Silat merupakan olah raga yang memiliki kombinasi metabolisme aerobic dan anaerobic. Tidak seperti dalam olah raga marathon yang 98% membutuhkan metabolisme aerobic.

4. Stamina terhadap kecepatan.Dalam peragaan serang bela dibutuhkan stamina kecepatan yang tinggi dan percepatan / impulse yang terkendali.

5. Stamina terhadap daya tahan pukulan.Hal yang specific untuk jenis olah raga bela diri, yang mana kita perlu juga melatih ketahanan terhadap pukulan dan bantingan.

Disamping itu, Pencak Silat juga memiliki kelebihan dalam membina jiwa / mental kita, yang membedakannya dari jenis olah raga lainnya;
1. Menambah kepercayaan diri.
2. Disamping fisik juga melatih mental dan pikiran kita.
3. Menimbulkan kewaspadaan yang tinggi.
4. Memupuk kegesitan dan kelincahan mental.
5. Lebih menumbuhkan jiwa ksatria.
6.Mempertebal kedisiplinan dan keuletan yang lebih tinggi karena sifat latihannya yang sulit dan lama.
7.Melatih kita untuk lebih banyak berpikir disamping hanya sekedar menggunakan otot belaka.

Dari segi pengetahuan, kita juga akan lebih mengenal dan mengetahui bagian-bagian tubuh kita baik fungsi serta kelebihan dan kelemahannya. Dalam tingkat yang lebih tinggi, kita bisa merasakan adanya aliran energy melalui saluran energy (meridian) kita. Hal yang terakhir ini sangatlah membantu kita untuk mempelajari tenaga dalam dan meditasi.

Disamping itu, dari segi pengetahuan kita juga lebih memahami hukum-hukum fisika mekanika yang dapat dirasakan secara langsung dalam aplikasi jurus-jurusnya. Dan bila kita berpikir mengenai teknik, maka juga tidak lepas dari konsep strategi, yang mana merupakan suatu konsep yang tidak terlepas dari mempelajari kejiwaan manusia beserta tingkah lakunya. Mempelajari lebih jauh lagi, kita akan mulai tertarik pada kefilsafatan.

Pendek kata dapat disimpulkan bahwa berlatih Pencak Silat akan memberikan jalan untuk lebih maju setahap lagi dalam menjaga kesehatan kita. Mungkin tak terbayang memang jika sebenarnya pengembangan olah raga prestasi pada sebuah Sekolah dapat melahirkan kebijakan menjaring atlet pada tahun ajaran baru untuk memperkuat barisan atlet di sekolah.

Di balik itu semua, ada kecenderungan untuk meraih publikasi yang luas melalui prestasi olah raga dan ini bisa menjadi ukuran keberhasilan sebuah sekolah. Berburu atau meminang calon atlet setiap tahun ajaran baru dilakukan untuk membela tanah air bernama sekolah diperlukan untuk event olah raga Porseni. Kontinuitas pembinaan olah raga prestasi di Sekolah muaranya akan melahirkan atlet pembela nama daerah, nama bangsa dan negara. Semangat sekolah semacam ini -tidak hanya dalam bidang olah raga — membuat posisi kesenian – dan pelestarian kebudayaan bangsa sekolah menjadi sebuah pertanyaan bagi kita.

Apa itu Pencak Silat ?

Beberapa waktu lalu, seperti yang pernah di muat oleh satu wartawan Surat kabar Kompas bahwa PENCAK silat merupakan seni bela diri produk Melayu yang keberadaannya patut untuk di lestarikan. Ketua Persilat (Persekutuan Silat Antar Bangsa), Eddie M Nalapraya mengakui hal itu. Ditegaskan salah satu program utama dari IPSI (Ikatan Pencak silat Seluruh Indonesia) adalah terus menerus memasyarakatkan Pencak Silat agar tak lagi dianggap sebagai seni bela diri yang ketinggalan jaman.

Pencak Silat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka berarti, permain-an (keahlian) dalam mempertahankan diri dengan kepandaian menangkis, mengelak, dan sebagainya. Silat diartikan sebagai olahraga (permainan) yang didasari ketangkasan menyerang dan membela diri, baik dengan atau tanpa senjata. Bersilat adalah bermain (atau berkelahi) dengan menggunakan ketangkasan menyerang dan mempertahankan diri. Sedangkan Pencak Silat bermakna, kepandaian bertarung dalam pertandingan (atau perkelahian) seni bela diri khas Indonesia.

Menurut President IPSI (Ikatan Pencak Silat Indoneisa) mendefinnisikan Pencak Silat sebagai ketrampilan dan ilmu tentang pola gerak bertenaga yang efektif, indah dan menyehatkan tubuh, yang di jiwai budi pekerti luhur berdasar ketaqwaan kepada Tuhan YME, serta berujuan untuk membentuk ketahanan diri dan memupuk rasa tanggung jawab sosial. Dengan demikian pencak silat bukan ilmu atau keterampilan untuk berkelahi, melainkan suatu beladiri “self defence” atau “martial art”, merupakan suatu perpaduan yang luwes antar scien dan skill dalam bahasa Indonesia disebut kan bahwa pencak silat adalah Indonesia self defence art atau Indonesia martial art.

Dalam arti sesungguhnya, disepakati ada empat aspek yang terkandung dalam Pencak Silat. Yaitu sarana pembinaan mental spiritual, bela diri, olahraga, dan seni yang tidak dapat di pisahkan. Seperti tercermin dalam lambang trisula, di mana ketiga ujungnya mencerminkan unsur seni, bela diri dan olahraga, sementara gagangnya diyakini melambangkan pembinaan mental spiritual.

Sebagai seni, Pencak Silat merupakan wujud perilaku budaya suatu kelompok, yang di dalamnya terkandung unsur adat, tradisi, hingga filsafat. Hal itu menjadi penyebab perbedaan gerakan silat antara suatu daerah dengan daerah lainnya di Tanah Air ini. Demikian pula dengan jenis musik yang mengiringi gerakan-gerakan silat yang seperti tarian lemah gemulai tersebut.

Sebagai olahraga, dalam perkembangannya Pencak Silat melangkah menjadi suatu jenis ‘gerak-badan’, senam atau jurus yang dapat dipertandingkan. Perkembangannya kian pesat, setelah disepakatinya suatu aturan pertandingan olahraga pencak silat, seperti kelas peserta, luas arena, dewan pendekar, dewan hakim, ketua pertandingan, dewan wasit dan juri, lamanya pertandingan setiap babaknya, seragam pertandingan dan sebagainya.

Sebagai bela diri, pencak silat memang tumbuh berawal dari naluri manusia untuk melakukan pembelaan terhadap serangan fisik yang menghampirinya. Seseorang yang menguasai Pencak Silat (pendekar) diharapkan mampu melindungi diri dari setiap serangan, atau bahkan bisa mendahului menyerang untuk menghindari ‘kerusakan’ yang lebih besar.

Seorang pendekar mampu mengembangkan daya tempurnya, sehingga dalam tempo singkat berhasil memenangkan pertarungan. Berarti, dia harus memiliki kemampuan mengatur siasat/strategi bertempur (bahasa Jawa, gelar), baik saat satu lawan satu, atau dikeroyok beberapa orang lawan.
Sebagai pembinaan mental spiritual atau olah batin, lebih banyak ditujukan untuk membentuk sikap dan watak kepribadian. Faktor ajaran agama yang menyertai latihan pencak silat, biasanya berperan besar untuk mengembangkan fungsi ini.

Sulit ditunjukkan secara eksplisit produk dari pembinaan mental spiritual tersebut, namun banyak aktivitas lain yang dihasilkan seperti, penyembuhan spiritual, serta demonstrasi tenaga dalam, yang merupakan wujud dari keberhasilan latihan olah batin. Disamping itu Sebagai seni budaya Bangsa yang berlandaskan Pancasila, Pencak Silat harus berlandaskan kepercayaan terhadap “ke-Esaan Sang Pencipta.

Secara kasat mata memang masih ada perbedaan, yakni di pencak silat didominasi gerakan mirip tarian, sementara pada bela diri yang lain dominan dengan gerakan keras sejak awal hingga selesai. Hal itu masih ditambah teriakan keras (di karate disebut kiai), yang di pencak silat tak begitu akrab dilakukan.
Secara ringkas ada tiga prinsip teknis olahraga Pencak Silat, yakni teknik sambut serangan, penerapan teknik tinggi untuk meraih nilai penuh, serta selalu menggunakan kaidah-kaidah silat. Teknik dan taktik sambut serangan, yakni tindakan saat menerima serangan lawan, dengan menangkis, menghindar, mengelak dan kemudian membalas menyerang.

Dalam setiap gerakan Pencak Silat (sebagai olahraga), unsur-unsur seni dan bela diri tentu harus tercermin. Sedangkan aspek pembinaan mental spiritual sudah terimplementasi di dalamnya. Misalnya, walau tak ada peraturan tertulis, namun seorang pesilat dilarang menyerang lawan yang sedang mengembangkan kaidah-kaidah perguruannya.

Pengembangan Intrakurikuler melalui Muatan Lokal
Sebenarnya, ada banyak hal yang menjerat sekolah bisa dikritisi sebagai lembaga yang kurang kritis dalam pengembangan kompetensi siswa. Terutama, ketika sekolah lebih cenderung melihat satu aspek lebih dominan daripada aspek lain termasuk di dalamnya pengembangan kesenian.

Apalagi dengan beraninya beberapa guru menyimpulkan bahwa kesenian telah dipinggirkan -sebuah bentuk marginalisasi yang kontraproduktif pengembangan nilai lokal. Tapi, betapa bangganya sekolah-sekolah telah menganggap dirinya bertanggung jawab terhadap pengembangan nilai lokal, padahal sikapnya kurang memiliki komitmen dalam pengembangan nilai lokal dalam wujud karya estetis.

Benar, sekolah-sekolah di Bali dalam pengembangan muatan lokal memberi wadah dalam lomba mengarang, melukis, ketrampilan lokal, dll. Mungkin hal nya serupa dengan di Bali setidaknya Pencak Silat dapat pula di kembangkan melalui kurikulum tersebut pada system pendidikan kita.

Jika memang hal itu terlalu resmi dan muluk – muluk bias saja sebelumnya ada semacam masa penyeleksian terlebih dahulu sebelum pencak silat itu menapat posisi yang strategis di sekolah seperti melalui beberapa tahap yakni;

Tahap Pra-formal; Dilakukan semacam uji coba kedalam pencak silat yang belum memenuhi standar teknis yaitu belum dapat memiliki sumber-sumber pendidikan (misalnya guru, prasarana, sarana pendidikan, dsb.) yang memadai untuk menyelenggarakan pelayanan pendidikan secara minimal.

Untuk dapat mulai dikembangkan kemampuannya, melaui satuan-satuan pendidkan ini perlu dilengkapi fasilitas minimal ada pengenalan terlebih dahulu di lingkungan sekolah, yang mungkin saja melalui kalangan dewasa atau jajaran para guru dapat dinaikkan tahap berikutnya, yaitu Tahap Formalitas.

Tahap Formalitas; Setelah melewati taham sebelunya di harapkan mereka sudah memiliki sumber-sumber pendidikan yang telah melakukan pengujian agar bias memberikan gambaran pentingnya olahraga pencak silat ini meski masih secara minimal. Dengan begitu Satuan-satuan pendidikan ini sudah mencapai standar teknis secara minimal, seperti dalam jumlah dan kualifikasi guru yang telah mengenal Silat, kualifikasi penyediaan sarana latihan, dan kualifikasi system yang akan di terapkan secara terpadu pada lingkungan Sekolah.

Terhadap satuan-satuan pendidikan yang sudah mencapai standar minimal teknis ini, capacity building dilakukan melalui peningkatan kemampuan administratur (seperti kepala Sekolah) dan pelaksana pendidikan (seperti guru-guru, instruktur, tutor, dsb.) agar dapat melaksanakan pengelolaan pendidikan Pencak Silat di sekolah secara efisien serta dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

Jika pengembangan kemampuan ini sudah berhasil dilakukan, maka satuan-satuan pendidikan ini dapat ditingkatkan tahap perkembangannya berikutnya, yaitu Tahap Transisional- dan Pengembangan.

Menciptakan Generasi Muda Yang Berprestasi
Daya pikir, kreativitas dan inovasi manusia akan terbatas manakala fisik manusia berada pada kondisi sakit. Manusia tidak akan banyak berbuat apa-apa dan tidak akan mampu membangun apa pun tanpa didukung kesehatan fisik yang prima. Saat ini pemerintah daerah masih melihat olah raga hanya bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari yang kurang mendapat sentuhan, sedangkan rumah sakit dibangun di sana-sini untuk mengobati yang sakit.

Padahal, mencegah lebih baik daripada mengobati. Pembinaan olah raga prestasi juga terkadang hanya sibuk manakala menghadapi event Porda, PON saja, pembinaan yang serius tidak ditampakkan oleh pemerintah daerah. Belum lagi, penghargaan terhadap atlet berprestasi dan sudah mengharumkan Kabupatenpun masih terbatas dan sesaat.
Untuk mendorong terciptanya masyarakat maju dan mandiri, agar mampu menjadi subjek pembangunan dalam kerangka otonomi daerah dan isu globalisasi, perlu terus dilakukan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satu bentuk usaha peningkatan kualitas manusia tersebut bisa dilakukan melalui pemberdayaan generasi muda dan olah raga.

Usaha pemberdayaan generasi muda, meliputi pembinaan dan peningkatan partisipasi pemuda yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pemuda sebagai insan pelopor penggerak pembangunan dan sumber daya manusia yang mampu menghadapi berbagai tantangan dan memanfaatkan peluang untuk berperan serta dalam pembangunan.

Usaha dalam bidang pelestarian olah raga seperti Pencak Silat prestasi, meliputi pengembangan kebijakan dan manajemen olah raga pencak silat, pembinaan dan pemasyarakatan olah raga tersebut dan peningkatan sarana dan prasarana olah raganya.

Tujuan pengembangan kebijakan dan manajemen olah raga pencak silat prestasi, adalah untuk mengembangkan dan menyelaraskan berbagai kebijakan pembangunan olah raga, serta memperkuat kelembagaan olah raga pencak silat dan Tujuan pembinaan dan pemasyarakatan olah raga pencak silat prestasi adalah untuk meningkatkan budaya olah raga, kesehatan jasmani, mental dan rohani masyarakat dan anak didik mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga tinggi.

Selain itu, untuk mendorong dan menggerakan masyarakat agar lebih memahami dan menghayati langsung hakikat dan manfaat olah raga Pencak Silat sebagai kebutuhan hidup, meningkatkan kegiatan olah raga termasuk olah raga masyarakat dan olah raga tradisional, meningkatkan upaya pemanduan bakat dan pembibitan olah raga Pencak Silat sejak dini usia, serta mendukung upaya pencapaian prestasi olah raga.

Sedangkan tujuan peningkatan sarana dan prasarana olah raga Pencak Silat adalah untuk menyediakan, mengadakan, dan membangun sarana dan prasarana olah raga pencak silat untuk mendukung kegiatan pembinaan dan pengembangan olah raga, serta pencapaian prestasi olah raga Pencak Silat.

Penutup
Untuk bisa menjawab sebuah cita-cita yang patut di perjuangkan ini, harus di lakukan berbagai perubahan dan perbaikan di semua pihak dengan tulus dan terbuka agar niat baik yang terkandung di balik upaya pengembangan dan pelestarian pencak silat dapat terwujud;

1. Persepsi Kepala Sekolah
Melalui kerja sama dengan orang tua, guru dan masyarakat sekitar sekolah, kepala sekolah mengatur keuangan untuk program pengembangan kuriklum ekstra/intra-kulikuler di sekolah. Dia membuat sistem manajemen sekolah setransparan mungkin agar dapat memperoleh kepercayaan dari orang tua. Kemudian kepala sekolah giat meningkatkan hubungan antara orang tua, guru dan siswa. Di dalam program pengembangan, kepala sekolah melaksanakan program ekstrakurikuler sebanyak mungkin agar dapat memenuhi kebutuhan siswa dan masyarakat.

Sebagai dari inisiatif ini, peranserta guru dan siswa dalam manajemen sekolah meningkat. Kepala sekolah memperkenalkan gaya baru manajemen sosial untuk mengenalkan pencak silat kepada guru dan orang tua. Ia membentuk panitia yang melibatkan semua pemegang peranan dalam proses pengembangan olah raga dan pencak silat sekolah.
Semua panitia memiliki hubungan sejawat yang ikhlas. Koordinasi dikelola oleh salah satu wakil kepala sekolah. Dalam beberapa kasus yang melibatkan siswa mereka berperanserta dalam panitia tersebut dan bekerjasama dengan guru. Pembetukan perwakilan guru dilakukan untuk meningkatkan peranserta kelas.

Disamping unsur diatas Kepala Kekolah juga dapat menjalin hubungan yang baik antara Sekolah dan perguran. Ada hal penting yang telah dapat di pelajari dari pelatihan Pencak Silat tersebut adalah: agar tidak terjadi simpang siuran wewenang antara pihak perguruan dan sekolah terkait pelaksanaan kegiatan tersebut, dalam hal ini perguruan di harapkan mengikuti jadwal dan peraturan atau kebijakan sesuai yang di tentukan oleh sekolah yang tujuannya agar pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

2. Perubahan Yang Dibuat

a. Fasilitas/ Kegiatan Ekstrakulikuler Sekolah
Berbagai fasilitas sangatlah perlu untuk di adakan guna mendukung terlaksananya kegiatan, tidak hanya Pencak Silat saja tetapi juga Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler lainnya termasuk kegiatan kepemudaan serta untuk memperkenalkan berbagai ketrampilan kegiatan yang dapat membuka peluang dalam dunia kerja minimal ditingkatkan untuk dapat memenuhi berbagai permintaan siswa, baik untuk akademik maupun jalur kejuruan.

Salah satu contoh pada ekstrakulikuler Pencak Silat penyediaan sarana olah raga sangatlah mendukung untuk dapat mencapai target yang di inginkan serta meminimalisasi kecelakaan yang mungkin timbul, seperti adanya matras dan body protector yang di berlukan pada saat berlatih. Sebagai hasilnya, mereka lebih antusias terhadap pekerjaan dan bekerjasama dengan guru dan orang tua siswa lebih efektif.

b. Kepala Sekolah
Kepala Sekolah dapat dinilai dengan melihat berbagai perubahan positif di Sekolah, Kepala Sekolah di harap merupakan yang paling berhasil dalam bidang manajemen perubahan. Ia mendorong guru untuk lebih kreatif dan memberikan tanggung jawab kepada staf untuk mengontrol bersama kegiatan ekstrakulikuler, dan merubah persepsi yang negative terhadap kegiatan ini termasuk menjaga hubungan baik dengan perguruan. Dia mengajak semua pemegang peranan untuk berperanserta dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan persoalan-persoalan sekolah.

c. Guru
Sikap guru di harap meningkat secara jelas dan kehadiran mereka juga meningkat. Mereka lebih mendukung siswa dan antusias sekali dalam mengajar. Melalui dorongan Kepala Sekolah, para guru lebih siap mendukung pelaksanakan berbagai metode pengajaran yang kreatif. Ketika hendak melakukan pendekatan baru di dalam kelas, para guru bertanggung jawab untuk membuat usaha yang memadai agar dapat melakukan evaluasi terhadap keefektifan kegiatan Pencak Silat yang mereka ikuti, agar para siswa dapat terhindar dari kegiatan yang negative di luar sekolah dengan mengarahkan mereka dengan pengetahuan dan ketrampilan beladiri yang dimiliki kearah fungsi olah raga prestasi Sekolah.

d. Siswa
Sikap siswa kelihatannya telah meningkat secara positif. Kini siswa berada di sekolah lebih lama, walaupun sarana angkutan yang tersedia sangat terbatas dan keadaan cuaca telah membatasi waktu mereka. Mereka memiliki kesempatan untuk meningkatkan ketrampilan mereka dalam olahraga dan kebudayaan bangsa sendiri. Peranserta siswa di dalam kegiatan beragamapun di harapkan meningkat pula, dan banyak siswa perempuan yang ikut belajar untuk mengantisipasi pelaku kejahatan pada diri mereka. Kini para siswa diberi lebih banyak kesempatan untuk mengenal, mempelajari dan merubah persepsi tentang olah raga pencak silat yang ternyata layak juga untuk di kembangkan.

e. Hubungan dengan Masyarakat
Melalui kegiatan ini yang di lakukan dengan system yang jitu, di harapkan dapat menekan angka tawuran di lingkunag Sekolah atau kegiatan negative lainnya yang kerap merubah reputasi siswa dan selanjutnya dapat menjaga “good will” sekolah di mata masyarakat.

Hal lain, kegiatan ini juga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Sekolah dapat terlihat ketika seorang siswa ketinggalan uang sakunya untuk menaiki kendaraan umum maka supir membiarkan siswa tersebut untuk membayarnya di lain waktu karena nama baik dan nilai-nilai negative yang lazim ada pada siswa telah sedikit-sedikit terkikis. Masyarakat juga menjamin keamanan sekolah dengan memantau siswa atau tamu-tamu yang tak dikenal.

f. Orang Tua
Peran serta orang tuapun sangat di yakini meningkat. Mereka menunjukkan kepeduliannya terhadap progam yang telah diusulkan oleh Sekolah. Hal ini terjadi karena prestasi sekolah ini yang meningkat. Orang tua dan para guru bertatap muka untuk membahas kembali program siswa paling sedikit sekali pada setiap cawu untuk mengevaluasi kepositifan kegiatan ini serta sejauh mana dapat mempengaruhi prestasi siswa didik tentunya. Sebagian besar orang tua hanya mendapatkan pendidikan yang terbatas dan mereka menganggap bahwa pendidikan adalah persiapan untuk membina anak-anak yang di harapkan bagi bangsa.

Kegiatan intrakurikuler dan ekstrakulikuler saja mungkin tidak akan cukup untuk membantu siswa dapat mengembangkan bakat, pengetahuan, dan keahlian yang dimilikinya. Justru peranan manajemen Sekolah dalam mengembangkan sistem belajar mengajar akan sangat menentukan. Selain itu, peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar juga menjadi faktor penting dalam hal ini.

Disamping itu kebijakan peningkatan keberdayaan generasi muda dan olah raga Pencak Silat dapat juga di laksanakan dengan tujuan;
1). Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan, kepemimpinan, dan kepeloporan.
2). Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda.
3). Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan.
4). Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda.
5). Pemasyarakatan olah raga pencak silat .
6). Peningkatan prestasi olah raga pencak silat.
7). Peningkatan sarana dan prasarana olah raga pencak silat di masyarakat.
8). Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga pencak silat di sekolah.
9). Pengembangan wawasan olah raga pencak silat secara terpadu.
Beragamnya kegiatan ekskul yang diadakan di sekolah bagi orang tua, dimaksudkan agar para siswa terhindar dari tawuran, di samping untuk meningkatkan prestasi siswa. Ada sebuah nilai yang sangat berharga dari cerita diatas bahwa keahlian, pengetahuan, bakat, dan pengalaman hanya dapat bermanfaat jika seseorang berada ditempat yang tepat.

Kebijakan sekolah sangat mempengaruhi semua pihak di sekolah, baik siswa maupun guru mungkin saja masyarakat. Ketika sekolah membuat sebuah kebijakan atau peraturan sebaiknya juga melibatkan pihak yang didasar oleh peraturan dan kebijakan tersebut. Mungkin tidak terlibat langsung, tetapi setidaknya manajemen sekolah harus mendengar aspirasi guru maupun siswa.

Kasus yang banyak terjadi sekolah-sekolah, seringkali kebijakan dan peraturan sekolah hanya tergantung dari keputusan dari Kepala sekolah dan para Wakasek saja. Hal ini bisa saja dibenarkan karena secara struktural memang Kepala sekolah adalah decision maker. Tetapi yang perlu diingat adalah sekolah bukan hanya milik kepala sekolah dan para wakilnya saja.

Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah sekolahh kita sudah mampu menyediakan tempat yang tepat bagi para siswanya untuk dapat mengembangkan keahlian dan bakat, menimba pengalaman dan pengetahuan, tidak hanya sebatas dari segi akademis saja? ***(16/08/06).

By Masezra danu lelana
Anggota Milist Silat Bogor
Dan Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia

http://lembahlawe.blogspot.com

www.silatindonesia.com

Oktober 21, 2006 at 7:52 am Tinggalkan Komentar

CIKALONGAN GARIS PERGURUAN PANCER BUMI

Keunikan ilmu pencak silat tradisional memang di akui di seluruh dunia khususnya negara-negara telah akrab dengan beladiri khas melayu seperti Indonesia. Termasuk Jawa Barat ikut andil menjadi salah satu kiblat untuk belajar ilmu beladiri ini, banyak berbagai perguruan lahir disana dari berbagai aliran yang ada seperti Cimande, Cikaret, Bandrong, Serak, Syahbandar, Pacilongan termasuk aliran Cikalongan.

Semuanya, menjadi pilihan yang sangat sulit bagi pecinta pencak silat yang berniat mendalami salah satu budaya nenek moyang bangsa Indonesia, karena semuanya sama-sama memiliki nama dan peringkat yang sangat bagus di dunia persilatan, serta dengan beragam karakter yang khas antara yang satu dengan lainnya.

Diantara sekian banyak aliran Cikalongan ada diantaranya yang memiliki ciri silsilah yang cukup nyata dari H. Ibrahim (Seorang Bangsawan Cianjur) yang kemudian menjadi warisan tokoh Cikalongan sekarang yaitu H. Aceng dan H. Aziz Syar’ie, dengan perguruan Pancer Bumi asuhannya untuk lebih bisa di bedakan bahwasanya kaidah ilmu aliran cikalong yang beliau kembangkan adalah aseli serta memiliki silsilah langsung dari H. Ibrahim.

Secara garis besar Aliran Cikalong-Pancer Bumi memiliki 10 Jurus , antara lain yang lazim terdengar di khasanah silat Jawa Barat adalah Suliwa, Kocet, dan Tomplok. Walaupun hanya terdiri dari 10 jurus tetapi apabila telah dilakukan penggabungan dan pendalaman, aplikasi dari sepuluh jurus tersebut menjadi tidak terbatas banyaknya, hal ini karena aplikasi dari jurus-jurus cikalong disesuaikan dengan kondisi dan masalah yang dihadapi.

Dalam mempelajari ilmu Cikalongan-Pancer Bumi para murid akan mendapatkan 3 pelajaran pokok ;
- Mempelajari karakter lawan
- Kekuatan lawan
- Rasa lawan

yang ketiga inilah yang harus di pelajari dengan serius karena rasa tidaklah sama antara orang yang satu dengan lainnya, termasuk dari nama perguruan Cikalong bisa saja nama namun rasa antara cikalong yang satu dengan lainnya pasti berbeda-beda.

Cikalongan-Pancerbumi didirikan oleh H. Aceng dan Haji Aziz, tidak bertujuan komersil namun masih memegang tradisi yang masih kuat yaitu masih mengacu pada amanah/titipan dalam menurunkan ilmunya kepada orang lain, jadi tidak semua orang dapat mempelajari aliran ini, selain harus beragama Islam dirinya pun harus bisa di percaya untuk memegang amanah perguruan untuk melestarikan ilmu yang dimiliki dengan bijak dan tidak takabur.

Disamping itu orang-orang yang mempelajari Cikalongan tingkat tinggi, pada dirinya bukanlah kesombongan dan berani memamerkan kebolehannya justru malah sebaliknya mereka akan memiliki ‘rasa takut’ lebih dalam terhadap orang lain, dalam arti takut dalam hal yang baik seperti takut menyakiti, takut menyinggung dan takut merugikan orang lain.

Maka dari itu banyak manfaat yang dapat di petik dari belajar ilmu Cikalongan selain badan sehat namun mental dan moralpun tidak lah bejat. Hal ini di karenakan dalam tujuannya pembelajaran ilmu Cikalongan-Pancer Bumi yang utama adalah untuk membentuk membentuk suatu karakter atau perilaku yang baik, jujur, sabar serta bertanggung jawab dalam menghadapi masalahnya tanpa merugikan orang lain.

‘Walaupun tidak di pungkiri bahwa manfaat dari beladiri adalah untuk membela diri, akan tetapi disini adalah Membeladiri bukan untuk mencelakai lawan, namun Membeladiri dan menyelamatkan lawan’ itulah moto perguruan Cikalongan-PancerBumi.
**
(Dari hasil wawancara dengan H. Aziz Syar’ie di Padepokan Pencak Silat, TMII-Jkt,9/06/06).

Oleh : Mas ezra danu lana
silatindonesia.com
Anggota Forum ecinta Dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia

http://lembahlawe.blogspot.com/

PROFIL CIKALONGANGARIS PERGURUAN PANCER BUMI
ASUHAN H. ACENG DAN H. AZIZ SYAR’IE – CIANJUR

Oktober 21, 2006 at 7:50 am Tinggalkan Komentar

“Cingkrik Goning” Mainan dari Betawi

Jakarta(12/08/06).Memang kata orang Betawi punye banyak cerite eh…jadi kebetawi-betawian sih ngomongnya, replay ajah !… Memang Betawi punya banyak cerita dan kenangan, tidak hanya punya kenangan pilu tapi juga banyak kenangan yang indah yang patut di ceritakan kembali seperti beladiri yang satu ini, “Mainan Cingkrik Goning” asuhan Bapak Tb. Bambang dari Bekasi.

Minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam pertemuan kecil di Padepokan Pencak Silat Taman Mini, bersama beberapa rekan dari forum Pelestari Pencak Silat Tradisioal Indonesia untuk mendokumentasikan Mainan dari Betawi Cingkrik Goning, Saya datang 10 menit sebelu jadwal yang di tentukan untuk acara tersebut. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit akhirnya datang juga yang di nanti, Rombongan dari Perguruan Beladiri Betawi Cingkrik Goning datang sesuai yang di jadwalkan, di sambut oleh kami selaku forum dan Pak Oong selaku tuan rumah di padepokan.

Tidak hanya kita yang di sana ternyata ada satu orang asing yang datang sesaat sebelum rombongan itu datang, usut punya usut dia punya nama “Rey” bule dari Amerika yang ikut privat latihan pada Bapak TB. Bambang, dengan bahasa Indonesia yang cukup lumayan dengan ramah ia menyapa dan membuka obrolan sebelum peragaan di mulai. Sedikit cerita, selain sebagai pecinta silat Indonesia dia juga pengamat milis silat bogor juga lho, walau dia masih sungkan untuk angkat bicara dalam diskusi via milis dari nada bicara yang pelan penuh kespanan dia menceritakan pengalamannya mencari Guru silat di Indonesia sampai akhirnya dia belajar “Cingkrik Goning” sekarang.

Sesaat berselang stelah semuanya siap kami akhirnya memulai cara inti, peragaan pertama di lakukan sendiri oleh Guru Besar Cingkrik Goning, dengan bersemangat akhirnya beliau menyelesaikan peragaan ke -12 jurus Cingkrik padahal tadinya cuman 10 lho, di tambah dari muridnya ada 5 jurus yang di peragakan. Dilanjutkan dengan aplikasi beladiri praktis dengan aplikasi teknik-teknik yang cukup unik, sebagai Sebagai sparing partner dari forum di wakili oleh Mas Iwan Setiawan yang kebetulan ikut hadir sebelum berangkat mengajar di tempat yang tidak jauh dari padepokan.

Melihat beberapa teknik yang sempat di peragakan, pasti semua yang hadir merasa tertipu dengan penampilan Bapak TB. Bambang yang kecil dan tidak tinggi namun beliau dengan mudah menjatuhkan lawan sparingnya yang lumayan berat posturnya di banding beliau, tak ayal Mas Iwan yang merasa penasaran ingin menjajal kebolehan sang guru besar, akhirnya lagi-lagi dapat di jatuhkan dengan 1 atau 2 langkah dalam hitungan detik.
Diselingi tawa penonton mereka pun terus mencoba aplikasi teknik dari Mainan Cingkrik terutama si Sparing partner yang terus ingin menghilangkan asa penasarannya walau akhirnya sambil tertawa bersama merka sama-sama menyerah dan menyudahi peragaan itu, terang ajah satu kecapean karena sudah umur dan yang satu lagi sudah jelas kalau dia sudah cukup, mungkin saja kapok ya … karena jatuh-bangun terus, he… jadi kaya lagu…(…”jatuh bangun aku, menyerang mu….”ups maaf…?)

Usai pragaan sambil berbincang kami semua melepas kelelahan dengan tawa, kebetulan ada ada dua tokoh silat lagi yang hadir “Pak Edward” dan “Pak Saukat” dari Tanah Abang yang akrab di kenal sebagai Mr. Popeye julukan yang di berikan oleh orang-orang yang dekat dengan beliau karena tangan beliau yang besar membentuk tangan Popeye si tokoh kartun yang “macho”. Kehadirannya memberikan suasana kehangatan tersendiri karena dari pada pertemuan itu memberika moment tersendiri ke-3 sahabat (Pak Oong, Pak Edward, Pak Saukat) untuk saling curhat dan dari cerita mereka membuat yang muda seperti Saya ikut terbawa dalam tawa.

Sore itu juga kami menyempatkan diri untuk turut mewawancari Pak TB. Bambang selaku guru besar, dari sana kta mendapatkan informasi lansung dari belay seputar cerita mengenai Beladiri Cingkrik Goning yaang dimilikinya. Menurut penutuannya bahwasanya Cingkrik tidak lah ada satu namun ada dua yakni Goning dan Sinan (Cina-an), kedua beladiri ini pun memilik kekhasan masing-masing yang mencolok adalah bahwasanya Cingkrik Sinan tidak hanya mengandalkan teknik kekuatan fisik tapi juga ada unsure tenaga dalam serta mystic, lain halnya dengan Cingkrik Goning yang hanya menggunakan aplikasi teknik fisik semata.

Meski hanya mengandalkan kekuatan fisik Cingkrik Goning mempunyai ciri khas yang patut di perhatikan bagi mereka yang hendak mempelajarinya, yaitu dalam melatih jurus atau gerakan harus lah di latih Kecepatan dan Ketepatan gerak karena itu sangat mendukung pada saat pertarungan menurut pewaris Beladiri Cingkrik langsung dari Engkong Goning yang di sinyalir sebagai pewaris terakhir setelah gurunya wafat.

Bagi yang hendak belajar prosedurnya tidaklah sulit bahkan terjangkau biayanya bagi kalangan bawah dengan iuran perbulan yang tidak mahal, apabila serius berlatih akan mendapat pelajaran sesuai dengan kurikulum perguruan; Jurus dasar (1-12), Jurus bantingan (8), dan dilanjutkan dengan materi Jurus sambut serta teknik jual beli (serang bela) yang semuanya berjumlah 80 jurus. Pak TB. Bambang selain mengadakan pelatihan regular juga menerima murid privat tentunya bagi mereka yang hendak belajar harus mengikuti ritual penerimaan perguruan terlebih dahulu, di jamin pada aplikasi pertarungan “kalo tidak jatuh terlentang si lawan ya tengkurep” katanya di sambut tertawa anggota forum yang ngobrol bareng beliau.

Melihat perkembangan pencak silat di Indonesia yang semakin kritis serta keberadaan Beladiri Betawi yang mulai terkikis dan terancam punah, Cingkrik goning pun pernah mengalami kevakuman selama ± 14 tahun kata praktisi beladiri betawi yang telah mendalami sejak Tahun 1966 ini, mempunyai harapan “…bahwasanya generasi muda bangsa supaya lebih giat, percaya diri dan hendaknya bersedia untuk lebih menonjolkan beladiri negeri sendiri…” karena tidak lain melalui generasi mudalah kelestarian pencak silat budaya bangsa Indonesia ini akan maju atau mundur nantinya.

by : masezra danulana
Anggota Milis SilatBogor
sumber : silatindonesia.com

Oktober 21, 2006 at 7:47 am 1 komentar

Icon 5 Benua, 4 Samudera

Pondok Klapa, 2 Agustus 2006. Gremisan (Gendu-gendu Rasa Malam Kemisan)
Mungkin pantas menjadi sebuah kebanggaan serta menguarangi rasa cemas bahwasanya pencak silat yang kita miliki tidaklah punah di mankan zaman, ternyata masih ada pecintanya yang terus berusaha mengembangkan dan melestarikannya walau tinggal segelintir saja.
Belum hilang dalam ingatan kita saat sebuah opini dan pandangan di satukan untuk membentuk satu tujuan bersama demi kepentingan bersama, tidaklah mudah dibayangkan menyatukan sebuah visi dan pandangan yang berbeda dari individu yang berbeda dan sangat beragam baik status social, gaya hidup serta kepribadian. Namun semua itu tidak terlalu nampak di temui dalam acara pembentukan forum yang beranggotakan praktis sekaligus pecinta silat baik yang masih tradisional ataupun yang telah beradaptasi dalam moderenisasi.
Eksistensi, Komitment, Semangat, dan percaya diri, adalah sebagian bekal yang dibutuhkan untuk sebuah organisasi yang baru lahir dan masih dalam tahap asuhan apalagi lahir tidak hanya asal lahir namun terlahir di tengah kompleksitas dan perubahan generasi suatau bangsa yang sedang berkembang.
Hal ini patut di persiapkan dan harus tersosialisasi secara lebih mendekat sesuai sasaran terhadap kader-kadernya sendiri sebagai contoh dalam kader Forum Pecinta Dan Pelestari Pencak Silat Tradisional (P2PST), sebuah wadah yang resmi didirikan beberapa waktu lalu di Jakarta.
Tujuannya jelas, supaya organisasi yang telah di bentuk tidaklah menjadi sebuah wadah dengan nama megah lalu sesaat hilang tanpa kabar, tetapi diharapkan menjadi organisasi yang besar , kreatif dan tetap eksis dan terus bersemangat berkarya, terlebih memiliki peran ganda di tengah masayarakat yaitu selain menjalankan program organisasi namun juga dapat menjadi obor bagi masayarakat untuk mentransfer sebuah ilmu pengetahuan untuk berperanserta membantu meningkatkan SDM organisasi ataupun masyarakat luas.

Icon 5 Benua, 4 Samudera

Lama tinggal di negeri orang dengan berbagai kultur serta tradisi masyarakat yang berbeda termasuk beladiri khasnya tidak membuat Oong Sumaryono lupa akan tanah leleuhurnya Indonesia. Beberapa hari lalu, Master pencak silat yang telah lama malang melintang hampir sekeliling dunia ini hadir kembali dalam lawatan yang ke dua setelah sebelumnya turut hadir dan menjadi penasehat dalam acara pendirian Forum Pecinta dan Pelestari Pencak Silat Tradisional, kali ini beliau hadir di “Lamisan” (Gendu-gendu rasa malam kamis) forum tersebut, yang sementara berbasis di Perumahan Komplek Karyawan DKI Pondok Klapa (rumah Sdr. Eko selaku kordinator organisasi).

Dalam Silaturahmi ini beliau memang menyempatkan diri untuk memberikan wejangan di acara yang menjadi jadwal rutin forum berkaitan dengan program pelatihan main pukulan aliran Sabeni, Tanah abang yang sudah berjalan.
Malam itu figure yang merupakan icon pendorong forum P2PSN ini meberikan wejangan sekaligus menyatakan dukungan moril untuk tetap berada di belakang organisasi yang mempunyai Visi dan Misi untuk melestarikan Pencak silat tradisional, termasuk di dalamnya memberikan saran untuk mengelola pencak silat agar terus di lestarikan dan di kembangkan bersama. Dalam hal ini, forum tetap sebagai jembatan pembantu bagi para pewaris pencak silat tradisional yang memang telah menyatakan kesediaannya untuk mengembangkan pencak silat keluar lingkungan tempat tinggal asalnya secara nyata, terbuka dan bersama-sama.

Suasana pertemuan Lamisan memang lain dari biasanya selain dihadiri mantan juara pencak silat legendaris dunia yang juga mendapat gelar “Dan-3” Tae Kwon Do, di tambah lagi kehadiran 2 (dua) pesilat dari Amsterdam ( ) turut meberikan semangat latihan, diskusi, sekaligus studi banding mengenai metode pengajaran pencak silat Indonesia-belanda. Cara mereka menganalisa gerakpun membuat anggota forum yang hadir tersenyum dan timbul satu niat sama, ada yang perlu diadopsi disana, untuk memperbaiki kekurangan pada metode pembelajaran terutama, menjadi simpati tersendiri saat salah satu dari pesilat bule itu mengatakan bahwa dirinya telah mengenal silat selama 20 tahun,(ketika ada anggota forum yang iseng bertanya dan di terjemahkan dalam bahasa Belanda).
***
Ketika kita membicarakan Silat Maniac pasti terbesit figure seorang murid utama atau murid kesayangan hal itu memang tidak asing pada perguruan pencak silat tradisional, selain itu metode pelatihan system tuntun dalam juga menjadi cirri khas tersendiri disana. Tapi disayangkan pada silat tradisonal yakni miskinya keterbatasan falsafah jurus yang di ajarkan, apalagi pada orang lain sedangkan pada murid utamanya pun belum tentu diberikan separuh dari keseluruhan jurus yang di ajarkan. Padahal orang yang belajar satu jurus dengan mengetahui falsafah jurusnya akan lebih berguna di banding yang banyak belajar tetapi tidak tau makna dan peranan jurusnya.
Selain kurangnya falsafah yang di kupas, pemberian nama pada setiap gerak dan jurus sangat di perlukan untuk memudahkan pemahaman dalam mengingat gerakan yang diterima dari guru (pelatih) bagi siswanya, maka sebaiknya kekurangan itu perlu kita perbaiki seperti dengan jalan; melakukan pendataan pada setiap gerakan pencak, menyusun data base lalu, membuat semacam uarian dan combain dari semua gerak yang telah di data agar memudahkan dalam menganalisa fungsi dan gerakan pada pencak silat tardisional, tentunya dalam hal ini peran laboratorium teknik pencak silat sangat di perlukan.

Peranan ini di harapkan dapat terus meberikan terobosan bagi pencak silat, penelitian dan pengembangan agar pencak silat kita dapat terus di lestarikan setidaknya sampai ke 5(lima) Benua, dan 4(empat) Samudera.

penulis by MsEzraDanuLelaa
silatindonesia.com

Oktober 21, 2006 at 7:45 am Tinggalkan Komentar

Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional

Pencak Silat sebagai seni budaya bangsa Indonesia dan bangsa Asia Tenggara, memang telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, dimana terbukti dengan makin banyaknya peserta dari negara-negara asing yang semakin aktif mengikuti kejuaran-kejuaran lingkup regional maupun non regional, baik yang diselenggarakan oleh komunitas maupun oleh negara dan makin menjamurnya padepokan-padepokan Pencak Silat di negara-negara asing antara lain di Belanda, Perancis, Inggris bahkan Amerika Serikat.

Hal tersebut tentunya menggembirakan bagi komunitas Pencak Silat, apalagi dilakukannya proses standarisasi mulai dari metode pelatihan, jurus dan sistem pertandingan akan menyebabkan semakin mudahnya penyebaran Pencak Silat ke penjuru dunia. Tetapi ditengah-ditengah proses tersebut, ada yang terkesan terlupakan yaitu akar/sumber inspirasi dari Pencak Silat tersebut yaitu Silat Tradisional, yang dengan susah payah berusaha mempertahankan eksistensinya yang semakin memudar baik akibat gencarnya serangan promosi beladiri produk luar, maupun karena kelemahan sistem pengajaran dan kaderisasi dari Silat Tradisional.

(lagi…)

Oktober 21, 2006 at 7:43 am Tinggalkan Komentar

Perpustakaan sebagai Sumber Informasi

Bila anda pernah berkunjung ke padepokan nasional pencak silat ada satu fasilitas yang patut anda kunjungi, terutama bagi anda yang ingin mengasah pengetahuan tentang pencak silat melalui buku-buku maupun artikel yang tersimpan di Perpustakaan (perpus) pencak silat dikawasan padepokan ini.

Perpusatakaan yang terletak disisi kanan kawasan padepokan nasinal pencak silat bersifat umum dapat dikunjungi oleh siapa saja setiap hari kerja mulai pukul 10 sampai dengan pukul 4 sore. Perpustakaan ini menyimpan ratusan buku, artikel, karya ilmiah hingga tesis dan tersedia pula beberapa dokumentasi perguruan yang berkembang di Indonesia. Tidak ketinggalan album foto yang sempat di tangkap kamera dan menjadi saksi sejarah perjalan panjang IPSI khususnya pencak silat Indonesia.

Menurut mas Yitno salah seorang petugas perpus padepokan mengatakan “ Perpustakaan membuka seluas-luasnya kepada masyarkat yang ingin mengetahui mengenai pencak silat melalui wahana buku, walau koleksi buku yang tersedia belumlah begitu banyak namun koleksi tersebut sangat penting, walaupun kami belum mengijinkan koleksinya dipinjam, kami menyarankan pengunjung untuk membawa catatan”.

Pengamatan kami perpus pada hari biasa tidak begitu ramai paling pengunjung perhari masih berkisar satu dua orang saja, namun bila ada event yang besar dipadepokan ini perpus bisa dikunjungi ratusan orang. Sesungguhnya perpus memiliki fungsi yang cukup penting tidak hanya sebagai sumber bacaan namun juga menjadi pusat dokumentasi perkembangan pencak silat di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Bila diperhatikan minat membaca dikalangan pesilat masih dinilai sangat kurang, padahal dijakarta saja jumlah pesilat terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa tidaklah sedikit, namun kenyataannya mereka belumlah menganggap perpus sebagai media untuk menambah wawasan mereka dan ini dibuktikan masih sedikitnya pengunjung dari dua kalangan tersebut. Bila ditinjau kembali minat baca yang kurang dengan minta menulis atau membuat karya tulis belumlah banyak yang ingin menuliskan mengenai pencak silat baik dari kalangan pelajar maupun mahasiswa.

Menurut pak Yitno menambahkan bahwa “Perpus menerima buku-buku maupun artikel mengenai pencak silat, tentunya akan menambah koleksi buku – buku maupun artikel yang tersimpan disini” ujurnya. Dan bagi anda yang ingin berkunjung untuk sekedar melihat-lihat atau ingin mencari beberapa artikel mengenai pencak silat silahkan datang ke perpus padepokan Nasional Pencak Silat, yang pasti anda akan dilayani dengan ramah oleh staff perpus contohnya mas Yitno dkk. (Juli2006)

Koresponden Silatindonesia.com
Yanweka

Oktober 21, 2006 at 7:40 am Tinggalkan Komentar

Tulisan Lebih Lama


HAK CIPTA
Anda dapat mencopy tulisan pada blog ini, anda wajib menuliskan sumber asli dan nama penulisnya. Mari kita hormati Hak Cipta para penulis dan pejuang komunitas pencak silat Indonesia, SemangAT.
Alhamdulillah Jaza Kallahu Khoiro

Tulisan Terkini

Flickr Photos

22112009(008)

syahbandar02

syahbandar01

syahbandar3

More Photos

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 111,508 hits

KOMUNITAS

 

Oktober 2006
S S R K J S M
    Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.